SULTRAKINI.COM: KENDARI – Ribuan orang menghadiri kajian parenting dan healing bertajuk “Pulih Yuk, Sebelum Luka Diwariskan” yang digelar Ruang Tenang di Hotel Zahra Syariah Kendari, Kamis (3/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan dr. Aisyah Dahlan, CM., NLP., CCHt., CI., praktisi Neuro Parenting Skill, sebagai pemateri. Kajian ini mengajak peserta memahami hubungan antara pengalaman masa lalu, kondisi batin orang tua, dan pola asuh anak.
Founder Ruang Tenang, Nurtina, mengatakan tema tersebut dipilih karena setiap orang tua pernah menjadi seorang anak. Pengalaman, pola komunikasi, dan cara dididik pada masa lalu dapat memengaruhi cara seseorang memperlakukan anaknya.
“Kami ingin mengajak orang tua untuk berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri. Bukan untuk menyalahkan masa lalu atau menyalahkan orang tua kita, tetapi untuk menyadari bahwa apa yang belum selesai dalam diri kita, jangan sampai tanpa sadar menjadi beban bagi generasi setelah kita,” kata Nurtina.
Menurutnya, luka yang dibahas dalam kajian tersebut tidak selalu berupa pengalaman traumatis besar. Luka-luka yang dianggap biasa, seperti sering dibandingkan, tidak didengarkan, dituntut selalu kuat, atau dimarahi ketika melakukan kesalahan, juga dapat meninggalkan jejak.
Nurtina menjelaskan, pengalaman tersebut terkadang memengaruhi respons orang tua ketika menghadapi anak. Seseorang bisa menjadi mudah marah, terlalu mengontrol, takut anak gagal, atau kesulitan mengekspresikan kasih sayang.
“Jadi, yang ingin kami angkat adalah bagaimana pengalaman masa lalu dapat memengaruhi respons kita hari ini—dan bagaimana kita bisa mulai memutus siklus tersebut,” ujarnya.
Ia menilai, kesehatan mental orang tua penting dibahas karena pola asuh tidak hanya dibentuk oleh ilmu yang dipelajari, tetapi juga kondisi batin ketika menjalankannya. Pengetahuan tentang pola asuh yang baik, kata dia, terkadang sulit diterapkan ketika orang tua sedang lelah, penuh tekanan, atau membawa luka yang belum disadari.
“Parenting bukan hanya tentang ‘bagaimana mendidik anak’, tetapi juga tentang ‘bagaimana orang tua menata dirinya agar mampu mendampingi anak’,” jelasnya.
Nurtina berharap peserta tidak merasa harus menjadi orang tua yang sempurna setelah mengikuti kajian tersebut. Sebaliknya, mereka diharapkan pulang dengan kesadaran baru dan satu langkah kecil yang dapat diterapkan di rumah.
“Harapannya, dari satu orang tua yang belajar, lahir rumah yang lebih aman secara emosional. Dari rumah yang lebih sehat, insyaAllah akan tumbuh anak-anak yang lebih sehat pula secara mental dan emosional,” tuturnya.
Lebih lanjut, Nurtina berharap kajian tersebut menjadi titik awal untuk membangun budaya belajar tentang kesehatan mental, keluarga, dan parenting dalam kehidupan sehari-hari. Peserta diharapkan membawa ilmu yang diperoleh ke dalam komunikasi dengan pasangan, cara merespons anak, serta cara berbicara kepada diri sendiri.
“Karena pada akhirnya, perubahan besar dalam keluarga sering kali dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang. Dan mungkin itulah makna dari Ruang Tenang: menyediakan ruang untuk berhenti sejenak, mengenali diri, menata hati, lalu kembali pulang dan menjadi lebih baik untuk orang-orang yang kita cintai,” pungkasnya.
Laporan: Andi Mahfud

19 hours ago
12

















































