INIPASTI.COM, Pernahkah Anda merasa ditolak, dihina, atau bahkan disakiti saat mencoba melakukan kebaikan? Jika iya, kisah Nabi Muhammad SAW di Thaif bisa menjadi cermin dan sumber kekuatan bagi kita semua. Di balik penderitaan yang beliau alami, tersimpan pelajaran mendalam tentang sabar, tawakal, dan kekuatan doa yang mampu mengubah hati.
Perjalanan Penuh Luka ke Thaif
Pada tahun ke-10 kenabian, setelah kehilangan dua pilar penting dalam hidupnya—istrinya, Khadijah RA, dan pamannya, Abu Thalib—Nabi Muhammad SAW menghadapi tekanan berat dari kaum Quraisy di Makkah. Dalam kondisi terisolasi dan penuh tantangan, beliau memutuskan untuk berdakwah ke Thaif, sebuah kota yang terletak sekitar 100 kilometer dari Makkah. Harapannya sederhana: menemukan dukungan baru untuk menyampaikan risalah Islam.
Namun, apa yang diterima Nabi justru jauh dari harapan. Alih-alih disambut hangat, penduduk Thaif—terutama para pemukanya—menolak ajakan beliau dengan kasar. Tak hanya itu, mereka menghasut anak-anak dan budak untuk melempari Nabi dengan batu hingga kaki beliau berdarah. Zaid bin Haritsah, sahabat yang setia mendampingi, berusaha melindungi Nabi, tetapi luka fisik dan hati tetap tak terhindarkan.
Bayangkan, seorang Rasul yang datang membawa kebenaran harus berjalan tertatih meninggalkan Thaif, dengan tubuh penuh luka dan hati yang barangkali teriris oleh penolakan. Namun, di sinilah keagungan akhlak Nabi bersinar.
Doa yang Lahir dari Hati yang Sabar
Setelah meninggalkan Thaif, Nabi beristirahat di sebuah kebun. Dalam kesendirian dan kepayahan, beliau tidak mengeluh atau mengutuk. Sebaliknya, beliau mengangkat tangan dan memanjatkan doa yang penuh makna:
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan daya upayaku, dan kerendahanku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Tuhanku… Jika tidak ada murka-Mu kepadaku, aku tidak peduli (dengan apa yang menimpaku). Namun, kesehatan (dan keselamatan) dari-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu… Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu.”
Doa ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan jiwa yang penuh tawakal. Nabi tidak meminta balasan buruk bagi penduduk Thaif. Ketika malaikat Jibril datang menawarkan untuk menghancurkan mereka dengan menimpakan gunung, Nabi menolak. Dengan lembut, beliau berkata, “Aku berharap dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah Allah.”
Dan benar, harapan itu terwujud. Beberapa tahun kemudian, penduduk Thaif memeluk Islam dan menjadi bagian dari umat yang setia.
Pelajaran untuk Kita
Kisah Thaif mengajarkan kita beberapa hal yang relevan untuk kehidupan sehari-hari:
- Sabar dalam Penolakan
Tidak semua niat baik akan diterima dengan tangan terbuka. Namun, seperti Nabi, kita diajak untuk tetap sabar dan tidak membalas keburukan dengan keburukan. Sabar bukan berarti lemah, melainkan kekuatan sejati yang lahir dari hati yang ikhlas. - Doa adalah Senjata Terbaik
Dalam situasi tersulit sekalipun, Nabi menunjukkan bahwa doa adalah jalan keluar. Doa beliau di Thaif mengajarkan kita untuk mengadu kepada Allah dengan penuh kerendahan, tanpa kehilangan harapan. - Berpikir Jauh ke Depan
Penolakan hari ini bisa menjadi benih kebaikan di masa depan. Nabi tidak melihat Thaif hanya sebagai musuh, tetapi sebagai potensi umat yang akan berubah. Ini mengingatkan kita untuk tidak cepat menghakimi atau putus asa.
Refleksi Diri
Saat Anda menghadapi hari yang berat—mungkin ditolak dalam pekerjaan, disalahpahami oleh teman, atau merasa usaha Anda sia-sia—ingatlah Thaif. Nabi Muhammad SAW, manusia paling mulia, juga pernah berada di posisi itu. Namun, beliau memilih sabar, berdoa, dan menyerahkan segalanya kepada Allah.
Cobalah amalkan doa Nabi di Thaif saat Anda merasa lemah. Rasakan bagaimana kata-kata itu membawa ketenangan dan kekuatan. Dan yang terpenting, percayalah bahwa di balik setiap kesulitan, Allah telah menyiapkan rencana indah yang mungkin belum kita lihat.
Seperti Thaif yang akhirnya menjadi bagian dari kejayaan Islam, hidup kita pun bisa berubah dari luka menjadi harapan—asalkan kita terus berjalan dengan iman dan kesabaran.