Tradisi Posepa’a di Liya: Warisan Budaya yang Terus Dilestarikan di Tengah Modernisasi

1 day ago 6
Gambar, saat Acara Posepa'a berlangsung (Foto: Amran Mustar Ode / SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: WAKATOBI – Di tengah arus modernisasi yang semakin deras, masyarakat Liya di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, tetap teguh mempertahankan warisan budaya mereka. Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah Posepa’a, sebuah atraksi budaya yang menguji ketangkasan, keberanian, dan kekompakan para pesertanya. Tradisi ini rutin digelar setiap tahun setelah Sholat Idul Fitri dan Idul Adha di lapangan depan Masjid Keraton Liya, menjadi momen yang selalu dinanti oleh masyarakat setempat.

Posepa’a berasal dari bahasa daerah setempat, dengan kata dasar “sepa” yang berarti tendang. Tradisi ini berupa pertarungan tradisional yang melibatkan dua kelompok besar, yiro Wawo (timur) dan yiro Worul (barat), yang bertarung dalam formasi berpegangan tangan. Tujuan dari pertandingan ini adalah untuk memecah formasi lawan dengan teknik tendangan dan gerakan strategis yang mengandalkan kekuatan fisik serta ketahanan tubuh.

Sebelum pertandingan dimulai, acara dibuka dengan tarian perang khas masyarakat Liya, Honari Mosega. Tarian ini melambangkan semangat juang dan menjadi simbol dimulainya Posepa’a. Muh. Agung, salah satu tokoh masyarakat Liya, menjelaskan bahwa pada masa Kesultanan, terdapat dua jenis latihan perang yang diwariskan kepada lelaki Liya, yaitu Honari Mosega dan Posepa’a. Jika Honari Mosega menggunakan tombak dan tameng, maka Posepa’a hanya mengandalkan kaki sebagai senjata dan tangan sebagai pertahanan.

Latihan Posepa’a biasanya dilakukan sepanjang bulan Ramadan, di mana anak-anak hingga orang dewasa turut serta untuk mengasah ketahanan fisik mereka. Menurut Muh. Agung, Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk melatih diri karena kondisi tubuh yang lemah akibat puasa justru menguji ketahanan fisik serta mental para peserta.

“Latihan ini membuat prajurit Liya tetap kuat meskipun berpuasa. Ini adalah bagian dari cara kami menjaga tradisi dan membentuk karakter yang tangguh,” ujar Muh. Agung usai pertandingan Posepa’a pada Senin (31/3/2025).

Posepa’a tidak hanya menjadi ajang uji ketangkasan fisik, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga. Setelah pertandingan berakhir, para peserta saling berjabat tangan dan bermaafan, menandakan bahwa tradisi ini lebih mengedepankan sportivitas, kebersamaan, dan saling menghormati. Bahkan, jika ada peserta yang mengalami cedera, lawan yang menyebabkan cedera tersebut akan datang membantu sebagai bentuk solidaritas.

Lapangan tempat dilaksanakannya Posepa’a dipercaya telah diberkahi oleh leluhur Liya, sehingga diharapkan tidak ada peserta yang mengalami cedera berat atau kejadian yang tidak diinginkan selama pertandingan. Dengan semangat yang terus dijaga, Posepa’a tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Liya, sebagai simbol kekuatan, keberanian, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Laporan: Amran Mustar Ode

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|