SULTRAKINI.COM: KENDARI — Dalam rangkaian kegiatan Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2025, juri Zummi Kudus memberikan pembekalan materi yang sarat dengan arahan teknis dan penguatan mental bagi para peserta yang akan bersaing di tingkat nasional.
Di hadapan guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan yang hadir, Zummi menegaskan bahwa selain kompetensi, semangat, keteguhan, dan penguasaan diri memegang peran penting dalam menentukan keberhasilan.
“Kadang dua peserta kompetensinya sama, tapi yang menang adalah yang semangatnya stabil. Itu yang membedakan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa terdapat aspek non-teknis yang tidak tertulis dalam pedoman resmi, namun sangat berpengaruh dalam penilaian.
“Ada hal-hal teknis yang tidak tertulis tapi menentukan. Banyak peserta gagal karena lupa hal-hal kecil itu,” jelasnya.
Zummi menekankan bahwa karya yang dibawa peserta harus asli, nyata, dan berdampak, bukan sekadar memenuhi formalitas administrasi.
“Bapak Ibu harus terlihat mandiri dan realistis. Jangan terkesan mengada-ada atau terlalu mengaku-ngaku. Tampil apa adanya, tapi benar,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa peserta harus memahami alur, waktu, bukti pelaksanaan, dan perubahan yang terjadi dari praktik baik yang diangkat.
“Ini ajang nasional. Ketahui waktunya, datanya, prosesnya. Jangan sampai ketika ditanya malah tidak tahu,” tambahnya.
Menurutnya, cara peserta berbicara menjadi penilaian yang tidak bisa diabaikan.
“Jangan mengarang cerita. Juri bisa membaca dari gestur tubuh. Bicara harus sistematis, jelas, dan langsung pada inti,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kesopanan berbicara menjadi nilai tambahan.
“Kalau orang sedang berbicara, jangan dipotong. Itu ada nilainya. Kesopanan itu dinilai,” katanya.
Selain itu, peserta diminta untuk tidak bersikap defensif atau mendebat juri.
“Kalau mau memberi pandangan lain boleh, tapi sampaikan dengan sopan. Karena juri itu hanya ingin memastikan bahwa yang presentasi ini betul-betul layak,” tutupnya.
Dalam wawancara terpisah, Zummi memaparkan bahwa kesalahan paling umum peserta adalah kurangnya penguasaan materi dan minim latihan.
“Kesalahan paling besar itu tidak menguasai materi karena tidak berlatih. Presentasi harus diulang-ulang. Harus ada coach yang bisa memberi masukan,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa penggunaan PowerPoint yang terlalu penuh tulisan merupakan kekeliruan fatal.
“PowerPoint jangan seperti makalah. Buat poin-poin saja. Jangan dibaca. Kalau membaca, berarti yang bekerja bukan kita, tapi layarnya,” tegasnya.
Menutup wawancara, Zummi menyampaikan harapannya untuk peserta yang akan berlaga di tingkat nasional:
“Harapan saya peserta kompak, saling menguatkan, dan memberikan yang terbaik untuk nama baik Sulawesi Tenggara. Dan setelah itu, bagikan pengalaman kepada teman-teman lain,” ujarnya.
Pembekalan ini diharapkan dapat mempersiapkan peserta tampil lebih percaya diri, jujur, profesional, dan terarah, sehingga membawa hasil terbaik dan menjadi inspirasi bagi GTK lainnya di Sulawesi Tenggara.
Laporan: Andi Mahfud

3 weeks ago
36















































