SULTRAKINI.COM: KENDARI-Gaya hidup ramah lingkungan atau green lifestyle dinilai tidak hanya berdampak pada pengurangan sampah dan emisi, tetapi juga dapat menciptakan peluang pasar baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hal tersebut disampaikan Founder Green Movement Indonesia Tasya Kamila dalam Talkshow Sultra Maimo 2026 bertajuk “Pengembangan UMKM Berkelanjutan dan Ekonomi Sirkular Sulawesi Tenggara” di The Park Kendari, Jumat (7/8/2026).
Tasya mengatakan, perubahan kebiasaan masyarakat menuju gaya hidup ramah lingkungan akan menciptakan permintaan baru terhadap produk dan jasa yang mendukung prinsip keberlanjutan.
“Dari apa yang kita lakukan, misalkan kita mau gaya hidup hijau, bawa tumbler sendiri dari rumah, mengurangi plastik, itu akhirnya menciptakan satu pasar, menciptakan satu permintaan baru,” kata Tasya.
Menurut dia, meningkatnya permintaan tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk berinovasi dan menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen yang mulai memperhatikan aspek lingkungan.
Inovasi itu, kata Tasya, dapat dilakukan mulai dari desain produk, kemasan yang lebih ramah lingkungan, teknologi, infrastruktur, hingga sistem pengelolaan sampah.
“Dari situ akhirnya mendorong inovasi, seperti desain, packaging yang lebih ramah lingkungan, teknologi, infrastruktur, sistem, misalkan sistem pengelolaan sampah,” ujarnya.
Tasya menjelaskan, semakin besar permintaan terhadap produk ramah lingkungan, semakin banyak pula pelaku usaha yang masuk ke sektor tersebut.
Ketika jumlah pelaku usaha bertambah dan bisnis mulai berkembang dalam skala yang lebih besar, biaya produksi dapat ditekan sehingga harga produk menjadi lebih terjangkau.
Kondisi tersebut kemudian menciptakan siklus yang saling menguatkan antara bisnis dan gaya hidup ramah lingkungan.
“Kalau sudah banyak permintaan, sudah ada inovasi, akhirnya kalau sudah banyak pelaku usaha atau bisnis-bisnis juga scaling up, bisa meningkatkan volume. Dari meningkatkan volume, harganya jadi turun,” kata dia.
Menurut Tasya, perkembangan bisnis hijau juga berpotensi memberikan dampak lebih luas, termasuk membuka lapangan pekerjaan hijau.
Selain itu, perusahaan yang memiliki komitmen terhadap lingkungan dapat membangun citra positif di mata konsumen. Pada akhirnya, hal tersebut berpotensi meningkatkan loyalitas pelanggan.
“Kalau bisnisnya sudah scaling up dan sudah memiliki impact, itu pasti juga membuat produk-produknya lebih terjangkau, sehingga bisa mendukung green lifestyle tadi,” ujarnya.
Meski demikian, Tasya mengingatkan agar produk ramah lingkungan tidak berhenti sebagai tren atau sekadar produk yang dibeli karena mengikuti gaya hidup.
Menurut dia, produk hijau harus mampu menciptakan nilai atau manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh konsumen.
“Produk-produk yang ramah lingkungan itu harus bisa create value, yaitu memang memberikan manfaat yang bisa dirasakan langsung,” kata Tasya.
Ia mencontohkan penggunaan lampu LED.
Menurut dia, kampanye penggunaan lampu LED tidak harus selalu ditekankan dari sisi manfaatnya terhadap lingkungan. Pelaku usaha juga dapat menonjolkan manfaat yang lebih dekat dengan kebutuhan konsumen, seperti usia pakai yang lebih panjang dan penggunaan listrik yang lebih hemat.
“Dengan lampu LED lebih awet, lebih hemat listrik, itu juga menjadi value yang lebih relate sama konsumen,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, produk ramah lingkungan tidak hanya dipandang sebagai pilihan ideal bagi lingkungan, tetapi juga sebagai produk yang memberikan keuntungan bagi konsumen.
Tasya juga menyoroti pentingnya membangun sistem dan infrastruktur yang memudahkan masyarakat menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.
Ia menceritakan pengalamannya memilah sampah dari rumah. Upaya tersebut, kata dia, telah dilakukan selama bertahun-tahun.
Namun, persoalan muncul ketika sampah yang sudah dipilah kembali tercampur saat proses pengangkutan.
“Kalau sampah kertas jangan sampai tercampur sama sampah organik karena nanti value-nya jadi hilang. Itu sudah dilakukan, sudah dipilah sampahnya, tapi pas diangkut digabung lagi,” kata Tasya.
Menurut dia, persoalan tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku masyarakat perlu diikuti dengan sistem pengelolaan sampah yang memadai.
Masyarakat yang sudah memiliki kesadaran untuk memilah sampah dari rumah harus mendapatkan akses untuk menyalurkan sampah tersebut ke sistem yang mampu mempertahankan nilai ekonominya.
Dengan begitu, sampah tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga dapat memiliki nilai ekonomi.
“Bagaimana kuncinya institusi lain dan pengelolaan sampah akhirnya bisa mengakomodir teman-teman yang pengen memilah sampah dari rumah, pengen mengurangi impact-nya, supaya sampah di rumah itu bisa ada value-nya lagi,” ujarnya.
Ia menilai kehadiran berbagai inovasi, termasuk layanan pengelolaan sampah yang memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat, dapat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem green lifestyle.
Selain penyediaan produk dan infrastruktur, Tasya menilai edukasi kepada masyarakat menjadi faktor penting agar produk ramah lingkungan dapat berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun, edukasi lingkungan menurut dia tidak harus selalu menggunakan narasi yang menakutkan mengenai perubahan iklim.
Sebaliknya, isu lingkungan dapat dikemas melalui pesan positif yang menunjukkan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Enggak perlu narasinya selalu negatif. Kita bisa mengubah narasinya, edukasinya menjadi lebih positif,” kata Tasya.
Ia mencontohkan konsumen dapat diberikan pemahaman bahwa memilih produk ramah lingkungan bukan hanya membantu menjaga lingkungan, tetapi juga mendukung pelaku usaha mikro, petani, nelayan, maupun masyarakat pesisir agar memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera.
“Dengan memilih produk ramah lingkungan, berarti sama dengan mendukung usaha mikro atau petani-petani di pesisir atau nelayan-nelayan di pesisir untuk hidup lebih sejahtera lagi,” ujarnya.
Menurut Tasya, pendekatan tersebut dapat membuat konsumen merasa bahwa pilihan mereka memberikan dampak positif, bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat.
Pada akhirnya, ia berharap produk ramah lingkungan dapat menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari dan berkembang menjadi new normal atau standar baru dalam konsumsi masyarakat.
“Supaya produk hijau ini bisa menjadi sesuatu yang memang dibutuhkan sehari-hari, menjadi satu new normal atau standar, sebatas tren atau ikut-ikutan saja, pastinya harus melibatkan banyak pihak,” kata Tasya.
Laporan: Riswan

3 hours ago
4

















































