SULTRAKINI.COM: KOLAKA – Warga Dusun Dua Hakatotobu, yang dikenal sebagai perkampungan Suku Bajo di Desa Hakatotobu, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, mengalami gatal-gatal parah hingga borok bernanah yang disinyalir menular. Wilayah ini berada di sekitar area konsesi industri tambang PT Akar Mas Indonesia, Aneka Tambang Tbk, Bola Dunia Mandiri, Suria Lintas Gemilang, dan Vale Indonesia Tbk.
Hampir separuh warga Dusun Dua Hakatotobu dilaporkan terserang penyakit kulit tersebut sejak April 2025 hingga saat ini.
Salah seorang warga, Amira (14), saat ditemui di rumahnya, menunjukkan kondisi kakinya yang bengkak hingga tidak dapat berjalan. Ia mengatakan, gejala awal yang dialaminya berupa bintik merah menyerupai gigitan nyamuk tanpa bentol, namun disertai rasa gatal luar biasa, panas, dan perih.
“Saya sering menggaruk terus-terusan, lalu bintiknya berkembang menjadi luka yang mengeluarkan nanah dan kaki saya menjadi bengkak seperti ini. Saya sudah minum obat yang dibeli di warung, tapi rasanya tetap panas, sangat gatal, dan perih,” katanya.
Warga lainnya, Marwati (42), mengungkapkan bahwa hampir separuh anggota keluarganya mengalami gatal-gatal, mulai dari adik hingga cucunya. Menurutnya, penyakit tersebut terjadi secara bergantian.
“Keluarga saya bergantian gatal-gatal. Bahkan yang sudah sembuh bisa kena lagi, cucu saya juga mengalami gatal bernanah. Orang di sini sudah empat bulan gatal-gatal, dan saya lihat ini menular,” ujarnya.

Ia mengaku tidak mengetahui pasti penyebab penyakit kulit tersebut. Padahal, dirinya dan warga Dusun Dua Hakatotobu telah tinggal di wilayah itu selama dua generasi, namun baru tahun ini hampir seluruh warga mengalami gatal-gatal.
“Saya tidak tahu apa sebabnya, apakah karena kami mandi di laut di bawah rumah atau karena air yang kami gunakan sehari-hari berasal dari air bor,” katanya.
Kepala Puskesmas Pomalaa, dr. Alriyani Hamzah, mengatakan kemungkinan warga Dusun Dua Hakatotobu mengalami scabies jika dilihat dari ciri-cirinya. Menurutnya, scabies harus ditangani secara menyeluruh dan tuntas agar tidak kambuh.
“Scabies ini harus ditangani secara menyeluruh. Kalau tidak tuntas, dia akan kambuh lagi. Kami berharap dengan turun ke sini, kami bisa mendata seluruh warga yang mengalami gatal-gatal dan memberikan pengobatan. Selanjutnya kami harap mereka datang ke puskesmas,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya melaksanakan posyandu dua kali dalam sebulan dan berharap warga yang mengalami gatal-gatal datang ke puskesmas untuk pemeriksaan agar dapat ditangani secara menyeluruh dan tuntas.
Ahli Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo, Sulawesi Tenggara, Ramadan Tosephu, mengaku prihatin melihat kondisi kulit warga Dusun Dua Desa Hakatotobu yang dinilainya sudah kategori parah dan harus segera ditangani.
Menurutnya, dari visual, penyakit kulit yang dialami warga dapat diduga sebagai scabies. Penularannya bisa disebabkan oleh kepadatan penghuni rumah, kondisi wilayah, serta sirkulasi udara dalam rumah yang kurang baik, sehingga diperlukan ventilasi atau jendela yang terbuka.
Namun demikian, lanjut Ramadan, borok pada kulit warga juga bisa disebabkan oleh faktor lain, seperti pencemaran logam berat, terutama di wilayah yang berada di sekitar industri tambang. Umumnya, penyakit kulit kerap muncul di kawasan industri pertambangan.
“Dusun Dua Hakatotobu berada di kawasan penambangan. Untuk memastikannya, kualitas air perlu diuji melalui laboratorium, apakah terjadi pencemaran di area permukiman. Selain itu, ikan yang dikonsumsi warga juga patut dicurigai, apakah berasal dari perairan yang tercemar logam berat,” jelasnya.
Ia menegaskan kondisi masyarakat di wilayah tersebut sangat memprihatinkan dan merupakan persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan cepat dan serius.
“Yang perlu dilakukan, masyarakat harus menjaga higiene personal dan lingkungan. Layanan kesehatan harus diberikan secara berkelanjutan, dan tenaga kesehatan lingkungan perlu melakukan pemeriksaan laboratorium air, baik air kebutuhan sehari-hari maupun air laut. Ini penting sebagai kontrol lingkungan terhadap kemungkinan pencemaran logam berat. Selain itu, perlu dipantau konsumsi ikan dan kerang dari laut sekitar. Edukasi hidup sehat harus menjadi prioritas,” paparnya.
Sementara itu, Juru Kampanye Non-Governmental Organization (NGO) Satya Bumi, Dhany Alfalah, mengatakan pihaknya tidak dapat langsung menerima diagnosis Puskesmas Pomalaa yang menyebut penyakit kulit warga semata-mata sebagai scabies akibat pola hidup tidak bersih.
“Pola argumen seperti ini persis dengan temuan kami di Pulau Kabaena Barat. Ketika kualitas lingkungan menurun akibat aktivitas industri, justru warga yang disalahkan,” katanya.
Menurutnya, warga hidup dalam kondisi sanitasi yang rusak bukan karena pilihan, melainkan akibat lingkungan pesisir yang dikepung aktivitas pertambangan sehingga mengalami tekanan berat.
“Jika air tercemar, ekosistem rusak, dan permukiman terapung berdekatan dengan aktivitas industri, maka tidak adil menyimpulkan penyebab utamanya adalah perilaku warga,” tegasnya.
Ia menambahkan, dalam situasi rentan seperti itu, bukan hanya manusia, tetapi hewan dan tumbuhan pun sulit bertahan. Karena itu, pihaknya menilai dugaan kuat penyakit kulit tersebut berkaitan dengan perubahan faktor lingkungan akibat operasi tambang di sekitar Hakatotobu.
Dhany juga mengungkapkan bahwa sejumlah warga Hakatotobu terpaksa membeli air galon untuk kebutuhan sehari-hari, yang tentu menambah beban ekonomi warga. Padahal, akses air bersih merupakan kebutuhan dasar yang seharusnya dipenuhi negara.
“Saat ini kami memang belum melakukan uji data secara ilmiah di Desa Hakatotobu. Namun, melihat masifnya pembangunan di kawasan IPIP dan secara visual adanya perubahan warna air sungai dan laut, kuat dugaan telah terjadi pencemaran,” ujarnya.
Ia mencontohkan hasil uji air laut di Pulau Kabaena yang pernah dilakukan pihaknya, yang menunjukkan kandungan timbal, kadmium, seng, dan nikel melebihi baku mutu PP Nomor 22 Tahun 2021 Lampiran VII.
“Kandungan kadmium di Pulau Kabaena bahkan lebih dari 1.000 kali lipat dari ambang batas baku mutu untuk biota laut yang ditetapkan pemerintah,” pungkasnya.
Pengujian kadar air laut di Pulau Kabaena di tabel berikut:

Pada dasarnya, kandungan logam berat bersifat racun bagi makhluk hidup. Belajar dari kasus-kasus sebelumnya, jika kandungan logam berat ditemukan secara berlebih dalam air, maka dampak paling umum yang muncul adalah reaksi alergi, seperti gatal pada kulit. Perlu digarisbawahi bahwa penyakit kulit merupakan dampak paling awal yang dirasakan. Paparan logam berat berlebih secara terus-menerus dapat menyebabkan penyakit kronis yang lebih serius, seperti hipertensi hingga kanker ginjal.
Oleh karena itu, pada kasus gatal-gatal yang dialami warga Desa Hakatotobu, langkah pertama dan paling mendesak yang perlu dilakukan adalah pengujian kualitas air secara independen, serta pemeriksaan laboratorium terhadap warga yang terdampak penyakit kulit. Kami menilai pernyataan pihak puskesmas yang menyalahkan perilaku warga tanpa didahului uji laboratorium adalah keliru dan berbahaya, karena dapat menghambat identifikasi akar masalah yang sebenarnya. Di samping itu, pihak puskesmas semestinya melakukan uji laboratorium secara komprehensif terkait kondisi kesehatan masyarakat Hakatotobu,” katanya.
Sementara itu, Inaz Salma, juru kampanye Satya Bumi, menekankan bahwa pihak puskesmas seharusnya melakukan uji kualitas air di Desa Hakatotobu dan menyampaikan hasilnya secara transparan kepada publik, alih-alih langsung menyimpulkan bahwa penyakit tersebut disebabkan pola hidup tidak bersih.
“Mereka harus menyelidiki terlebih dahulu dari mana asal-muasal terjadinya sanitasi buruk ini. Kita pahami bahwa peran puskesmas semestinya melakukan pemantauan wilayah setempat dan analisis masalah kesehatan masyarakat sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2024,” ujarnya.
Menurut Inaz, salah satu faktor paling menentukan keberhasilan advokasi adalah kekuatan komunitas itu sendiri. Tanpa komunitas yang solid, advokasi mudah dipatahkan oleh tarik-menarik kepentingan, tekanan politik, atau narasi perusahaan. Namun, ketika masyarakat membangun basis komunitas yang kuat melalui gerakan berbasis komunitas (community-based movement), maka mereka tidak lagi menjadi objek penderitaan, melainkan subjek perubahan.
“Karena itu, bagi Satya Bumi, Komunitas Hakatotobu, khususnya masyarakat Bajo, harus menjadi aktor utama dalam menyuarakan hak mereka atas laut, ruang hidup, dan kesehatan yang layak,” bebernya.
Ia juga mengungkapkan, hasil temuan Satya Bumi menunjukkan sebanyak 77,5 persen warga tidak pernah mendapatkan proses Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) dari perusahaan mana pun. Tidak ada konsultasi yang bermakna, tidak ada penjelasan mengenai risiko, serta tidak tersedia mekanisme keberatan.
“Dari hasil kunjungan kami pada Februari dan Oktober, kondisi warga Hakatotobu terpontang-panting dan tersiksa di tempat tinggal mereka sendiri. Lambat laun, dampak pertambangan yang tidak bertanggung jawab ini akan menggerogoti kesehatan masyarakat Hakatotobu. Jika pola ini dibiarkan, kesehatan dan keberlanjutan hidup mereka akan semakin tergerus,” ujarnya.
Satya Bumi, lanjutnya, akan melakukan advokasi terkait temuan dampak kesehatan dan lingkungan terhadap masyarakat di Kecamatan Pomalaa.
Ia juga menyoroti keberadaan dua proyek berlabel Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kecamatan Pomalaa, yakni Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) dan PT Kolaka Nikel Indonesia (KNI). KNI sendiri merupakan tenant smelter yang terintegrasi dengan IPIP.
“Ini menjadi tantangan besar, sebab label PSN kerap diiringi dengan intervensi pemerintah yang memberikan hak istimewa kepada proyek industri. Banyak tahapan yang terlewati, mulai dari aspek perizinan hingga prosedur akuisisi lahan yang tidak memenuhi standar peraturan perundang-undangan yang berlaku,” jelasnya.
Ke depan, Satya Bumi berencana melakukan rapid assessment dengan berkolaborasi bersama sejumlah tenaga ahli dan laboratorium untuk menguji kualitas air, udara, serta biota laut di wilayah pesisir Kecamatan Pomalaa.
“Harapannya, uji ini dapat kami lakukan secepatnya pada tahun 2026, mengingat operasi pertambangan Vale di Blok Pomalaa sudah mulai berlangsung,” tutupnya.
Laporan: Anti

5 days ago
23
















































