SULTRAKINI.COM: KENDARI – Sambutan Koordinator Presidium Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Sulawesi Tenggara disampaikan oleh Dr. H. Abdurrahman Shaleh, S.H., M.Si., yang juga menjabat sebagai Penasihat Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia serta Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Sulawesi Tenggara masa bakti 2023–2028.
Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya menjaga ruh perjuangan HMI dan KAHMI di tengah dinamika sosial dan politik. Menurutnya, organisasi tidak boleh menjadi tempat bernaung karena kepentingan sesaat, melainkan harus menjadi wadah pengabdian yang memberi manfaat bagi umat dan bangsa.
“Jangan bergabung di KAHMI karena kepentingan, tetapi karena panggilan ruh perjuangan untuk memberi manfaat,” tegasnya.
Dalam momentum Ramadan yang telah memasuki hari kesembilan, ia menyampaikan empat hal yang menurutnya perlu menjadi bahan introspeksi bersama, terutama bagi para pemimpin dan kader.
1. Bertambahnya Ilmu, tetapi Hilang Dialog
Poin pertama adalah bertambahnya ilmu (syaidatul ‘ilm) namun hilangnya ruang dialog. Ia mengingatkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin terbuka pula dalam berdiskusi dan menerima pandangan orang lain.
Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW mendorong umatnya menuntut ilmu hingga ke negeri yang jauh. Ilmu, katanya, harus menjadi sarana kemanfaatan dan pengabdian, bukan melahirkan kesombongan intelektual.
2. Bertambahnya Kedudukan, tetapi Lupa Amanah
Kedua, bertambahnya kedudukan (syaidatul manzilah). Ia mengingatkan bahwa jabatan sering kali membuat seseorang berubah. Ketika belum memiliki kedudukan, seseorang mudah tersenyum dan menyapa, tetapi setelah memiliki kekuasaan menjadi sulit ditemui.
Ia menyinggung pentingnya keteladanan seperti yang dicontohkan para sahabat dalam sejarah Islam, bahwa kepemimpinan harus dibangun atas dasar kejujuran dan amanah.
Menurutnya, pemimpin perlu dievaluasi secara objektif. Kritik, katanya, harus dimaknai sebagai bentuk kepedulian demi kebaikan bersama, bukan sebagai serangan pribadi.
3. Bertambahnya Harta, tetapi Hilang Kepedulian
Ketiga, bertambahnya harta (syaidatul mal). Ia menilai bahwa kekayaan tidak boleh menjauhkan seseorang dari nilai ibadah dan kepedulian sosial.
“Ketika belum punya apa-apa, rajin ke masjid dan berdoa. Setelah diberi rezeki, jangan sampai lupa daratan,” ujarnya.
Menurutnya, harta harus menjadi sarana memperkuat kontribusi sosial, bukan alat memperluas kepentingan pribadi.
4. Bertambahnya Ibadah, tetapi Minim Akhlak
Keempat, bertambahnya ibadah (syaidatul ‘ibadah) namun tidak diiringi perbaikan akhlak. Ia mengingatkan agar umat tidak terjebak pada perdebatan-perdebatan yang tidak substansial, sementara persoalan besar bangsa justru terabaikan.
Ia menegaskan bahwa ibadah harus melahirkan perubahan perilaku dan kepedulian terhadap kemajuan umat.
Di akhir sambutannya, Dr. Abdurrahman Shaleh mengajak seluruh kader dan alumni untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum introspeksi diri, baik secara pribadi maupun dalam konteks kepemimpinan daerah.
Ia berharap KAHMI Sultra terus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah dan menghadirkan kepemimpinan yang teruji, terukur, serta berpihak pada kepentingan masyarakat luas.
Suasana penyampaian sambutan berlangsung hangat dan sesekali diselingi candaan yang disambut tawa hadirin, namun tetap sarat pesan reflektif bagi seluruh peserta yang hadir.
Laporan: Andi Mahfud

20 hours ago
7
















































