Retorika Politik ASR Diam-diam Menghanyutkan

5 hours ago 2

Oleh: Dasmin (Dosen Jurnalistik FISIP UHO)

SULTRAKINI.COM: Beberapa waktu lalu, ruang publik digital Sulawesi Tenggara dibuat tersentak dengan pernyataan ASR bahwa ia “belum memikirkan lagi” untuk lanjut dua periode Sultra 2029. Pernyataan itu disampaikan saat audiensi bersama pimpinan lembaga kampus di Kota Kendari. Tak lama kemudian, beranda media online ramai memberitakannya.

Kalau pun pembaca belum ngeh dengan isu ini, silakan googling beritanya. Namun, tulisan ini tidak akan mengulas terlalu jauh isi pertemuan dengan pimpinan lembaga tersebut.

Kadang ruang publik digital kita perlu sesekali dihangatkan dengan wacana tak terduga seperti ini agar dialektika terus mengalir. Dalam pandangan teori permainan (game theory), salah satu asumsinya adalah bahwa setiap wacana yang bergulir tidak pernah berada di ruang hampa.

Ada perhitungan rasional di balik setiap jengkal isu yang dilempar ke publik. Tentunya, ASR sangat sadar bahwa ucapan yang didengungkan akan menjadi sasaran empuk masyarakat untuk dibicarakan.

Dari sisi popularitas, tentu saja wacana ini tidak sia-sia. Artinya, di satu sisi dialektika publik terus bergulir, di sisi lain sosok ASR tetap melekat kuat di memori masyarakat. Sebenarnya, mungkin ini terdengar sedikit receh, tetapi sering kali justru diabaikan oleh elite lawan.

Sosoknya mungkin cukup kontroversial, tetapi ditopang gaya retorika politik yang khas sehingga sisi kontroversial itu tetap dapat diterima oleh masyarakat. Dalam pandangan retorika Aristoteles, ASR banyak menggunakan pendekatan pathos, yakni pendekatan retorika yang bertujuan membangun emosi khalayak sehingga mudah tersentuh dan menerima pesan yang disampaikan.

Kita coba mengurai satu isu kontroversial yang pernah menjadi perbincangan hangat di ruang publik, yakni pemberitaan mengenai klaim pembukaan lahan mangrove yang diduga milik ASR. Saat rekan-rekan media mengonfirmasi duduk perkaranya, ia menjawab bahwa lahan tersebut akan diperuntukkan sebagai pusat pendidikan dan pemanfaatannya kelak tidak lain untuk masyarakat Sultra.

Mendengar pernyataan tersebut, publik Sultra perlahan mulai berhenti menyoroti isu itu hingga lambat laun hilang dari perbincangan.

Retorika ASR ini tidak lazim bagi masyarakat awam dan mudah memengaruhi ketika hal-hal yang menyentuh secara emosional disampaikan secara terbuka.

Ketika melontarkan pernyataan “belum memikirkan untuk periode selanjutnya”, sebenarnya kalimat itu terdengar seperti mantra yang cukup menyihir warga yang mendengar, menyaksikan, ataupun membacanya di media massa.

Hal ini dapat dibaca publik sebagai bentuk kerendahan hati ASR sehingga kesan yang terbangun adalah ia tidak agresif secara politik, santai, dan tidak terlalu mengejar kekuasaan.

Di ruang lain, ASR juga tampak ingin menghindari resistensi emosional publik. Artinya, ia sangat memahami psikologi masyarakat Sultra yang dinamis sehingga secara emosional khalayak harus dikelola dengan baik.

Tujuan dari pengelolaan resistensi emosional ini tentu secara persuasif untuk meredam kritik, menghindari kecemburuan politik, atau bahkan lebih halus lagi, meredam serangan lawan sedini mungkin. Sekaligus menjaga perhatian publik tanpa gonjang-ganjing serta mempertahankan citra figurannya agar tetap positif dan fleksibel di mata masyarakat Sultra.

Namun, perlu dipahami juga bahwa kekuasaan adalah candu. Artinya, dengan segala instrumen kekuasaan yang dipegang saat ini, sangat mungkin ASR mengejar ambisi untuk periode selanjutnya. Hanya saja, dalam strategi politik, sering kali perlu diciptakan “kekacauan” agar lawan sulit membaca arah politik yang sedang berjalan.***

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|