SULTRAKINI.COM: KENDARI – Universitas Halu Oleo (UHO) terus memperkuat budaya mutu akademik melalui pelatihan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang diselenggarakan oleh Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran Universitas Halu Oleo (LPMPP-UHO) di Same Hotel Kendari pada 3–4 Juni 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Prof. Dr. L. Hartanto Nugroho, M.Agr., dan diikuti puluhan dosen serta perwakilan unit kerja di lingkungan UHO. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman sivitas akademika terhadap penyusunan dan implementasi dokumen SPMI yang menjadi instrumen penting dalam menjaga dan meningkatkan mutu perguruan tinggi.
Wakil Rektor I UHO, Prof. Dr. La Ode Santiaji Bande, S.P., M.P., mengatakan pelatihan tersebut sangat strategis mengingat UHO saat ini telah menyandang status sebagai perguruan tinggi unggul. Menurutnya, keunggulan sebuah universitas tidak hanya diukur dari capaian akreditasi, tetapi juga dari kualitas implementasi sistem penjaminan mutu yang dijalankan secara berkelanjutan.
Ia menjelaskan, dokumen SPMI merupakan fondasi utama dalam memastikan seluruh proses akademik dan nonakademik berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan. Karena itu, penyusunan dokumen tersebut harus dilakukan secara serius dan mampu menjawab tantangan perkembangan pendidikan tinggi saat ini.
“Keunggulan perguruan tinggi nantinya akan terlihat dari implementasi dokumen SPMI yang dimiliki. Dokumen ini menjadi instrumen penting dalam menjaga kualitas penyelenggaraan pendidikan di universitas,” ujarnya.
Prof. Santiaji juga menyoroti perubahan paradigma penjaminan mutu yang kini mengacu pada regulasi terbaru. Jika sebelumnya perguruan tinggi hanya didorong untuk melampaui Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti), kini perguruan tinggi dituntut mengembangkan standar yang mengarah pada pengakuan dan kualitas bertaraf global.
Menurutnya, semangat penjaminan mutu saat ini tidak lagi berorientasi pada kelengkapan dokumen semata. Lebih dari itu, seluruh aktivitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus mampu memberikan dampak nyata serta menjadi solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara gading yang hanya kuat pada teori. Hasil pendidikan, penelitian, dan pengabdian harus bermanfaat serta mampu menyelesaikan persoalan di masyarakat. Itulah makna pendidikan tinggi yang berdampak,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, UHO saat ini memiliki capaian yang cukup membanggakan. Dari 116 program studi yang dimiliki, sebanyak 37 program studi telah meraih akreditasi unggul. Selain itu, sembilan program studi telah memperoleh akreditasi internasional, dan dalam waktu dekat akan bertambah empat program studi lagi.
Capaian tersebut, lanjutnya, menjadi modal penting bagi UHO untuk melangkah menuju perguruan tinggi berkelas dunia (World Class University). Target tersebut sejalan dengan visi UHO 2045 yang ingin menempatkan universitas sejajar dengan institusi pendidikan tinggi terkemuka di tingkat internasional.
Melalui pelatihan ini, Prof. Santiaji berharap seluruh fakultas, program studi, dan unit kerja di lingkungan UHO memiliki pemahaman yang sama terhadap standar mutu terbaru. Dengan demikian, seluruh unsur di universitas dapat bergerak bersama meningkatkan kualitas layanan akademik dan menciptakan pelayanan prima bagi mahasiswa serta masyarakat.
Laporan: Andi Mahfud

1 day ago
7

















































