Catatan: M. Djufri Rachim (Jurnalis dan Dosen pada Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Halu Oleo)
VIRALnya polemik Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Kalimantan Barat sesungguhnya bukan sekadar soal menang atau kalah dalam sebuah perlombaan pelajar. Peristiwa itu membesar karena publik melihat sesuatu yang jauh lebih mendasar. Bagaimana etika komunikasi dipertontonkan di ruang pendidikan, bagaimana otoritas merespons kritik, dan bagaimana seorang pelajar mempertahankan keyakinannya secara santun di hadapan kekuasaan.
Nama Yosepha Alexandra –akrab dipanggil Ocha– kemudian menjadi perhatian publik. Ia hanyalah siswi kelas XI di SMAN 1 Pontianak. Berdiri di depan meja juri dalam suasana kompetisi yang penuh tekanan. Namun justru dari posisi yang tampak kecil itulah lahir suara yang kemudian menggema ke ruang publik nasional.
Ada banyak hal yang layak diapresiasi dari sikap Ocha.
Pertama, jawabannya benar. Ini menunjukkan kapasitas intelektual dan penguasaan substansi. Dalam sebuah lomba akademik, kemampuan memahami materi tentu menjadi fondasi utama.
Kedua, ketika jawabannya dinyatakan salah, ia tidak memilih diam. Ia berani menyampaikan protes. Ini menunjukkan keberanian mental dan daya kritis yang kuat. Tidak semua pelajar memiliki keberanian untuk mempertahankan argumentasi di hadapan otoritas.
Ketiga, ketika menyampaikan protes, ia mengawalinya dengan kata “izin”. Di tengah situasi tegang, ia tetap menjaga kesantunan komunikasi. Ini menunjukkan bahwa keberanian tidak harus hadir dalam bentuk kemarahan.
Keempat, Ocha memperlihatkan kemampuan berpikir kritis. Ia tidak sekadar menghafal jawaban, tetapi memahami substansi materi dan mampu mempertanyakan keputusan yang dianggap tidak tepat. John Dewey (1910) menyebut berpikir reflektif sebagai kemampuan menimbang persoalan secara aktif dan rasional. Sikap Ocha menunjukkan kemampuan itu bekerja.
Kelima, ia menunjukkan kemampuan argumentatif yang sehat. Ia tidak memprotes dengan emosi berlebihan, melainkan mencoba menjelaskan dasar jawaban yang diyakininya benar. Dalam ruang publik modern, kemampuan berargumentasi secara rasional adalah kualitas yang semakin penting.
Keenam, Ocha memperlihatkan kepercayaan diri akademik. Banyak siswa memilih diam ketika berhadapan dengan otoritas karena takut dianggap melawan. Ocha justru menunjukkan keyakinan terhadap pengetahuan yang dimilikinya. Ini bukan kesombongan, tetapi keberanian mempertanggungjawabkan apa yang diyakininya benar.
Ketujuh, ia mampu mengendalikan emosi. Dalam situasi kompetitif dan disaksikan banyak orang, Ocha tetap menjaga intonasi dan sikapnya. Daniel Goleman (1995) melalui konsep emotional intelligence menjelaskan bahwa kemampuan mengelola emosi merupakan bagian penting dari kedewasaan sosial.
Kedelapan, ia tetap menghormati forum meskipun berbeda pendapat. Ia tidak menyerang pribadi juri, tidak berbicara kasar, dan tetap menggunakan bahasa formal. Ini menunjukkan pemahaman tentang budaya dialog yang sehat.
Kesembilan, Ocha menjadi simbol keberanian generasi muda. Di tengah budaya sosial yang kadang mendorong anak muda untuk sekadar patuh tanpa bertanya, ia justru menunjukkan bahwa berpikir kritis dan menyampaikan keberatan secara santun adalah bagian penting dari pendidikan demokratis.
Kesepuluh, ia memperlihatkan bahwa kritik dapat tetap elegan. Di era media sosial yang sering penuh ujaran kasar, Ocha justru memperlihatkan model kritik yang tegas, berbasis substansi, tetapi tetap beretika.
Karena itu, kritik publik kemudian bukan hanya tertuju pada keputusan juri, melainkan juga pada cara komunikasi yang muncul dalam arena lomba tersebut. Bahkan muncul sindiran yang ramai di media sosial: “Bu Indri, Anda ini juri atau komentator artikulasi?” Kalimat ini memang satir, tetapi menyimpan kritik serius tentang bagaimana substansi jawaban seolah tergeser oleh persoalan teknis yang dianggap tidak proporsional.
Dalam perspektif etika komunikasi, peristiwa ini sangat menarik dikaji. Etika komunikasi pada dasarnya berbicara tentang penghormatan terhadap manusia dalam proses pertukaran pesan. Komunikasi bukan hanya soal siapa yang berbicara, tetapi bagaimana ruang dialog dibangun secara adil.
Jurgen Habermas (1984) melalui teori communicative action menjelaskan bahwa komunikasi ideal harus dibangun atas dasar rasionalitas, keterbukaan argumentasi, dan kesempatan yang setara untuk menyampaikan pendapat. Dalam komunikasi yang sehat, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki kuasa, melainkan oleh argumentasi yang paling rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.
Di titik inilah publik melihat adanya persoalan. Ketika peserta sudah menyampaikan argumentasi secara jelas, tetapi ruang dialog tertutup oleh keputusan sepihak, maka komunikasi kehilangan esensi deliberatifnya. Yang muncul bukan lagi dialog, melainkan dominasi otoritas.
Padahal ruang pendidikan seharusnya menjadi tempat paling aman bagi tumbuhnya keberanian berpikir kritis. Paulo Freire (1970) dalam Pedagogy of the Oppressed menolak model pendidikan yang hanya menempatkan siswa sebagai penerima keputusan tanpa ruang dialog. Pendidikan yang sehat justru mendorong peserta didik untuk bertanya, mengkritik, dan menguji argumentasi secara rasional.
Karena itu, ketika Ocha menyampaikan keberatan, sesungguhnya ia sedang memperlihatkan praktik pendidikan demokratis yang ideal. Ia tidak sedang membangkang. Ia sedang berpikir kritis.
Yang membuat publik semakin bersimpati adalah cara ia menyampaikan protes. Tidak ada bentakan. Tidak ada penghinaan. Ia justru berbicara dengan artikulasi jelas dan bahasa yang sopan. Dalam teori komunikasi interpersonal, hal ini dapat dijelaskan melalui konsep politeness theory dari Penelope Brown dan Stephen Levinson (1987). Mereka menjelaskan bahwa manusia cenderung menjaga “wajah sosial” lawan bicara dalam interaksi komunikasi. Kata “izin” yang diucapkan Ocha menjadi simbol penghormatan terhadap forum dan terhadap orang yang sedang berbeda pendapat dengannya.
Ironisnya, polemik ini justru terjadi dalam lomba tentang Empat Pilar Kebangsaan dan nilai-nilai Pancasila. Padahal sila keempat berbicara tentang hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan. Musyawarah bukan sekadar prosedur formal, tetapi kesediaan mendengar argumentasi secara jujur dan terbuka.
Tulisan reflektif yang kemudian viral menghadirkan satu kalimat yang sangat kuat: “Kebenaran akan mencari jalannya sendiri.” Kalimat ini menjadi resonan karena publik melihat bagaimana suara seorang pelajar akhirnya mendapatkan pembenaran luas dari masyarakat digital.
Fenomena ini mengingatkan pada pemikiran Michel Foucault (1980) tentang relasi antara pengetahuan dan kekuasaan. Foucault menjelaskan bahwa pihak yang memiliki otoritas sering kali memiliki kemampuan menentukan apa yang dianggap benar dalam ruang sosial. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa kebenaran substantif tidak selalu identik dengan keputusan formal kekuasaan.
Kadang kebenaran justru datang dari suara kecil yang awalnya diabaikan.
Kasus Ocha memperlihatkan hal itu. Seorang siswa SMA yang tampak biasa ternyata mampu menghadirkan diskursus nasional tentang keadilan, komunikasi, dan penghormatan terhadap argumentasi. Ia mengingatkan publik bahwa kritik bukan ancaman. Kritik adalah bagian penting dari kehidupan demokratis.
Dalam konteks komunikasi publik modern, respons terhadap kritik justru menentukan kualitas suatu institusi. Rhenald Kasali (2022) dalam berbagai pandangan publiknya sering menekankan pentingnya growth mindset dan keterbukaan terhadap evaluasi. Institusi yang sehat bukan institusi yang selalu benar, melainkan institusi yang bersedia memperbaiki diri ketika muncul kekeliruan.
Sebab kekuasaan yang matang tidak takut diuji oleh argumentasi.
Yang membuat sebuah bangsa sehat bukanlah absennya kritik, melainkan kesediaan mendengar kritik secara jujur. Sebaliknya, kekuasaan yang menolak mendengar sering kali justru memperlihatkan ketakutannya sendiri terhadap kebenaran.
Mungkin Ocha tidak memenangkan lomba tersebut. Namun dalam satu hal, ia sudah menang, ia memperlihatkan bahwa keberanian mempertahankan kebenaran lebih bernilai daripada sekadar menerima keputusan yang keliru demi kenyamanan.
Di zaman ketika terlalu banyak orang memilih diam, keberanian seorang pelajar untuk berkata, “izin, saya rasa jawaban saya benar,” menjadi pelajaran moral yang jauh lebih penting daripada sekadar perebutan poin lomba.
Dan mungkin benar seperti yang diyakini banyak orang: kebenaran memang tidak selalu langsung menang. Tetapi selama masih ada keberanian untuk menyuarakannya, kebenaran akan selalu mencari jalannya sendiri. ([email protected])

7 hours ago
5

















































