SULTRAKINI.COM: BUTON TENGAH – Sebanyak 50 dokter di Kabupaten Buton Tengah (Buteng) kini menyatukan langkah dalam wadah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Buteng yang resmi terbentuk pada Sabtu (11/4/2026).
Kehadiran cabang ke-15 dari IDI Sulawesi Tenggara (Sultra) ini diharapkan menjadi motor penggerak dalam mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan, seiring komitmen pemerintah daerah memperkuat sektor tersebut.
Dalam Musyawarah Cabang (Muscab) perdana, dr. Israd Badaru terpilih sebagai ketua melalui mekanisme voting.
Turut hadir dalam pembukaan Muscab tersebut, Bupati Buteng Azhari, Ketua IDI Provinsi Sultra dr. La Ode Rabiul Awal, Ketua IDI Buton dr. Elwin, serta jajaran pengurus IDI lainnya.
Azhari menyambut baik terbentuknya IDI di Buteng yang bertepatan dengan tahun pertama kepemimpinannya. IDI dinilainya penting karena ia sedang mendorong peningkatan pelayanan kesehatan.
“Pelayanan kesehatan kita kalau bisa terdepan, paling tidak di Pulau Muna. Kenapa bisa terdepan di Pulau Muna? Karena kita sudah dibantu pemerintah dengan rumah sakit yang bagus,” ujar Azhari.
Kemudian, Buteng dari sisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) masih tergolong rendah. Salah satu indikator IPM adalah pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, indikator kesehatan ini diupayakan terus agar lebih baik.
Dalam kaitannya dengan terbentuknya IDI, Azhari berharap lembaga ini dapat mendorong para dokter untuk serius bekerja. Ia juga mengaku berkomitmen mendorong kesejahteraan para dokter, salah satu jalannya dengan mengupayakan RSUD Buteng menjadi mandiri melalui status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Sementara itu, Ketua IDI Provinsi Sultra, dr. La Ode Rabiul Awal, mengatakan sebelumnya di Buteng belum ada cabang IDI yang mandiri, sehingga para anggota masih tergabung dengan IDI Buton. Hal itu membuat koordinasi sulit dilakukan.
“Sementara sekarang tiap-tiap daerah punya kebijakan yang tidak selalu seragam. Masalah kesehatan dasar kadang-kadang antara Buteng dengan Buton induk mungkin tidak sama, kalaupun sama maka kekuatan anggaran dan sumber daya tidak sama,” ujar Rabiul.
Oleh karena itu, dengan terbentuknya IDI Buteng diharapkan bisa menjadi mitra yang baik bagi pemerintah setempat. Bila ada arahan kebijakan bupati melalui dinas kesehatan, maka akan semakin mudah terkonsolidasi melalui IDI.
Selain itu, kehadiran IDI juga penting untuk mengurus dan mengawal bila para dokter memiliki aspirasi, misalnya terkait kesejahteraan, alat kesehatan (alkes), dan lainnya.
“Sebenarnya kita di IDI ini lebih condong ke manusianya dulu. Kita jaga ilmunya, kita jaga integritas, sikap (attitude), dan kode etiknya. Karena kalau itu bagus semua, kalau dia bekerja di fasilitas yang baik pasti akan bagus output-nya,” ujar Rabiul.
IDI Buteng menjadi cabang ke-15 di Provinsi Sultra. Daerah yang belum terbentuk kepengurusan IDI cabang tinggal Buton Selatan dan Konawe Kepulauan.
Di tempat yang sama, Ketua IDI Buton dr. Elwin mengatakan pembentukan IDI Buteng merupakan aspirasi para dokter di Buteng yang sebelumnya tergabung dalam IDI Buton. Aspirasi itu disambut baik, apalagi syarat minimal jumlah anggota sudah terpenuhi. Saat ini terdapat 50 dokter yang terdaftar di IDI Buteng.
“Jadi memang sudah saatnya IDI Buteng memisahkan diri dari induknya (IDI Buton). Kita berharap teman-teman yang ada di sini bisa mengembangkan dirinya lagi, melayani masyarakat karena yang mengetahui daerah-daerah di sini adalah dokter-dokter di sini,” ujar Elwin.
Kehadiran IDI Buteng juga, menurut dia, dapat sangat berperan dalam penegakan disiplin dan etika para dokter. Apalagi di era saat ini banyak tuntutan, termasuk agar dokter terus mengembangkan diri.
“Jadi dengan adanya organisasi di sini mungkin bisa mengadakan pelatihan atau workshop, mungkin ada pengobatan terbaru. Misalnya dengan dokter spesialis berbagi ilmu, nah IDI yang jadi wadahnya,” ujarnya.
Ketua IDI Buteng terpilih, dr. Israd Badaru, menegaskan bahwa organisasi cabang yang baru terbentuk ini tidak hanya menjadi wadah formal para dokter, tetapi juga membawa misi besar dalam menjaga dan meningkatkan kualitas profesi.
Ia menyebut, IDI Buteng akan fokus pada penguatan prinsip keilmuan, penegakan etik profesi, serta membangun soliditas antaranggota.
Menurutnya, setelah berdiri secara mandiri, IDI Buteng diharapkan semakin solid dalam menggerakkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Organisasi ini juga akan berperan dalam memberikan perlindungan hukum serta mengawal kesejahteraan setiap anggotanya.
Selain itu, IDI Buteng diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi yang solutif dan konstruktif bagi pemerintah daerah, khususnya dalam membantu memecahkan berbagai persoalan di sektor kesehatan serta mendukung pencapaian program-program pemerintah.
Dari sisi pengembangan kapasitas, IDI Buteng berencana menggelar berbagai kegiatan seperti workshop, simposium, hingga pelatihan. Kegiatan ini diharapkan mampu memperbarui pengetahuan dan keterampilan dokter seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran yang terus berubah.
“Kita ingin teman-teman dokter di Buteng terus berkembang, baik dari sisi keilmuan maupun profesionalitas. Dengan begitu, pelayanan kepada masyarakat juga akan semakin optimal,” ujar Israd yang akrab disapa Ical.
Ia menambahkan, kehadiran IDI Buteng diharapkan menjadi motor penggerak dalam peningkatan kualitas layanan kesehatan di daerah, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjawab berbagai tantangan di sektor kesehatan.

18 hours ago
7
















































