SULTRAKINI.COM: KENDARI – Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Dr. Ir. Hugua, M.Ling., menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, pengelolaan sampah tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah daerah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pihak.
Pernyataan tersebut disampaikan Hugua usai membuka secara resmi Rapat Kerja Komisariat Wilayah (Komwil) VI Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Tahun 2026 di Hotel Claro Kendari, Rabu (3/6/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga 4 Juni 2026 itu mengangkat tema “Kolaborasi dan Sinergi Membangun Indonesia Timur” dengan subtema “Penanganan Pengelolaan Sampah Berbasis Partisipasi.”
Menurut Hugua, sampah pada dasarnya merupakan milik bersama sehingga penyelesaiannya juga harus dilakukan secara kolektif. Mulai dari pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga keluarga dan individu memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Ia mengatakan, komitmen penanganan sampah juga menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Dalam berbagai kesempatan, Presiden Republik Indonesia terus mengingatkan seluruh kepala daerah agar menjadikan persoalan sampah sebagai agenda prioritas yang harus segera ditangani.
Karena itu, kata Hugua, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, serta seluruh pemangku kepentingan harus saling mendukung dan memperkuat sinergi. Setiap persoalan sampah yang muncul harus segera ditangani dari sumbernya agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Menurutnya, pembahasan mengenai pengelolaan sampah yang diangkat dalam forum APEKSI menjadi langkah strategis karena dapat melahirkan berbagai rekomendasi dan kebijakan yang dapat diterapkan oleh pemerintah daerah di seluruh Indonesia.
Hugua juga menyoroti terobosan pemerintah pusat yang mendorong pemanfaatan sampah sebagai sumber energi listrik. Program tersebut dinilai sebagai langkah maju yang tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah.
“Jika pengelolaan sampah menjadi energi listrik dapat berjalan dengan baik, maka persoalan sampah dapat diselesaikan secara lebih signifikan sekaligus mendukung kebutuhan energi,” ujarnya.
Selain pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah, Hugua menilai aspek pendidikan masyarakat menjadi hal yang sangat penting. Kesadaran masyarakat harus dibangun sejak lingkungan keluarga agar budaya mengelola sampah tumbuh dari rumah tangga.
Ia menjelaskan, langkah sederhana seperti memilah sampah organik dan nonorganik sejak dari rumah dapat memberikan dampak besar terhadap keberhasilan pengelolaan sampah. Menurutnya, apabila pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan bergerak secara bersamaan, maka cita-cita mewujudkan Indonesia yang bersih dan sehat akan lebih mudah tercapai.
Laporan: Andi Mahfud

1 day ago
8

















































