Judi Online Tidak Mensejahterakan: Memahami Ilusi Pendapatan dan Risiko Finansial

12 hours ago 9

Oleh: La Ode M. Aslan (Guru Besar Universitas Halu Oleo/Pemerhati Masalah Hukum Nasional)

SULTRAKINI.COM: Tadi malam, saat berbincang-bincang dengan teman-teman terkait kondisi bangsa, salah satu di antara yang hadir menyampaikan bahwa sudah semakin banyak warga yang terlibat judi online. Ironisnya, bahkan orang-orang yang berprofesi sebagai guru pun banyak yang terlibat ikut judi online. Miris sekali!

Perkembangan teknologi digital telah mengubah banyak aspek kehidupan masyarakat, termasuk cara orang berinteraksi, bekerja, berusaha, dan memperoleh hiburan. Namun, digitalisasi juga membuka ruang bagi berkembangnya berbagai aktivitas berisiko, salah satunya adalah perjudian online. Dengan akses melalui telepon pintar dan internet, perjudian yang dahulu membutuhkan tempat tertentu kini dapat dilakukan hampir kapan saja dan dari mana saja.

Persoalan yang perlu mendapat perhatian bukan hanya mengenai menang atau kalah dalam sebuah permainan, tetapi mengenai apakah perjudian online dapat menjadi sumber kesejahteraan ekonomi bagi individu dan keluarga. Jawabannya, berdasarkan perspektif ekonomi rumah tangga dan bukti kesehatan masyarakat, cenderung tidak. Perjudian dapat memberikan kemenangan finansial sesaat kepada sebagian orang, tetapi kemenangan tersebut tidak sama dengan pendapatan yang stabil, produktif, dan berkelanjutan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa perjudian dapat menimbulkan tekanan finansial, masalah hubungan keluarga, gangguan kesehatan mental, dan kemiskinan karena pengeluaran rumah tangga untuk perjudian dapat mengurangi kemampuan memenuhi kebutuhan dasar.

Dengan demikian, penting untuk membedakan antara uang yang diperoleh melalui keberuntungan sesaat dan pendapatan yang menciptakan kesejahteraan berkelanjutan.

Kemenangan Tidak Sama dengan Kesejahteraan

Salah satu kesalahpahaman mengenai perjudian online adalah anggapan bahwa kemenangan dapat menjadi sumber pendapatan. Seseorang mungkin memperoleh keuntungan besar dalam satu sesi perjudian. Namun, keuntungan tersebut tidak memiliki karakteristik yang sama dengan pendapatan dari pekerjaan, usaha produktif, atau investasi yang dikelola secara rasional.

Pendapatan yang mendukung kesejahteraan umumnya memiliki beberapa karakteristik: relatif dapat diprediksi, dapat direncanakan, berasal dari aktivitas produktif, dan dapat digunakan untuk membangun aset atau meningkatkan kapasitas ekonomi keluarga.

Sebaliknya, hasil perjudian sangat tidak pasti. Seseorang dapat menang hari ini dan kehilangan jumlah yang jauh lebih besar pada hari berikutnya. Bahkan ketika seseorang mengalami periode kemenangan, hal tersebut tidak membuktikan bahwa perjudian merupakan sumber pendapatan yang berkelanjutan.

Inilah yang dapat disebut sebagai ilusi pendapatan, di mana seseorang melihat uang yang masuk sebagai pendapatan, padahal uang tersebut merupakan hasil dari aktivitas berisiko yang secara keseluruhan dapat menghasilkan kerugian.

Mengapa Judi Sulit Menjadi Sumber Kesejahteraan?

Dalam perjudian, keuntungan operator merupakan bagian penting dari struktur permainan. Dalam jangka panjang, pemain tidak berada dalam posisi yang sama dengan penyelenggara. Berbagai bentuk perjudian memiliki mekanisme probabilitas dan struktur pembayaran yang membuat operator dapat memperoleh keuntungan secara berkelanjutan. Karena itu, strategi “menang terus” bukanlah dasar yang realistis untuk membangun kesejahteraan keluarga.

Masalah menjadi semakin serius ketika seseorang mulai menggunakan kemenangan sebelumnya untuk mempertaruhkan uang dalam jumlah yang lebih besar. Pada tahap tertentu, aktivitas tersebut dapat berubah dari hiburan menjadi upaya mengejar kembali kerugian (chasing losses).

WHO mencatat bahwa kerugian akibat perjudian tidak hanya terjadi pada orang yang mengalami gangguan perjudian secara klinis. Dampak dapat muncul ketika uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan pangan, perumahan, kesehatan, dan pendidikan dialihkan untuk perjudian.

Judi Online dan Rumah Tangga

Kesejahteraan tidak hanya dapat diukur dari pendapatan individu. Kesejahteraan juga mencakup kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasar, memiliki tabungan, memperoleh pendidikan, mendapatkan layanan kesehatan, memiliki tempat tinggal yang layak, serta menghadapi keadaan darurat finansial.

Dari perspektif tersebut, perjudian online dapat menjadi sangat problematis karena pengeluaran untuk perjudian bersaing langsung dengan kebutuhan rumah tangga.

Uang yang seharusnya digunakan untuk membeli kebutuhan pangan, membayar biaya sekolah, membayar cicilan, atau menabung untuk keadaan darurat dapat dialihkan untuk taruhan. Ketika terjadi kerugian, keluarga tidak hanya kehilangan uang, tetapi juga kehilangan kesempatan ekonomi untuk menggunakan uang tersebut secara produktif.

Dengan demikian, kerugian perjudian mempunyai dua dimensi: kerugian langsung berupa uang yang hilang dan kerugian tidak langsung berupa kesempatan yang hilang.

Dampaknya Tidak Berhenti pada Individu

Salah satu alasan mengapa perjudian tidak dapat dipandang semata-mata sebagai pilihan pribadi adalah karena dampaknya dapat menyebar kepada keluarga dan lingkungan sosial.

Kajian terhadap dampak perjudian menunjukkan bahwa orang lain di sekitar individu yang mengalami masalah perjudian—terutama pasangan, anak, dan anggota keluarga—juga dapat mengalami berbagai konsekuensi finansial, emosional, dan sosial. Sebuah kajian terbaru memperkirakan bahwa rata-rata enam orang lain dapat terdampak oleh setiap individu yang mengalami perjudian berisiko tinggi.

Persoalan perjudian bukan hanya persoalan “saya menggunakan uang saya sendiri”. Ketika sumber daya keluarga berkurang, dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh anggota keluarga.

Judi Online dan Kesejahteraan Psikologis

Kesejahteraan ekonomi dan kesejahteraan psikologis saling berhubungan. Kerugian finansial dapat menimbulkan stres, kecemasan, konflik keluarga, dan tekanan psikologis.

Banyak bukti mengenai dampak perjudian menemukan bahwa masalah perjudian yang berat berkaitan dengan penurunan kualitas hidup yang substansial.

Studi lain pada populasi umum juga menemukan bahwa tingkat kesejahteraan lebih rendah pada individu dengan masalah perjudian, dan dampaknya tidak hanya terbatas pada kelompok yang secara formal memenuhi kriteria gangguan perjudian.

Dengan demikian, keberadaan uang yang diperoleh sesaat tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan. Jika uang tersebut diperoleh dengan risiko kehilangan tabungan, meningkatnya utang, konflik keluarga, dan menurunnya kesehatan mental, maka secara keseluruhan hal tersebut tidak dapat disebut sebagai kesejahteraan.

Mengapa Judi Online Terlihat Menjanjikan?

Salah satu kekuatan perjudian online adalah kemampuannya menciptakan persepsi bahwa keuntungan mudah diperoleh. Iklan, promosi, bonus, kemenangan besar, dan berbagai bentuk pemasaran digital dapat membuat perjudian terlihat seperti kesempatan ekonomi.

Padahal, pengalaman seseorang yang menang tidak menggambarkan seluruh distribusi hasil. Orang yang menang cenderung lebih mudah menceritakan keberhasilannya, sedangkan orang yang mengalami kerugian sering kali tidak menceritakannya.

Hal ini menciptakan bias persepsi. Masyarakat dapat melihat beberapa contoh keberhasilan dan mengabaikan jumlah orang yang mengalami kerugian. Komersialisasi dan digitalisasi telah mempercepat normalisasi perjudian, sementara akses online membuat perjudian tersedia hampir kapan saja dan di mana saja.

Dari “Mencari Uang” Menjadi “Mengejar Kerugian”

Masalah yang lebih serius muncul ketika seseorang tidak lagi berjudi untuk hiburan, tetapi untuk memperoleh pendapatan atau mengembalikan uang yang telah hilang.

Pada tahap ini, keputusan ekonomi dapat menjadi semakin tidak rasional. Seseorang yang kehilangan Rp1 juta mungkin berpikir bahwa ia perlu mempertaruhkan Rp1 juta lagi untuk mendapatkan kembali uang tersebut. Jika kembali kalah, jumlah taruhan dapat meningkat.

Siklus tersebut dapat berlangsung sehingga terjadi kehilangan kendali, meningkatnya prioritas perjudian, serta terus berjudi meskipun telah mengalami konsekuensi negatif sebagai karakteristik penting gangguan perjudian.

Kesejahteraan Harus Dibangun melalui Aktivitas Produktif

Jika tujuan seseorang adalah meningkatkan kesejahteraan, maka pendekatan yang lebih rasional adalah mengubah uang dan waktu menjadi aset produktif.

Uang dapat digunakan untuk meningkatkan pendidikan dan keterampilan; mengembangkan usaha; membeli alat produksi; membangun tabungan darurat; berinvestasi secara terukur; meningkatkan produktivitas pekerjaan; membangun usaha keluarga; dan/atau mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.

Perbedaannya sangat mendasar. Dalam aktivitas produktif, seseorang menggunakan modal untuk menciptakan nilai baru. Dalam perjudian, seseorang mempertaruhkan uang untuk memperoleh hasil yang tidak pasti.

Karena itu, pembangunan kesejahteraan membutuhkan pergeseran paradigma dari mencari keberuntungan menuju menciptakan nilai.

Judi Online sebagai Persoalan Pembangunan

Perjudian online sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai persoalan moral atau perilaku individu. Ia juga dapat dipahami sebagai persoalan pembangunan sosial dan ekonomi.

Ketika sebagian pendapatan rumah tangga berpenghasilan rendah dialihkan dari konsumsi produktif dan tabungan ke perjudian, kemampuan rumah tangga untuk membangun aset dapat menurun. Dalam skala yang lebih luas, kondisi tersebut berpotensi memperkuat kerentanan ekonomi kelompok masyarakat yang sudah rentan.

Perjudian sangat berkontribusi terhadap kemiskinan melalui pengalihan pengeluaran rumah tangga dari kebutuhan penting.

Oleh karena itu, kebijakan mengenai perjudian online perlu ditempatkan dalam kerangka perlindungan konsumen, kesehatan masyarakat, literasi keuangan, perlindungan keluarga, dan pembangunan kesejahteraan.

Keimanan dan Literasi Keuangan sebagai Benteng Pertahanan

Agama memberikan pedoman mengenai perilaku yang dianggap baik dan buruk. Dalam banyak tradisi keagamaan, perjudian dipandang sebagai aktivitas yang dapat merusak kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Dalam perspektif Islam, misalnya, maisir atau perjudian secara tegas dilarang. Al-Qur’an menyebut perjudian sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan permusuhan dan menghalangi manusia dari mengingat Allah dan melaksanakan kewajiban.

Dengan demikian, larangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan memperoleh uang, tetapi juga dengan dampak sosial, moral, dan spiritualnya.

Selain itu, salah satu strategi penting untuk mengurangi ketertarikan terhadap perjudian adalah meningkatkan literasi keuangan. Literasi keuangan harus mengajarkan bahwa keuntungan yang diperoleh secara kebetulan tidak sama dengan peningkatan kekayaan.

Seseorang yang memperoleh Rp10 juta dari perjudian tetapi kemudian kehilangan Rp15 juta sebenarnya tidak menjadi lebih sejahtera. Bahkan jika seseorang memperoleh Rp10 juta dan berhenti setelah menang, hal tersebut tetap tidak membuktikan bahwa perjudian merupakan strategi ekonomi yang dapat direplikasi secara konsisten.

Membangun Narasi Baru tentang Kesuksesan

Masyarakat membutuhkan narasi baru mengenai keberhasilan ekonomi. Kesuksesan tidak seharusnya diukur dari seberapa cepat seseorang mendapatkan uang, tetapi dari kemampuan seseorang membangun kehidupan yang lebih aman, produktif, dan berkelanjutan.

Jika salah satu aktivitas justru meningkatkan risiko kehilangan komponen-komponen tersebut, aktivitas tersebut perlu dipertanyakan sebagai strategi kesejahteraan.

Kesimpulan

Judi online mungkin memberikan kemenangan finansial kepada sebagian orang dalam jangka pendek, tetapi kemenangan sesaat tidak sama dengan kesejahteraan. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa perjudian dapat berhubungan dengan tekanan finansial, penurunan kualitas hidup, konflik keluarga, masalah kesehatan mental, dan pengalihan sumber daya rumah tangga dari kebutuhan penting.

Karena itu, judi online tidak layak diposisikan sebagai strategi untuk meningkatkan kesejahteraan individu, keluarga, maupun masyarakat. Kesejahteraan yang berkelanjutan lebih tepat dibangun melalui pekerjaan produktif, kewirausahaan, pendidikan, pengembangan keterampilan, tabungan, dan investasi yang dikelola secara rasional.

Pada akhirnya, kesejahteraan bukanlah tentang seberapa besar seseorang dapat menang dalam sebuah permainan, tetapi tentang seberapa mampu seseorang membangun kehidupan yang prokeimanan, produktif, aman, sehat, dan berkelanjutan.

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|