Mahasiswa UHO Kembangkan Kacamata Pintar LEXILIGHT, Bantu Anak Disleksia Membaca

2 hours ago 4

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Lima mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) mengembangkan kacamata pintar berbasis Augmented Reality (AR) bernama LEXILIGHT untuk membantu anak dengan disleksia membaca secara lebih terarah. Inovasi ini menjadi bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) Tahun 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Program Kreativitas Mahasiswa merupakan program pengembangan kreativitas dan inovasi mahasiswa yang mencakup berbagai bidang, tidak hanya teknologi. Melalui program ini, mahasiswa dapat mengembangkan gagasan di bidang karsa cipta, kewirausahaan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan bidang lainnya.

Ketua Tim Pengembang LEXILIGHT, Muhammad Rizky Yamin, mengatakan timnya berhasil lolos pendanaan PKM-KC 2026. Pendanaan tersebut menjadi tahap awal bagi mereka untuk mengembangkan inovasi kacamata pintar yang ditujukan bagi anak-anak dengan kesulitan membaca.

“Jadi, ceritanya kita ini lolos tahap pendanaan. Dari inovasi itu kami mendapatkan pendanaan. Alatnya kita buat yaitu kacamata, nanti kita lakukan penelitian,” ujar Rizky dalam wawancara, Selasa (8/9/2026).

Rizky menjelaskan, LEXILIGHT dirancang untuk membantu pengguna yang mengalami kesulitan membedakan huruf dan menjaga fokus saat membaca. Salah satu latar belakang pengembangan inovasi tersebut berasal dari pengalaman tim ketika terlibat dalam kegiatan sosial bersama anak-anak.

Sebelumnya, para anggota tim tergabung dalam Komunitas Kawan Inspirasi Kendari yang memiliki kegiatan Taman Baca Masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, mereka menemukan sejumlah anak yang mengalami kesulitan membedakan huruf saat membaca.

“Dukungan membaca untuk penderita disleksia selama ini sebagian besar masih terbatas pada lingkungan pembelajaran yang terstruktur. Lewat LEXILIGHT, kami ingin menghadirkan akses membaca yang lebih fleksibel di mana saja,” ungkap Rizky.

Menurut Rizky, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim mengembangkan inovasi yang berfokus pada kebutuhan anak dengan disleksia. LEXILIGHT diharapkan dapat menjadi alat bantu membaca yang lebih fleksibel, terutama bagi pengguna yang membutuhkan dukungan saat mengenali tulisan.

Dalam pengembangannya, LEXILIGHT memanfaatkan teknologi kamera, Optical Character Recognition (OCR), dan Augmented Reality (AR). Teknologi tersebut dirancang untuk membantu menangkap tulisan, mengolahnya menjadi teks digital, kemudian menampilkan informasi yang lebih mudah diikuti pengguna.

Selain itu, tim juga mengembangkan fitur yang berkaitan dengan pemrosesan bahasa dan pemusatan perhatian pada baris bacaan. Namun, Rizky menegaskan bahwa inovasi tersebut masih dalam tahap pengembangan dan penelitian sehingga efektivitasnya belum dapat disimpulkan secara menyeluruh.

Untuk kebutuhan biaya, Rizky menyebut pembuatan satu unit kacamata LEXILIGHT diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp4 juta. Biaya tersebut menjadi bagian dari kebutuhan pengembangan prototipe yang masih terus disempurnakan oleh tim.

Saat ini, tim beranggotakan lima mahasiswa dari dua fakultas. Empat anggota berasal dari Fakultas Teknik, Jurusan Informatika, sedangkan satu anggota lainnya berasal dari Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Rizky menambahkan, pelaksanaan PKM dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari pelaksanaan kegiatan, penyusunan logbook dan konten media sosial, hingga pengunggahan laporan kemajuan. Berdasarkan linimasa PKM 2026, tahap pelaksanaan logbook dan konten media sosial berlangsung pada 22 Mei hingga 20 September.

Selanjutnya, terdapat deadline kritis pertama untuk pengunggahan laporan kemajuan dan validasi pada 1–12 September, kemudian PKP2 atau presentasi daring pada 14–19 September. Setelah itu, PKM Award dijadwalkan pada 19–20 September, dilanjutkan pengunggahan laporan akhir dan validasi pada 21 September–3 Oktober.

Tahapan berikutnya yakni penilaian laporan akhir pada 5–9 Oktober, pengumuman PIMNAS pada 12–13 Oktober, serta pelaksanaan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) pada 2–7 November. Rizky mengatakan, timnya saat ini masih berada pada tahap awal pengembangan dan penelitian.

Rizky berharap LEXILIGHT tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi dapat terus dikembangkan hingga benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak dengan disleksia. Ia juga berharap inovasi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan teknologi asistif yang lebih inklusif di Indonesia.

Laporan: Andi Mahfud

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|