SULTRAKINI.COM: KENDARI – Aktivis pemuda Sulawesi Tenggara sekaligus mahasiswa Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan angkatan 2022, La Ode Apriyanto Yusuf, angkat bicara terkait mencuatnya isu sengketa lahan yang melibatkan Gubernur Sultra Andi Sumangerukka (ASR) dan mantan Gubernur Sultra Nur Alam. Ia menilai konflik tersebut berpotensi menjadi kemunduran bagi persatuan masyarakat di Bumi Anoa.
Menurut Apriyanto, perselisihan yang terjadi di level elite tidak seharusnya dipertontonkan ke ruang publik karena dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat. Ia menyayangkan apabila energi daerah justru terkuras pada konflik yang bersifat personal maupun kelompok.
“Ini merupakan langkah mundur bagi nilai-nilai persatuan yang selama ini kita jaga. Sulawesi Tenggara tidak akan maju jika para pemimpinnya, baik yang sedang menjabat maupun yang pernah memimpin, terjebak dalam pertikaian yang mempertontonkan ego di depan publik,” ujar Apriyanto dalam keterangan tertulisnya, Senin (26/1/2026).
Ia menegaskan, persoalan sengketa lahan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut hingga menimbulkan polarisasi di tingkat akar rumput. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif menjaga kondusivitas daerah.
Apriyanto menekankan peran tokoh pemuda sebagai garda terdepan dalam meredam potensi konflik dan tidak mudah terprovokasi. Selain itu, tokoh agama dan para orang tua diharapkan dapat menjadi penengah yang bijak, sementara tokoh perempuan turut menyuarakan pesan perdamaian dan keadilan sosial.
“Kita harus membenahi ini bersama-sama. Tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh perempuan, hingga para orang tua harus bergandeng tangan. Jangan sampai kita saling menjatuhkan hanya demi kepentingan pribadi atau golongan tertentu,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Apriyanto mengajak seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara untuk kembali fokus pada tujuan besar pembangunan daerah. Ia menekankan pentingnya menjunjung supremasi hukum dalam penyelesaian sengketa, namun tetap mengedepankan etika politik dan nilai persaudaraan.
“Mari kembali ke jalur yang benar. Fokus utama kita adalah mewujudkan Sulawesi Tenggara yang adil dan makmur. Itu hanya bisa tercapai jika kita bersatu, bukan terpecah karena sengketa lahan atau ambisi pribadi,” pungkasnya.
Laporan: Andi Mahfud

1 day ago
7
















































