Oleh: La Ode Abdul Musawir, S.IP., M.Si.
(Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Halu Oleo)
SULTRAKINI.COM: Silaturahmi Akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) yang berlangsung di kawasan Tugu Eks MTQ Kendari pada 19 Juli 2026 merupakan peristiwa budaya yang memiliki makna penting bagi masyarakat Muna dan masyarakat Sulawesi Tenggara dalam menjaga ikatan sosial serta identitas kultural di tengah perubahan zaman. Kegiatan tersebut bukan sekadar pertemuan masyarakat dalam jumlah besar, tetapi menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan ingatan kolektif, nilai persaudaraan, dan kebanggaan terhadap warisan budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Jika dilihat lebih mendalam, Silaturahmi Akbar tersebut menghadirkan pesan sosial yang lebih luas. Kegiatan ini menunjukkan bahwa budaya memiliki kekuatan untuk mempertemukan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda, baik dari sisi profesi, generasi, maupun tempat tinggal. Di tengah kehidupan modern yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi komunikasi, ruang perjumpaan secara langsung seperti ini memiliki arti penting karena hubungan sosial tidak hanya dibangun melalui interaksi digital, tetapi juga melalui kedekatan yang lahir dari pertemuan nyata.
Modernisasi memang memberikan banyak kemudahan dalam membangun komunikasi. Media sosial mampu menghubungkan manusia tanpa batas ruang dan waktu. Akan tetapi, kemajuan teknologi juga membawa tantangan tersendiri, yaitu berkurangnya ruang interaksi langsung yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Dalam kondisi tersebut, kegiatan budaya seperti Silaturahmi Akbar menjadi pengingat bahwa manusia tetap membutuhkan ruang kebersamaan untuk memperkuat rasa memiliki terhadap identitas sosialnya.
Clifford Geertz (1973) menjelaskan bahwa kebudayaan merupakan webs of significance atau jaringan makna yang dibangun manusia dalam kehidupan sosialnya. Kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan tradisi yang diwariskan, tetapi juga bagaimana masyarakat memberi makna terhadap simbol, nilai, dan pengalaman bersama. Dalam konteks tersebut, Silaturahmi Akbar KKMM dapat dipahami sebagai ruang komunikasi budaya yang mempertemukan simbol-simbol identitas Muna dengan pengalaman sosial masyarakatnya.
Dalam perspektif komunikasi budaya, berbagai unsur yang hadir dalam kegiatan tersebut memiliki pesan simbolik. Pakaian adat yang digunakan bukan hanya sekadar tampilan budaya, tetapi menjadi penanda identitas dan kebanggaan. Hidangan tradisional yang disajikan bukan hanya persoalan makanan, tetapi menjadi simbol penghormatan, kebersamaan, dan semangat berbagi. Bahkan, sapaan, senyuman, berjabat tangan, serta kebiasaan duduk bersama menjadi bentuk komunikasi yang memperkuat hubungan sosial.
Meski demikian, terdapat tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama. Kegiatan budaya akan kehilangan makna apabila hanya berhenti pada momentum seremonial. Budaya tidak cukup hanya ditampilkan pada acara besar, tetapi perlu hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari. Kebudayaan harus mampu menjawab kebutuhan generasi muda yang hidup dalam lingkungan digital dan perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Silaturahmi budaya perlu diarahkan menjadi gerakan yang memiliki keberlanjutan. Karena itu, energi kebersamaan yang muncul dalam Silaturahmi Akbar perlu diterjemahkan ke dalam berbagai program nyata, misalnya penguatan pendidikan budaya bagi generasi muda, pelestarian bahasa daerah, pengembangan seni tradisional, serta penguatan ekonomi berbasis budaya.
Kegiatan seperti ini memiliki potensi besar sebagai modal sosial bagi pembangunan daerah. Robert D. Putnam (2000) menjelaskan bahwa modal sosial yang dibangun melalui kepercayaan, jaringan sosial, dan nilai kebersamaan dapat memperkuat kemampuan masyarakat untuk bekerja sama. Dalam konteks tersebut, komunitas budaya tidak hanya menjadi ruang mempertahankan identitas, tetapi juga dapat menjadi kekuatan sosial yang mendukung pembangunan. Oleh karena itu, silaturahmi perlu menjadi pintu masuk bagi lahirnya gerakan sosial yang lebih luas.
Silaturahmi Akbar KKMM memberikan pelajaran bahwa budaya memiliki kekuatan besar dalam menyatukan masyarakat dan menjadi fondasi penting dalam membangun masa depan bersama. Kebudayaan akan terus tumbuh ketika dirawat dengan komitmen, kreativitas, dan semangat kolaborasi lintas generasi. Momentum Silaturahmi Akbar ini bukan hanya menjadi ruang mempererat persaudaraan, tetapi juga menjadi energi baru untuk melangkah ke depan, menjaga warisan leluhur, memperkuat identitas, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat. Nilai-nilai kebersamaan yang terbangun dalam pertemuan tersebut diharapkan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk membangun daerah dengan semangat persatuan.***

16 hours ago
12
















































