SULTRAKINI.COM: KENDARI — Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman melakukan kunjungan mendadak ke Sulawesi Tenggara untuk meninjau dampak banjir yang melanda sejumlah wilayah sentra pertanian. Kunjungan tersebut dilakukan usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden terkait penanganan bencana di beberapa daerah, termasuk Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.
Amran mengaku memutuskan berangkat ke Sultra pada dini hari setelah menerima laporan mengenai kondisi banjir yang berdampak pada masyarakat dan lahan pertanian. Menurutnya, kehadiran pemerintah di tengah warga terdampak merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menghadapi bencana.
“Ini mendadak. Saya datang karena ini adalah duka, masalah ini adalah masalah kita semua,” ujar Amran saat memberikan keterangan kepada awak media di Kendari.
Dalam kunjungan tersebut, Kementerian Pertanian menyalurkan bantuan logistik tahap awal berupa 30 ton beras dan 1,5 ton minyak goreng untuk masyarakat terdampak banjir. Pemerintah juga menyiapkan langkah pemulihan sektor pertanian yang mengalami kerusakan cukup besar akibat genangan air.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, sekitar 2.000 hektare sawah di Sultra terdampak banjir. Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah menyiapkan bantuan benih padi gratis bagi petani, alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti traktor, hingga perbaikan tanggul yang jebol di sejumlah wilayah.
Amran menyebutkan nilai bantuan tahap awal yang direalisasikan untuk Sultra mencapai sekitar Rp10 miliar. Nilai tersebut, kata dia, masih berpotensi bertambah hingga Rp30 miliar apabila pemerintah daerah segera melengkapi seluruh usulan administrasi yang dibutuhkan.
“Kalau total semuanya bisa mencapai Rp20 sampai Rp30 miliar. Tapi yang direalisasikan dulu sekitar Rp10 miliar untuk Sultra,” katanya.
Selain fokus pada penanganan pascabanjir, Amran memastikan kondisi ketahanan pangan nasional tetap aman. Ia menyebut stok beras nasional saat ini mencapai 5,3 juta ton, yang menurutnya merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Menurut Amran, kapasitas gudang penyimpanan pemerintah hanya sekitar 3 juta ton sehingga pemerintah harus menyewa tambahan gudang untuk menampung cadangan beras tersebut.
“Ini tertinggi selama Republik ini berdiri. Data ini bukan dari Menteri Pertanian, tetapi dari BPS, FAO, dan USDA,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pemerintah tidak mengeluarkan rekomendasi impor beras karena cadangan pangan nasional dinilai mencukupi. Bahkan, Bulog diminta menjaga pengelolaan stok beras nasional yang nilainya diperkirakan mencapai Rp60 triliun.
Dalam kesempatan itu, Amran meminta seluruh kepala daerah di Sulawesi Tenggara segera menyampaikan surat permohonan bantuan secara resmi agar proses penanganan dan penyaluran bantuan dapat dilakukan lebih cepat.
“Cepat menyurat supaya kita bisa tangani cepat,” katanya.
Wakil Gubernur Sultra Hugua memastikan bantuan alat pertanian dari pemerintah pusat akan dibagikan sesuai tingkat kebutuhan daerah terdampak.
“Akan disalurkan secara proporsional, sesuai tingkat kebutuhan wilayah terdampak,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Kendari Siska Karina Imran mengapresiasi langkah cepat pemerintah pusat dalam merespons bencana banjir yang terjadi di wilayahnya.
“Kehadiran menteri menjadi bentuk nyata kepedulian pemerintah dalam membantu warga dan petani segera bangkit pasca terjadinya bencana,” kata Siska.
Di sisi lain, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sultra, La Ode Saifuddin, mengatakan banjir melanda delapan kabupaten dan kota, yakni Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Utara, Konawe Selatan, Konawe Kepulauan, Kolaka Timur, Kolaka, dan Buton Utara.
Menurut dia, total warga terdampak mencapai 1.347 kepala keluarga atau 8.616 jiwa. Selain itu, banjir merendam 2.326 unit rumah dan 979 hektare sawah.
Kerusakan juga terjadi pada enam unit jembatan, 10,5 hektare tambak, serta 22 unit sekolah.
“Bencana banjir di delapan kabupaten dan kota ini mulai dilaporkan sejak 8 Mei hingga 11 Mei 2026,” ujar Saifuddin, Senin (11/5/2026).
Ia menuturkan Pemerintah Provinsi Sultra telah membangun sinergi dengan berbagai pihak dalam penanganan banjir. Sejumlah organisasi perangkat daerah, TNI-Polri, relawan, akademisi, hingga media dilibatkan untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Dinas Sosial menyiapkan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak, sedangkan Dinas Kesehatan membuka posko kesehatan selama 24 jam.
BPBD Sultra bersama BPBD kabupaten dan kota juga menyalurkan bantuan berupa tangki air bersih, mobil toilet, dan logistik makanan siap saji. Sementara itu, personel Brimob dan Satpol PP dikerahkan untuk membantu proses evakuasi warga.
Saifuddin mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dengan menjaga kebersihan lingkungan, terutama saluran drainase dan sungai agar tidak tersumbat sampah.
“Masyarakat juga sebaiknya rutin memantau informasi cuaca dan kebencanaan dari BMKG maupun BPBD setempat,” ujarnya.
Laporan: Riswan

4 hours ago
4

















































