SULTRAKINI.COM: KENDARI — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) resmi melepas mahasiswanya untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Semenanjung Malaysia. Program ini merupakan hasil kerja sama antara UHO dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia, dengan fokus utama pada pemberdayaan pendidikan bagi anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Acara pelepasan ini digelar di ruang Senat FISIP UHO, lantai 2, pada Kamis sore, 13 November 2025, dan dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, dosen pembimbing, serta mahasiswa peserta KKN.
Dekan FISIP UHO, Prof. Dr. Eka Suaib, M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk nyata implementasi kolaborasi universitas dengan KBRI Malaysia dalam mendukung akses pendidikan lintas negara.
“Saya kira ini adalah wujud nyata kerja sama antara Universitas Halu Oleo dengan Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia. Banyak anak-anak TKI yang tidak memperoleh akses pendidikan formal yang layak. Karena itu, Kedutaan mengundang perguruan tinggi agar dapat memberikan pembekalan dan pendampingan pendidikan bagi mereka,” ujarnya.
Program KKN Internasional ini akan berlangsung selama satu bulan penuh, mulai 15 November hingga 12 Desember 2025, dengan berbagai kegiatan pembelajaran di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) dan sejumlah sanggar belajar anak-anak TKI di wilayah Semenanjung Malaysia.
“Selama di sana, mahasiswa akan mengajar membaca, menulis, berhitung, serta memfasilitasi kegiatan kreatif seperti seni, budaya, dan kerajinan. Mereka juga mengenalkan muatan kebangsaan, seperti pengibaran bendera Merah Putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, hingga memperkenalkan kuliner dan permainan tradisional Indonesia,” jelasnya.
Selain menjadi bentuk pengabdian lintas negara, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat rasa nasionalisme anak-anak TKI terhadap Indonesia.
“Ini penting untuk menumbuhkan rasa nasionalisme mereka. Kami ingin anak-anak itu tetap mengenal identitas Indonesia melalui bahasa, budaya, dan tradisi lokal, meski mereka tinggal di luar negeri,” tambah Prof. Eka.
Peserta KKN Internasional kali ini seluruhnya berasal dari FISIP UHO, mewakili tiga program studi: Administrasi Negara, Ilmu Politik, dan Ilmu Administrasi Bisnis. Pemilihan peserta dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kompetensi, minat, dan kemampuan adaptasi di lingkungan internasional.
“Karena ini KKN internasional, proses seleksi kami lakukan lebih ketat. Kami melihat program studi yang tengah menyiapkan akreditasi, karena rekognisi internasional juga menjadi salah satu instrumennya. Selain itu, kami minta setiap prodi menyeleksi mahasiswa yang memiliki minat, keseriusan, kemampuan komunikasi, dan kerja sama tim yang baik,” terangnya.
Adapun tiga mahasiswa FISIP UHO yang terpilih mewakili universitas dalam program KKN Internasional di Semenanjung Malaysia yakni:
Asgar Malik dari Program Studi Ilmu Politik,
Adam dari Program Studi Administrasi Negara, dan
Indra dari Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis.
Sementara itu, salah satu dosen pendamping KKN, La Taya, S.I.Kom., M.A.P., menuturkan bahwa tantangan terbesar dalam pelaksanaan program ini adalah koordinasi lintas negara dan penyelesaian administrasi keimigrasian mahasiswa.
“Tantangannya cukup kompleks, mulai dari proses komunikasi antara kampus, Kedutaan, dan pihak sekolah mitra di Malaysia, hingga penyiapan dokumen keimigrasian dan perangkat pembelajaran. Proses finalisasi memakan waktu sekitar satu hingga dua bulan sebelum mahasiswa benar-benar diberangkatkan,” jelas La Taya.
Ia menambahkan, kegiatan KKN Internasional ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa dari UHO, tetapi juga melibatkan total sekitar 60 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, seperti Universitas Negeri Makassar, Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Pendidikan Indonesia.
“Jadi secara nasional, ada sekitar 60 mahasiswa dari sejumlah universitas yang berpartisipasi. Mereka akan disebar di beberapa titik di Malaysia di bawah koordinasi KBRI. Kami bangga FISIP UHO bisa menjadi bagian dari program pengabdian lintas negara ini,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa KKN Internasional kali ini difokuskan pada bidang pengajaran dan pendidikan, berbeda dari KKN reguler yang umumnya dilakukan di pemerintahan daerah atau sektor masyarakat dalam negeri.
“Mahasiswa akan ditempatkan di SIKL dan beberapa sanggar belajar di bawah binaannya. Sanggar ini menjadi ruang belajar bagi anak-anak TKI yang tidak dapat bersekolah di lembaga formal Malaysia karena kendala jarak dan dokumen kewarganegaraan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prof. Eka menyampaikan bahwa tahun mendatang fakultas-fakultas lain di UHO juga akan diberi kesempatan untuk mengikuti program serupa, seiring dengan semakin luasnya kerja sama internasional yang dijalin universitas.
“Kesempatan ini terbuka bagi fakultas lain di UHO. MOU dengan pihak Kedutaan baru ditandatangani pada Oktober lalu, jadi waktunya memang cukup singkat. Tahun depan, kami berharap lebih banyak fakultas ikut serta agar pengalaman internasional ini makin beragam,” jelasnya.
Menutup keterangannya, Prof. Eka menegaskan bahwa pelaksanaan KKN Internasional ini sejalan dengan visi dan misi fakultas, yaitu menghasilkan lulusan yang berkompeten dan mampu bersaing secara global.
FISIP UHO, KKN Internasional, Malaysia, pengabdian masyarakat, daya saing global“Harapan kami sejalan dengan visi dan misi fakultas, yaitu menghasilkan alumni yang memiliki kemampuan dan daya saing di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Melalui kegiatan ini, mahasiswa mendapatkan pengalaman dan wawasan global yang akan sangat berguna ketika mereka menjadi alumni nanti,” pungkasnya.
Laporan: Andi Mahfud

2 weeks ago
22















































