INIPASTI.COM, Makassar – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan menegaskan bahwa langkah migrasi sistem data dan informasi melalui platform SatuMu bukan sekadar urusan teknis tata kelola organisasi. Langkah itu dinilai sebagai sebuah lompatan kebudayaan dan kerja peradaban dalam mengawal transformasi persyarikatan di era digital.
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM Sulsel, Hadisaputra mengatakan itu sembari mengingatkan para kader bahwa momentum ini menempatkan mereka sebagai pelaku sejarah yang menjembatani peralihan Muhammadiyah dari era manual menuju digital.
“Jadi, SatuMu tidak boleh kita lihat sekadar kerja teknis administratif. Ini adalah kerja peradaban, kita sedang bertransformasi di era digital dan kitalah pelaku sejarahnya,” ujar Hadisaputra saat sambutan Training of Trainer (ToT) SatuMu di Aula Gedung Pusdam, Sabtu, 13 Juni 2026.
Refleksi Historis dan Fenomena “Login Muhammadiyah
Dalam kesempatan tersebut, Hadisaputra sempat menengok kembali rekam jejak digital Muhammadiyah pada tahun 2005. Kala itu, Muhammadiyah telah memelopori jaringan situs web terbesar di Indonesia melalui sub-domain Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) di seluruh Indonesia.
Bahkan, ia mengenang cerita dari mantan Ketua PBNU, almarhum KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), yang menyebut bahwa pada masa-masa awal gerakan digital, Nahdlatul Ulama sempat mengundang dan meminjam kader-kader Muhammadiyah untuk belajar merintis ekosistem digital mereka.
Kini, urgensi ruang digital yang inklusif semakin terasa seiring mencuatnya fenomena “Login Muhammadiyah” di jagat maya—sebuah istilah yang merujuk pada tingginya ketertarikan publik di luar organisasi untuk mengenal dan bergabung dengan Muhammadiyah.
“Banyak orang di luar sana kagum dengan Muhammadiyah tapi tidak tahu caranya bergabung. Nah, MPI Pimpinan Pusat ditugasi mengawal transformasi digital ini, bagaimana memberikan ruang digital agar mereka mudah mengakses Muhammadiyah,” tambahnya.
Mewujudkan Organisasi Modern dan Efisien
Gayung bersambut, Sekretaris MPI PP Muhammadiyah, Amir Nasruddin, menjelaskan bahwa transformasi melalui SatuMu merupakan langkah konkret dalam mewujudkan mandat Muktamar, yakni menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi yang modern, maju, dan profesional.
Meski diakuinya fase awal transisi ini membutuhkan adaptasi dan kerap terkesan lambat, Amir optimistis dampak jangka panjangnya akan sangat signifikan terhadap efisiensi organisasi.
“Dampak konkretnya adalah tata kelola yang lebih cepat, lebih mudah, dan murah. Prosesnya memang memakan waktu di awal, namun implikasinya organisasi akan semakin efisien dan efektif, sehingga kita lebih produktif,” jelas Amir.
Melalui pelatihan ToT ini, diharapkan bakal lahir tim instruktur SatuMu di tingkat wilayah (PWM) serta Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), yang nantinya akan melanjutkan bimbingan teknis hingga ke tingkat cabang dan ranting.
Ujian Keikhlasan di Abad Kedua
Sementara itu, Wakil Ketua PWM Sulsel, Dahlan Lama Bawa, mengingatkan bahwa memasuki abad kedua usia Muhammadiyah, kesiapan infrastruktur digital harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual para pengelolanya.
Ia menekankan bahwa tantangan terbesar para agen dan admin digital di lapangan sering kali bukan pada penguasaan aplikasi, melainkan konsistensi dan keikhlasan dalam berkhidmat.
“Dalam kehidupan ini selalu ada godaan dan gangguan, bisikan-bisikan yang biasanya mengganggu keikhlasan. Kami mengingatkan agar tetap ikhlas mengurusi agama ini, karena keikhlasan itu yang akan mengangkat performa dan kualitas keberadaan kita di sini,” pungkas Dahlan.

10 hours ago
4

















































