SULTRAKINI.COM: KENDARI – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO). Tim SUSTAINABLE Team berhasil mengharumkan nama Indonesia setelah meraih Silver Medal atau medali perak pada ajang 5th International Youth Summit yang berlangsung di Universiti Putra Malaysia, Kuala Lumpur, pada 29 Mei hingga 1 Juni 2026.
Kompetisi tingkat internasional tersebut diselenggarakan oleh Sentosa Foundation bekerja sama dengan Self Access Learning, Student Access Learning, serta Centre for Entrepreneurial Development and Graduate Marketability (CEM) Universiti Putra Malaysia. Kegiatan ini mempertemukan para pemuda dari berbagai negara untuk berkompetisi sekaligus bertukar gagasan terkait inovasi dan pembangunan berkelanjutan.
Ajang tersebut berlangsung di Universiti Putra Malaysia (UPM), salah satu universitas riset terkemuka di Malaysia yang berlokasi di Serdang, Selangor. UPM dikenal sebagai kampus berkelas dunia dan saat ini menempati peringkat ke-134 dunia.
Peserta yang terlibat berasal dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, Malaysia, Pakistan, Filipina, Maroko, Turkmenistan, dan Sudan Selatan. Beragam inovasi dipresentasikan dalam forum tersebut sebagai solusi atas berbagai persoalan global yang dihadapi masyarakat saat ini.
Ketua SUSTAINABLE Team, Rony Febryan, mengungkapkan bahwa pencapaian tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi seluruh anggota tim. Keberhasilan meraih medali perak pada ajang internasional menjadi kebanggaan tersendiri karena merupakan pengalaman pertama tim mengikuti kompetisi di luar negeri.
Keberhasilan tersebut diraih melalui kolaborasi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Selain dipimpin oleh Rony Febryan dari Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UHO angkatan 2023, tim ini juga diperkuat oleh Julian Ardi dari Pendidikan Matematika FKIP angkatan 2023, Naila Cahya Anugerah dari Fakultas Hukum angkatan 2023, Zahra Ar-Raihana dari Fakultas Kedokteran angkatan 2024, serta Rizaldo dari FKIP angkatan 2024.
Dalam kompetisi tersebut, mereka mengusung inovasi bertajuk Trapezoidal Artificial Reef, yakni terumbu karang buatan berbentuk trapesium yang dibuat menggunakan beton ramah lingkungan dengan memanfaatkan sejumlah limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Ketua tim, Rony Febryan, menjelaskan bahwa inovasi tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kondisi terumbu karang yang mengalami kerusakan di berbagai wilayah, baik di Indonesia maupun dunia. Di sisi lain, banyak limbah yang berpotensi mencemari lingkungan namun belum memiliki nilai guna yang maksimal.
“Alasan kami memilih inovasi ini karena sangat relevan dengan kondisi saat ini. Kerusakan terumbu karang dapat berdampak pada berbagai sektor, mulai dari ekonomi nelayan, ekosistem laut, hingga meningkatkan risiko bencana pesisir. Sementara itu, limbah seperti fly ash hasil pertambangan, sabut kelapa, dan cangkang kerang masih banyak terbengkalai dan belum dimanfaatkan secara optimal,” ujar Rony saat diwawancarai, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, limbah-limbah tersebut kemudian diolah menjadi material konstruksi terumbu buatan yang kuat dan berkelanjutan. Selain membantu mengurangi pencemaran lingkungan, inovasi tersebut juga diharapkan mampu mendukung upaya restorasi ekosistem pesisir dan laut melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Meski berhasil meraih penghargaan internasional, perjalanan tim menuju kompetisi tersebut tidak berjalan mudah. Rony mengungkapkan tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah membagi waktu antara aktivitas perkuliahan dengan persiapan lomba yang cukup padat.
Selain itu, sebagian besar anggota tim baru pertama kali mengikuti kompetisi di luar negeri. Kondisi tersebut membuat mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris maupun bahasa Malaysia selama kegiatan berlangsung.
Untuk menghadapi kompetisi, tim melakukan berbagai persiapan secara matang. Mulai dari menyusun konsep inovasi, membuat prototipe, melengkapi administrasi keberangkatan, hingga berlatih presentasi secara intensif agar mampu menjelaskan gagasan mereka di hadapan dewan juri internasional.
Di balik seluruh persiapan tersebut, dukungan keluarga juga menjadi sumber semangat tersendiri bagi para anggota tim. Sebelum berangkat ke Malaysia, mereka terlebih dahulu meminta restu dan doa dari orang tua masing-masing. Bahkan menjelang presentasi, para anggota tim masih menyempatkan diri menghubungi keluarga untuk meminta dukungan dan motivasi.
Rony mengaku pada awalnya tim cukup optimistis dengan inovasi yang dibawa. Namun rasa percaya diri itu sempat menurun setelah melihat banyaknya peserta dari berbagai negara yang tampil dengan presentasi yang sangat baik dan penuh ambisi.
“Awalnya kami cukup optimis. Tetapi setelah melihat presentasi peserta lain yang luar biasa, kami sempat merasa pesimis. Karena itu, saat pengumuman pemenang kami benar-benar terkejut ketika nama saya disebut sebagai peraih Silver Medal. Rasanya sangat senang dan bangga karena ini merupakan pengalaman pertama kami mengikuti lomba internasional dan langsung berhasil meraih juara,” ungkapnya.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa Universitas Halu Oleo mampu bersaing di tingkat global melalui karya inovatif yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Prestasi ini juga menjadi motivasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus berinovasi, berani tampil di forum internasional, serta berkontribusi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui ilmu pengetahuan dan kreativitas.
Laporan: Andi Mahfud

13 hours ago
6

















































