INIPASTI.COM, Makassar — Kepala SMK YPLP PGRI 1 Makassar, Ratna Farida Untung, menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan berbasis kebutuhan dunia kerja melalui penguatan konsep link and match antara sekolah dan industri.
Hal tersebut disampaikan Ratna saat ditemui media di ruang kerjanya, Rabu 15 April 2026.
Ratna Farida Untung, yang lahir di Ujung Pandang pada 11 Juni 1963, saat ini memasuki periode keduanya sebagai kepala sekolah setelah sebelumnya menjabat pada periode 2022–2025 dan kembali dipercaya memimpin sejak 2025 hingga sekarang.
Dalam kepemimpinannya, ia mengusung visi menjadikan SMK YPLP PGRI 1 Makassar sebagai pusat pelatihan unggul berbasis lokal yang mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
“Visi utama kami adalah menjadikan sekolah ini sebagai pusat pelatihan yang menghasilkan sumber daya manusia yang cerdas, profesional, beriman dan bertakwa, serta memiliki daya saing tinggi untuk mengisi dan membuka lapangan kerja,” ujar Ratna.
Ia menjelaskan, gaya kepemimpinan yang diterapkannya adalah pendekatan kekeluargaan. Menurutnya, seluruh stakeholder sekolah merupakan satu kesatuan yang diarahkan untuk mencapai tujuan bersama.
“Dengan pendekatan kekeluargaan, kami membangun kebersamaan agar semua unsur di sekolah dapat bergerak searah dalam mewujudkan visi dan misi,” jelasnya.
Dalam upaya membangun budaya sekolah, pihaknya menekankan pentingnya kedisiplinan dan budaya positif yang berlandaskan pada aturan serta tata tertib yang berlaku, baik bagi tenaga pendidik, tenaga kependidikan, maupun siswa.
Namun demikian, Ratna mengakui bahwa tantangan terbesar dalam memimpin lembaga pendidikan adalah menghadapi keragaman karakter manusia serta derasnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Tantangan utama adalah menghadapi berbagai karakter individu, ditambah lagi perkembangan zaman yang menuntut kita untuk terus beradaptasi, terutama dalam bidang teknologi,” ungkapnya.
Sebagai strategi, sekolah berupaya memahami kebutuhan dunia usaha dan dunia industri, lalu mengintegrasikannya ke dalam proses pendidikan di sekolah.
“Dengan memahami kebutuhan industri, kami bisa menciptakan keterkaitan antara pendidikan dan dunia kerja, sehingga lulusan memiliki kompetensi yang relevan,” katanya.
Selain itu, sekolah juga аktif memfasilitasi kegiatan non-akademik sebagai bekal tambahan bagi siswa di masa depan.
Ratna juga menegaskan bahwa peran guru dan tenaga kependidikan sangat vital sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan. Ia mengapresiasi dukungan yang telah diberikan dalam mewujudkan visi dan misi sekolah.
Di sisi lain, hubungan dengan orang tua siswa terus diperkuat melalui komunikasi berkala, baik secara umum maupun personal, guna menyelaraskan pola pembinaan terhadap peserta didik.
“Kami rutin mengundang orang tua untuk berdiskusi demi menyatukan langkah dalam mendidik siswa,” ujarnya.
Dalam membangun hubungan sosial, sekolah juga aktif menjalin kedekatan dengan masyarakat sekitar melalui kegiatan kerja bakti bersama.
Tak hanya fokus pada aspek akademik dan keterampilan, sekolah juga menanamkan nilai-nilai spiritual kepada siswa. Salah satunya dengan mewajibkan shalat dzuhur berjamaah serta program literasi Al-Qur’an, di mana siswa ditargetkan menyelesaikan bacaan Iqra dan melanjutkan ke Al-Qur’an dengan bimbingan guru agama.
Di akhir pernyataannya, Ratna berharap organisasi PGRI dapat terus memberikan pembinaan guna meningkatkan kontribusi sekolah dalam pembangunan nasional.
“Kami berharap PGRI senantiasa memberikan bimbingan agar kami dapat terus berperan dalam pembangunan bangsa,” tutupnya.

22 hours ago
8

















































