Video Penyerangan Asrama Reformasi Viral, Ilham Ungkap Kronologi dan Soal Anak Busur

3 hours ago 2

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO), Muh. Ilham, bersama kakaknya, Rachmi, memberikan keterangan terkait penyerangan yang terjadi di Asrama Reformasi, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), menyusul beredarnya video kondisi Ilham pascakejadian di media sosial.

Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa, 25 Agustus 2026, sekitar pukul 04.00 Wita di sebuah asrama milik Rachmi yang berada di Lorong Pelindung, Kelurahan Lalolara, Kecamatan Kambu, Kota Kendari. Wawancara dengan keduanya dilakukan pada Rabu malam, 26 Agustus 2026.

Ilham, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UHO, mengaku sempat mengonsumsi minuman bersama teman-temannya sebelum kejadian. Sekitar pukul 22.00 Wita ia masih berada di kawasan Tugu UHO, lalu kembali ke asrama sekitar pukul 23.00 Wita dan ikut bergabung minum bersama teman-temannya di depan asrama hingga sekitar pukul 03.00 Wita.

Setelah itu, ia membersihkan botol dan sampah bekas minuman, memasukkan motornya ke kos, lalu masuk kamar untuk tidur. Ilham mengakui bau minuman masih tercium dari dirinya saat kejadian karena baru sekitar satu jam berselang, namun ia menegaskan kondisinya masih sadar.

Ilham terbangun setelah mendengar suara sejumlah orang berlari dari arah belakang asrama, yang semakin mendekat hingga berhenti di sekitar kamarnya. Ia mendengar teriakan dari luar yang menunjuk kamarnya dan meminta pintu dibuka: “Woy, ini dia kamarnya, woy-woy, buka anjing”, sebelum pintu didobrak.

Ilham menyebut ada sekitar 20 orang yang datang ke lokasi, sementara kakaknya sempat dihadang sekitar delapan orang di bagian depan asrama. Setelah mereka merusak pintu ia dibawa keluar dari asrama.

Setelah dibawa keluar dari kamar, Ilham mengaku mengalami pemukulan menggunakan sejumlah benda tajam dan keras seperti parang, linggis, kapak, dan pipa, hingga menyebabkan luka di kaki, bagian bokong (bekas tebasan), serta benjol-benjol di tubuhnya.

“Saya dipukul pakai benda tajam, parang, linggis, kapak dan pipa. Ada luka di kaki, bagian bokong, bekas tebasan dan benjol-benjol di badan,” tuturnya.

Beberapa waktu kemudian polisi tiba di lokasi, dan Ilham memilih mengikuti polisi untuk mengamankan diri. Ia juga menjelaskan bahwa kondisinya dalam video yang viral sudah sangat lemas sehingga ucapannya saat itu tidak lagi terkontrol dengan baik.

“Dalam video yang beredar itu saya sudah dalam kondisi lemas, Kak. Sudah tidak terkontrol saya bicara,” katanya.

Rachmi, yang berada satu kamar dengan Ilham, mengaku sebelumnya mendengar suara orang berlari dari kejauhan yang semakin mendekat. Sebelum sampai ke kamarnya, orang-orang tersebut lebih dulu mengetuk kamar tetangga. Karena kamar Rachmi tidak merespons, mereka berusaha membobol pintu menggunakan linggis sambil berteriak, “Buka, jangan pura-pura tidur.”

Rachmi dan adiknya menahan pintu dari dalam, namun linggis berhasil mencongkel salah satu papan pintu hingga ujungnya sempat mengenai tangan Rachmi.

“Dia ambil linggis, kemudian cungkil pintunya. Ujung linggis sampai kena tangan saya,” tutur Rachmi.

Setelah celah terbentuk, tangan Ilham ditarik dari dalam kamar untuk dipaksa keluar. Rachmi yang ketakutan lari bersembunyi di balik tirai, sementara Ilham berusaha bertahan sebelum akhirnya berhasil ditarik keluar.

Rachmi menjelaskan bahwa seluruh asrama gelap saat kejadian karena lampu tidak menyala meski sebelumnya menyala normal, ia sempat mencoba menekan saklar namun lampu tetap tidak berfungsi. Ia hanya sempat mengenali salah seorang pelaku berpostur tinggi, namun wajahnya tidak dikenali karena gelap.

“Yang masuk pertama itu tinggi, tapi mukanya saya tidak terlalu hafal karena gelap,” ujarnya.

Setelah Ilham dibawa keluar, Rachmi tetap bertahan di dalam kamar karena ketakutan. Tak lama kemudian, dua orang yang tidak dikenalnya masuk yang menurut Rachim bukan bagian dari mahasiswa Papua di asrama tersebut. Ia mengaku tidak mengetahui identitas maupun motif kedua orang itu.

Salah satu berada di luar mencari sandal, sementara satu lagi masuk ke kamar dan meminjam ponsel milik Ilham dengan alasan untuk senter mencari sandal.

Saat Rachmi menanyakan keberadaan adiknya, orang tersebut mengaku tidak tahu dan meminta Rachmi tidak ribut.

“Saya tanya, mana adikku? Dia bilang tidak tahu. Dia bilang jangan ribut,” kata Rachmi.

Orang itu juga sempat membalik sweater yang dikenakannya sebelum akhirnya pergi.

Baik Ilham maupun Rachmi membantah mengetahui asal-usul anak busur yang disebut dalam rangkaian kejadian. Rachim menegaskan benda tersebut tidak ditemukan di kamarnya, dan ia tidak melihat ada mahasiswa Papua yang masuk untuk mengambil barang bukti tersebut.

“Anak busur itu tidak ada di kamar saya, Kak. Saya tidak tahu mereka dapat dari mana itu anak busur,” tegas Ilham.

Ia meminta persoalan itu diperiksa berdasarkan bukti serta keterangan pihak-pihak yang berada di lokasi.

Rachmi menegaskan tidak dapat mengenali wajah para pelaku karena kondisi gelap, dan tidak mengetahui pasti identitas maupun motif dua orang yang masuk ke kamarnya. Karena itu, keduanya menyerahkan pengungkapan identitas, motif, dan keterkaitan masing-masing pihak kepada kepolisian.

Ilham dan Rachmi berharap penyelidikan dilakukan secara menyeluruh mencakup kronologi penyerangan, pihak yang melakukan kekerasan, hingga asal-usul anak busur. Keduanya juga meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan pihak yang bersalah hanya berdasarkan video atau informasi yang beredar di media sosial.

Laporan: Andi Mahfud

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|