SULTRAKINI.COM: KENDARI – Dari Kendari hingga forum internasional di Malaysia, Risdawati membawa gagasan tentang tantangan generasi muda Muslim di tengah derasnya perkembangan teknologi. Ketua BEM UIN Kendari itu berhasil meraih prestasi sebagai Top 2 Best Speaker dalam Konferensi Internasional Santri Mendunia.
Risdawati, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, mengikuti konferensi yang berlangsung pada 6–11 Agustus 2026 di Malaysia. Dalam wawancara pada Senin, 10 Agustus 2026, Risdawati menceritakan pengalamannya mengikuti rangkaian forum tersebut.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Santri Mendunia berkolaborasi dengan IYC International Youth Connection. Konferensi mengangkat tema “Disconnected Generation: Faith, Technology and the Crisis of Modern Muslim Youth” dan diikuti sekitar 60 peserta dari berbagai latar belakang.
Peserta yang terlibat tidak hanya berasal dari kalangan santri, tetapi juga mahasiswa, termasuk mahasiswa pascasarjana. Sejumlah peserta asal Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri juga turut mengikuti forum internasional tersebut.
Bagi Risdawati, keikutsertaannya dalam konferensi bukan sekadar untuk mengejar prestasi. Sebagai Ketua BEM UIN Kendari, ia ingin memperluas wawasan, membangun jejaring internasional sekaligus menguji kemampuan dalam menyampaikan gagasan di ruang yang lebih luas.
“Sebagai Ketua BEM UIN Kendari, yang mendorong saya mengikuti Konferensi Internasional Santri Mendunia ini adalah keinginan untuk memperluas wawasan, membangun jejaring internasional, sekaligus menguji kemampuan saya dalam menyampaikan gagasan di ruang yang lebih luas,” kata Risdawati saat diwawancarai, Senin (10/8/2026).
Dalam konferensi tersebut, peserta mengikuti sejumlah rangkaian kegiatan, mulai dari forum debat, Focus Group Discussion (FGD) hingga presentasi paper. Melalui debat, peserta berkesempatan menyampaikan argumentasi dan bertukar pandangan mengenai berbagai isu yang berkaitan dengan kehidupan santri dan generasi muda di era digital.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan FGD yang membahas berbagai isu strategis mengenai peran santri, pendidikan, keislaman serta kontribusi generasi muda dalam menghadapi tantangan global. Forum tersebut menjadi ruang bagi peserta dari berbagai latar belakang untuk saling bertukar gagasan dan pengalaman.
Pada sesi presentasi paper, Risdawati mengangkat judul “Transforming Digital Addiction Through Education Disciplinary Character in Islamic Boarding Schools.” Ia menyampaikan gagasan mengenai pentingnya pendidikan dan pembentukan karakter dalam menghadapi persoalan kecanduan digital, khususnya di kalangan generasi muda.
Menurut Risdawati, persoalan generasi muda saat ini bukan semata-mata disebabkan oleh teknologi. Persoalannya terletak pada bagaimana teknologi digunakan serta kemampuan generasi muda dalam mengendalikan diri di tengah arus informasi yang begitu cepat.
“Saya banyak menyampaikan gagasan mengenai bagaimana generasi muda Muslim dapat memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai keimanan, karakter dan identitasnya. Santri dan mahasiswa harus mampu menjadi pengguna teknologi yang produktif, kritis dan beretika, bukan justru menjadi generasi yang dikendalikan oleh teknologi,” ujarnya.
Dari rangkaian kegiatan tersebut, Risdawati berhasil meraih Top 2 Best Speaker. Ia berharap capaian tersebut tidak berhenti sebagai prestasi pribadi, tetapi menjadi motivasi bagi mahasiswa dan santri Indonesia untuk berani mengambil ruang di tingkat nasional maupun internasional.
“Jangan sampai kita menjadi generasi yang semakin terkoneksi dengan teknologi, tetapi semakin terputus dari nilai, karakter dan tujuan hidup. Teknologi pada dasarnya adalah alat. Ia bisa menjadi sarana untuk belajar, berkarya, berdakwah, membangun jaringan dan menciptakan perubahan positif,” pungkasnya.
Laporan: Andi Mahfud

8 hours ago
4

















































