Gema Takbir di Ujung Ramadan: Sebuah Simfoni Perpisahan yang Syahdu

4 days ago 12
Web Info Hot Sore Cermat Non Stop

INIPASTI.COM, Langit senja di penghujung Ramadan membawa nuansa yang berbeda. Ada kelegaan setelah sebulan penuh berjuang menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, namun terselip pula rasa haru yang mendalam. Ketika hitungan hari bulan suci mendekati akhirnya, satu suara mulai membahana, bersahutan dari menara-menara masjid, dari surau-surau kecil di gang sempit, hingga dari sudut-sudut rumah di seluruh penjuru dunia. Gema takbir. “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilaha illallah. Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd.”

Gema takbir yang membahana ini, yang secara harfiah berarti “Allah Maha Besar,” sesungguhnya adalah pekik kemenangan. Kemenangan atas diri sendiri, kemenangan dalam menyelesaikan ibadah puasa sebulan penuh, dan penanda datangnya hari raya Idul Fitri, hari kembali kepada fitrah. Namun, bagi jiwa-jiwa yang telah merasakan manisnya iman dan khusyuknya ibadah selama Ramadan, gema takbir di malam terakhir ini membawa makna yang lebih dalam. Ia menjadi irama perpisahan yang pilu.

Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan haus. Ia adalah madrasah spiritual, waktu di mana intensitas ibadah meningkat drastis. Malam-malam dihidupkan dengan salat tarawih dan tadarus Al-Qur’an, siang hari diisi dengan kesabaran dan pengendalian diri, dan pintu-pintu sedekah terbuka lebar. Ada atmosfer kedekatan khusus dengan Sang Pencipta, ada kehangatan ukhuwah yang terasa lebih erat saat berbuka bersama atau beritikaf di masjid. Sebulan penuh, umat Muslim ditempa, dibersihkan, dan diangkat derajatnya.

Maka, ketika bulan penuh berkah ini hendak beranjak pergi, wajar jika hati merasa kehilangan. Takbir yang menggema seolah menjadi pengingat bahwa tamu agung ini akan segera pamit. Setiap lantunan “Allahu Akbar” terasa seperti ucapan selamat tinggal kepada malam-malam qiyamul lail yang syahdu, kepada sahur yang penuh berkah, kepada momen berbuka yang dinanti, dan kepada ampunan serta rahmat yang tercurah begitu deras. Ada rasa syukur yang melimpah karena telah diberi kesempatan bertemu dan menjalani Ramadan, namun diiringi pula kesedihan karena waktu istimewa ini harus berakhir.

Di seantero jagad, dari timur hingga barat, umat Muslim merasakan getaran yang sama. Meski disibukkan dengan persiapan menyambut Idul Fitri – membersihkan rumah, menyiapkan hidangan, membeli baju baru – hati tak bisa memungkiri rasa pilu atas perginya Ramadan. Takbir yang terus berkumandang menjadi latar suara bagi perasaan campur aduk ini. Ia adalah simfoni kemenangan sekaligus elegi perpisahan. Ia mengagungkan kebesaran Allah SWT yang telah memberikan kesempatan emas ini, sekaligus mengiringi kepergian bulan yang dirindukan.

Perpisahan dengan Ramadan adalah perpisahan yang pilu, namun bukan berarti keputusasaan. Gema takbir juga membawa harapan dan doa agar dipertemukan kembali dengan Ramadan di tahun-tahun mendatang dalam keadaan yang lebih baik. Ia menjadi pengingat untuk membawa spirit Ramadan – kesabaran, kepedulian, ketakwaan, dan kedekatan dengan Al-Qur’an – ke dalam sebelas bulan berikutnya.

Jadi, saat takbir menggema di penghujung Ramadan, biarlah ia meresap ke dalam jiwa. Rasakan keagungan Allah, rayakan kemenangan, namun izinkan pula hati merasakan pilunya perpisahan. Karena dalam rasa kehilangan itu, terkandung cinta dan kerinduan mendalam akan bulan suci yang telah menempa diri menjadi pribadi yang lebih bertakwa, seraya berharap membawa bekal terbaiknya menuju hari nan fitri.

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|