SULTRAKINI.COM: KENDARI– Ratusan mahasiswa memadati Aula Bahteramas, Kompleks Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara, dalam kegiatan National Seminar on Scholarship and Information Technology yang berlangsung sejak pukul 07.30 WITA hingga selesai. Seminar ini mengusung tema “From Ideas to Impact: Menjadi Generasi Solutif, Mengasah Kreativitas, dan Menumbuhkan Inovasi untuk Era Disrupsi Global.”
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lingkar Studi Ilmiah dan Penalaran (LSIP) FKIP Universitas Halu Oleo sebagai bagian dari Pekan Ilmiah LSIP 2025. Seminar menghadirkan tiga narasumber inspiratif, yakni Novi Alviana, penerima Beasiswa Fulbright FLTA (Foreign Language Teaching Assistant) di Harvard University; Ricky S.E., M.M., CRF, Deputi Kepala Wilayah Sultra PT Bursa Efek Indonesia; dan Najwa Nur Awalia, delegasi UGM serta awardee Positive Hack Camp Rusia 2025.
Pada sesi kedua, Ricky S.E., M.M., CRF, yang merupakan mantan Manajer Keuangan Saga Group (2011–2018) dan kini menjabat sebagai Deputi Kepala Wilayah Sultra PT Bursa Efek Indonesia (2018–sekarang), memberikan edukasi penting mengenai literasi keuangan dan investasi cerdas di era digital.
Dalam pemaparannya, Ricky menekankan pentingnya pemahaman keuangan sejak dini agar mahasiswa tidak hanya siap berkarier, tetapi juga mampu mengelola keuangan pribadi dan berinvestasi dengan bijak.
Dalam sesi pemaparannya, Deputi Kepala Wilayah Sultra PT Bursa Efek Indonesia Ricky S.E., M.M., CRF, membuka dengan sapaan hangat kepada peserta seminar. Ia sempat bertanya kepada audiens tentang asal fakultas mereka, dan ternyata peserta tidak hanya datang dari FKIP, tetapi juga dari Fakultas Ekonomi dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
“Saya senang sekali karena kali ini banyak juga dari fakultas lain, bukan hanya FKIP. Nanti bulan ini, insyaallah saya juga akan mengisi seminar di Fakultas MIPA,” ujarnya disambut antusias peserta.
Ricky kemudian berbagi kisah hidup pribadinya yang inspiratif. Ia menceritakan masa kecilnya yang terlahir dari keluarga berada di Makassar, namun kemudian harus mengalami kebangkrutan akibat krisis ekonomi tahun 1997–1998.
“Dulu rumah saya lima lantai dan ada empat pembantu. Tapi setelah krisis, semuanya berubah. Dari anak orang kaya, saya jadi anak lorong,” tuturnya disertai tawa ringan bersama peserta.
Ia lalu bertanya kepada mahasiswa, “Menurut kalian, kuat mana, anak orang kaya atau anak lorong?”
Serempak mahasiswa menjawab, “Anak lorong!”
Ricky pun menimpali, “Dua-duanya kuat, ya. Tapi dari pengalaman saya, hidup sebagai anak lorong itu jauh lebih berat. Semua serba susah kalau tidak punya uang. Tapi dari situ saya belajar bahwa pendidikan bisa mengubah kehidupan.”
Ia bercerita bahwa sejak SMP hingga kuliah, ia berjuang keras mencari beasiswa karena kondisi ekonomi keluarga tidak mampu.
“Orang tua saya tidak bisa biayai kuliah. Waktu itu tante-tante saya patungan untuk bantu. Dari situ saya bertekad, saya harus sukses lewat pendidikan. Karena saya tahu, hanya pendidikan yang bisa membuka jalan keluar,” jelasnya.
Dalam sesi tersebut, Ricky kemudian beralih ke topik utama, yakni literasi keuangan dan investasi cerdas. Ia memperkenalkan dunia pasar modal serta mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah tergiur dengan investasi ilegal.
“Saya ingin teman-teman tahu bagaimana uang bisa bekerja untuk kita lewat instrumen investasi yang aman dan legal, yang diawasi oleh BEI dan OJK,” ujarnya.
Ia juga menampilkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) terkait meningkatnya pengangguran di Indonesia. Pada tahun 2023, jumlah pencari kerja mencapai 1,8 juta orang, sementara lowongan yang tersedia hanya sekitar 216 ribu.
“Kalau diibaratkan ada 400 orang di ruangan ini, hanya 60 sampai 70 yang akan diterima kerja. Itu data resmi dari pemerintah,” jelas Ricky.
Menurutnya, kondisi ini menuntut generasi muda untuk kreatif dan mandiri, serta memahami peluang ekonomi sejak dini.
Dalam kesempatan itu, Ricky juga memberikan pemahaman mendalam tentang inflasi dan bagaimana dampaknya terhadap nilai uang.
“Dulu uang seratus ribu kalau dibawa ke supermarket bisa penuh troli belanjaan. Sekarang, hanya dapat beberapa barang saja,” katanya.
Ia menampilkan data inflasi sepuluh tahun terakhir, antara lain:
2015: 3,35%
2016: 3,02%
2017: 3,61%
2018: 3,13%
2019: 2,72%
2020: 1,68%
2021: 1,87%
2022: 5,51%
2023: 2,61%
2024: 1,57%
“Inflasi menunjukkan bahwa harga kebutuhan semakin mahal dan nilai mata uang terus menurun setiap tahun,” jelas Ricky.
Ia memberi contoh sederhana, “Kalau sekarang punya uang 20 juta bisa beli motor baru, tapi kalau uang itu disimpan di lemari sampai tahun 2035, pasti sudah tidak cukup lagi beli motor. Karena nilai uang terus menurun akibat inflasi.”
Ricky menekankan bahwa menyimpan uang tanpa dikelola sama saja membuat nilainya menyusut.
“Orang yang miskin sering kali sulit naik ekonomi karena hanya menabung. Padahal nilainya terus turun. Jalan keluar dari kemiskinan adalah berinvestasi,” tegasnya.
Ia menyebutkan bahwa investasi terbaik adalah investasi leher ke atas, yaitu pengetahuan dan pendidikan.
“Teman-teman datang hari Minggu ini saja sudah termasuk investasi terbaik, karena kalian berinvestasi pada pemikiran,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Lebih lanjut, Ricky menjelaskan berbagai bentuk investasi yang dapat dipilih masyarakat, antara lain emas, tanah, kebun, kos-kosan, saham, reksa dana, obligasi, properti, deposito, hingga crypto.
“Semua itu diawasi oleh OJK, jadi pastikan investasi yang kalian pilih legal dan logis,” pesannya.
Menutup sesi, Ricky mengingatkan bahwa literasi keuangan bukan hanya soal uang, tetapi soal cara berpikir dan mengambil keputusan finansial yang bijak.
“Kalau mau hidupmu berubah, ubah dulu cara berpikirmu tentang uang. Jangan simpan, tapi kelola. Jangan takut belajar, karena pendidikan dan investasi akan selalu jadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik,” pungkasnya.
Laporan: Andi Mahfud

3 weeks ago
27















































