Ambisi dan Siri’ di Dunia Fashion

6 hours ago 3

Oleh: Indrayanti (Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unhas)

SULTRAKINI.COM: Dunia kerja modern sering dipenuhi paradoks. Di satu sisi, orang dituntut tampil profesional, elegan, dan kompetitif. Namun, di sisi lain, ruang kerja juga menjadi arena paling manusiawi: tempat orang mencari pengakuan, mempertahankan harga diri, dan berjuang agar tetap dihormati.

Itulah yang terasa kuat dalam The Devil Wears Prada. Film ini memang berlatar industri fashion yang glamor, tetapi sesungguhnya berbicara tentang relasi kuasa dalam komunikasi manusia. Tentang bagaimana seorang pemimpin mempertahankan pengaruhnya, bagaimana bawahan menjaga loyalitas, dan bagaimana ambisi dapat mengubah komunikasi menjadi alat dominasi.

Jika dilihat dari perspektif komunikasi budaya, terutama dalam kajian nilai lokal siri’ na pesse pada masyarakat Bugis-Makassar, film ini menjadi menarik untuk dibaca lebih jauh. Sebab, di balik dunia fashion New York yang modern, tersimpan persoalan universal yang juga hidup dalam budaya Timur: soal martabat, loyalitas, empati, dan kehormatan diri.

Dalam budaya Bugis-Makassar, siri’ na pesse bukan sekadar konsep adat. Ia merupakan falsafah hidup. Siri’ dimaknai sebagai harga diri atau rasa malu yang menjaga martabat manusia, sedangkan pesse berarti empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama. Keduanya menjadi fondasi perilaku sosial masyarakat.

Menariknya, nilai tersebut juga tampak dalam hubungan antarkarakter di film itu.

Miranda Priestly, misalnya, merupakan representasi manusia yang sangat menjaga “siri’”-nya. Ia ingin tetap dihormati sebagai figur paling berpengaruh di industri fashion. Cara bicaranya tegas, dingin, dan penuh kontrol. Ia jarang menunjukkan kelemahan emosional karena sadar bahwa di dunia kompetitif, sedikit saja terlihat rapuh, legitimasi kepemimpinannya bisa runtuh.

Dalam perspektif komunikasi budaya, perilaku Miranda memperlihatkan bagaimana identitas sosial dibangun melalui simbol komunikasi. Ia menjaga citra diri melalui gaya bicara, ekspresi wajah, bahkan cara diamnya. Semua menjadi simbol status.

Fenomena seperti ini sebenarnya dekat dengan budaya Timur, termasuk masyarakat Bugis-Makassar. Bahwa manusia yang memiliki siri’ na pesse akan menjaga perilaku, ucapan, dan sikap hidupnya agar tetap terhormat di mata masyarakat.

Karena itu, bagi sebagian masyarakat Timur, kehilangan penghormatan sosial sering dianggap lebih menyakitkan dibanding kehilangan materi. Jabatan bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga simbol kehormatan.

Di sisi lain, Emily Charlton memperlihatkan loyalitas yang hampir tanpa batas kepada atasannya. Ia rela bekerja keras, menahan tekanan, bahkan mengorbankan kehidupan pribadinya demi tetap berada di lingkar kekuasaan Miranda.

Dalam teori pertukaran sosial, hubungan seperti ini dibangun atas harapan imbal balik. Namun, jika dibaca melalui perspektif budaya, loyalitas Emily juga dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan identitas sosialnya di lingkungan kerja elit. Ia takut kehilangan posisi, takut dianggap gagal, dan takut tersingkir dari kelompok bergengsi tempat ia bekerja.

Dalam masyarakat Bugis, relasi sosial semacam ini sering dikaitkan dengan konsep menjaga nama baik keluarga atau komunitas. Nilai siri’ na pesse melahirkan watak kerja keras, teguh pendirian, setia, dan pantang menyerah.

Karena itu, loyalitas dalam budaya tertentu bukan hanya soal hubungan profesional, tetapi juga menyangkut kehormatan diri.

Namun, film ini tidak berhenti pada loyalitas. Ia juga menunjukkan bagaimana ambisi dapat menggeser nilai empati. Beberapa karakter mulai menggunakan komunikasi secara manipulatif demi naik jabatan. Mereka membangun citra palsu, menjatuhkan rekan kerja secara halus, dan memanfaatkan relasi demi kepentingan pribadi.

Di titik inilah komunikasi kehilangan “pesse”-nya. Orang tidak lagi berbicara untuk membangun hubungan, melainkan untuk memenangkan persaingan. Bahasa menjadi alat strategi. Kedekatan menjadi transaksi. Persahabatan berubah menjadi kalkulasi.

Fenomena ini sangat relevan dengan kehidupan profesional saat ini, termasuk di Indonesia. Di era media sosial dan budaya kerja digital, citra sering kali lebih penting dibanding ketulusan. Orang berlomba membangun personal branding, tetapi perlahan kehilangan empati sosial. Banyak yang ingin terlihat sukses, tetapi sedikit yang benar-benar ingin memahami orang lain.

Padahal, dalam nilai siri’ na pesse, harga diri tidak dapat dipisahkan dari empati. Seseorang dianggap mulia bukan hanya karena berani atau sukses, tetapi juga karena memiliki kepedulian terhadap sesama.

Di sinilah film ini terasa relevan bagi masyarakat modern. Ia mengingatkan bahwa komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara atau memengaruhi orang lain. Komunikasi juga menyangkut nilai budaya yang membentuk cara manusia memperlakukan sesamanya.

Ketika komunikasi kehilangan empati, relasi kerja menjadi kering. Orang bekerja bersama, tetapi saling mencurigai. Orang terlihat profesional, tetapi sebenarnya lelah secara emosional.

Sebaliknya, ketika komunikasi dibangun dengan penghormatan dan empati, ruang kerja dapat menjadi lebih manusiawi. Pemimpin tidak hanya dihormati karena jabatan, tetapi juga karena kemampuan memahami bawahannya sebagai manusia.

Pada akhirnya, The Devil Wears Prada bukan hanya cerita tentang dunia fashion. Ia adalah cermin tentang manusia modern yang terus berusaha menjaga harga diri di tengah kerasnya persaingan hidup.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin kompetitif saat ini, pesan paling penting justru datang dari falsafah lama masyarakat Bugis-Makassar: bahwa kehormatan tidak cukup dibangun dengan kekuasaan semata, tetapi juga dengan empati terhadap manusia lain.***

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|