Guru Hypnoteaching, Pasti Menginspirasi

2 months ago 59

Oleh : Ahmad Usman

Dosen Universitas Mbojo Bima (Alumni UNM dan UNHAS Makassar)

INIPASTI.COM,  Menarik kata-kata bijak William Arthur Ward (Usman, 2024). “The mediocre teacher tells (Guru biasa berceritera). The good teacher explains (Guru yang baik menjelaskan). The superior teacher demonstrate (Guru superior mendemonstrasikan). The great teacher inspire  (Guru yang hebat memberi inspirasi).

Indikasi bahwa seseorang bisa disebut guru (pendidik) yang hebat bukanlah pada kemampuannya mengajarkan murid untuk pintar menjawab semua jenis pertanyaan, tetapi pada kemampuannya menginspirasi murid agar mengajukan pertanyaan yang dia sendirinya kesulitan untuk menjawabnya (A Lice Wellington Rollins)

A teacher who is attempting to teach without inspiring the pupil with a desire to learn is hammering on cold iron (Horace Mann). Artinya: seorang guru yang berusaha mengajarkan tanpa menginspirasi muridnya dengan keinginan untuk belajar adalah seperti memalu besi dingin.

“Bad teacher tells, good teacher shows, great teacher inspires. Artinya, guru yang tidak baik bercerita, guru bagus memberi contoh, guru yang hebat memberi inspirasi.

Guru bukan hanya pengajar (teacher), namun harus didefinisikan secara lebih luas lagi, karena memang seorang guru yang ingin berhasil harus lebih dari sekadar mengajar (teach). Bagi Ronnie (2005), guru adalah seorang yang mengajar dengan hatinya, membimbing dengan nuraninya, mendidik dengan segenap keikhlasan dan menginspirasi dan menyampaikan kebenaran dengan rasa kasih. Tidak kalah pentingnya adalah hasratnya untuk mempersembahkan apapun yang dia karyakan sebagai ibadah terhadap Tuhannya.

Senang sekaligus terkesan ketika saya mendengar guru saya menginspirasi murid-murid di kelas dengan mengucapkan  kalimat ini: “No One In This World is Stupid” (Tak Ada Satu Orang Pun di Dunia Ini yang Bodoh). Lalu, guru saya pun melanjutkan maksud dari kalimat tersebut  bahwa sebenarnya semua anak itu pada dasarnya sudah dianugerahi Tuhan memiliki bakat atau talentanya masing-masing. Hanya, terkadang anak-anak malas untuk mengembangkannya. Tak hanya itu, banyak juga ternyata ditemukan anak-anak yang tidak tahu di mana sebenarnya letak kelebihan-kelebihannya dan bagaimana cara untuk mengeksplorasi kemampuan yang mereka miliki (Naim, 2009).

Guru inspiratif bukanlah guru yang sekadar punya orientasi kurikulum. Apalagi, sampai terpaku dalam hubungan rigid antara guru dan siswa semata. Guru inspiratif memiliki pandangan yang lebih komprehensif. Mereka mengajak murid untuk berpikir kreatif, luwes, serta out of box. Jika ingin menjadi guru yang disenangi siswa maka: tinggalkan model guru konvensional, segera bertandang  menjadi guru yang inspiratif.

Bagaimana guru yang inspiratif itu? Tanda-tandanya: menunjukkan keterbukaan dalam perencanaan mengajar dan kegiatan belajar mengajar; mempertimbangkan berbagai alternatif cara menyampaikan isi pelajaran kepada siswa; dapat menggunakan humor secara proporsional dalam menciptakan situasi KBM yang menarik; menunjukkan perilaku demokratis dan tenggang rasa kepada semua siswa; memandang siswa sebagai partner dalam KBM; dan berkesinambungan dalam menggunakan hadiah dan hukuman sesuai dengan keadaan siswa (Yonny dan Sri Rahayu Yunus, 2011).

Masalah utama guru bukan terletak pada kurikulum maupun strategi mengajar yang penyelesaiannya mesti melalui peningkatan dan penjaminan kompetensi, melainkan soal spirit dan keteladanan yang pada tingkatan selanjutnya akan menginspirasi (Sumardianta, 2013). Guru inspiratif harus mampu membawa dirinya sebagai aktor yang mampu menyuntikkan segenap materi pembelajaran dan siswa merasa membutuhkan, tidak hanya sekadar ingin (want) tapi butuh (need).

Istilah guru inspiratif dipopulerkan oleh seorang pakar manajemen Khasali, sebagaimana termuat dalam artikelnya di Harian Kompas (29 Agustus 2007) dengan judul “Guru Kurikulum dan Guru Inspiratif.” “Ada dua jenis guru yang kita kenal yaitu guru kurikulum dan guru inspiratif. Guru kurikulum sangat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking) dan jumlahnya sekitar 99%. Sedangkan guru inspiratif jumlanya kurang dari 1%. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum tetapi mengajak murid-muridnya berfikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box) mengubahnya di dalam lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Guru kurikulum melahirkan manajer-manajer handal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.”

Guru adalah figur inspirator dan motivator murid dalam mengukir masa depannya. Jika guru mampu menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi anak didiknya, maka hal itu akan menjadi kekuatan anak didik dalam  mengejar cita-cita besarnya di masa depan (Asmani, 2010).

Pahlawan bukan malaikat yang turun dari langit untuk menyulap anak didik lansung menjadi benar, akan tetapi melalui proses yang panjang dan waktu yang tidak sedikit. Hal ini pernah diungkapkan oleh Paulo Coelho, sastrawan Brasil tentang “guru “ di bukunya “The Witch of Portobello (2006)” yang dikutip oleh Sapatur (2012) mengatakan bahwa” Apakah arti seorang guru?, saya akan memberitahumu, guru bukanlah seseorang yang mengajar tentang sesuatu, tetapi seseorang yang menginspirasi siswanya untuk memberikan yang terbaik dengan tujuan menemukan apa yang diketahuinya.”

Tips Menjadi Guru Inspirasi

Teachers who inspire know that teaching is like cultivating a garden, and those who would have nothing to do with thorns must never attempt to gather flowers (Author Unknown). Artinya: guru yang menginspirasi tahu bahwa mengajar itu seperti menanami kebun, dan mereka yang tidak memiliki apapun saat ada duri pasti tidak akan berusaha untuk mengumpulkan bunga.

Jika ruang kelas dengan segala isinya, termasuk para siswa, diibaratkan tata surya, maka guru adalah mataharinya. Guru adalah pusat di mana seluruh planet berputar mengelilinginya. Segala energi yang ada tidak akan berarti apa-apa ketika dia tidak ada (Anang, 2013).

Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, harus bisa menjadi sumber inspirasi dan teladan bagi pada muridnya dan masyarakat. Guru bukan sosok yang killer, semena-mena atau tidak simpatik pada siapa pun. Segala problem murid dalam kegiatan belajar mengajar menjadi bagian perhatian dan dedikasinya (Musbikin, 2010).

Ngainun Naim (2008) membagi tipe guru menjadi dua. Pertama, guru kurikulum, yaitu sosok guru yang amat patuh kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan sesuai dengan acuan kurikulum. Guru kurikulum mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking). Mereka mengajar hanya untuk memenuhi tuntutan kurikulum. Tugas mengajar akan dianggap selesai dan sukses manakala apa yang tercantum dalam kurikulum sudah disampaikan secara tuntas, dan para siswanya mampu menguasainya secara baik. Tolak ukur keberhasilan mengajar bagi guru tipe ini adalah angka-angka kuantitatif yang diperoleh dalam evaluasi. Tidak ada orientasi lainnya yang lebih luas.

Kedua, guru inspiratif yaitu guru yang memiliki orientasi jauh lebih luas. Guru inspiratif tidak hanya terpaku pada kurikulum, tetapi juga memiliki orientasi yang lebih luas dalam mengembangkan potensi dan kemampuan para siswanya.

Guru inspiratif bukan guru yang hanya mengejar kurikulum, tetapi lebih dari itu, mengajak siswa-siswanya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak siswa-siswanya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas.

Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, maka guru inspiratif akan melahirkan pemimpin pembaharu yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama. Dunia memerlukan keduanya, seperti kita memadukan validitas internal (dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan.

Membentuk guru inspiratif, salah satu faktor pemantiknya adalah menjaga komitmen untuk terus memberi spirit kreatif-inspiratif kepada para siswa. Dengan spirit ini, guru dapat menciptakan manusia unggul yang penuh dengan kreativitas dan kemampuan kompetitif. Disisi lain guru juga harus menyukai tantangan dengan terus belajar. Perubahan zaman yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi begitu cepat semestinya segera direspons guru. Hasrat terus belajar, kapabilitas, dan kompetensi personal-sosial masih perlu didukung dengan kreativitas guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang inspiratif.

Guru inspiratif mampu membangkitkan minat siswa dalam belajar juga menumbuhkan keinginan berkembang lebih baik untuk masa depan. Terkait dengan guru inpiratif ini, saya teringat nasehat seorang ustadz untuk para muridnya. Yang karena kata-katanya yang membakar membangkitkan semangat, ia senantiasa dirindukan.

Guru adalah figur inspirator dan motivator murid dalam mengukir masa depannya. Jika guru mampu menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi anak didiknya, maka hal itu akan menjadi kekuatan anak didik dalam mengejar cita-cita besarnya dimasa depan.

Untuk menjadi guru yang inspiratif salah satunya adalah dengan mengajar menggunakan PAIKEM (Pembelajaran yang Aktif, Inovatif, Kreatif dan Menyenangkan), Karena dengan mengajar menggunakan PAIKEM dapat menginspirasi murid untuk berpikir, sehingga rasa ingin tahu siswa berkembang, dan perubahan yang terjadi pada diri anak ke arah yang lebih baik akan lebih mudah terjadi.

Agar bisa menjadi sosok guru yang inspiratif, guru harus mampu memegang prinsip care, share, and trust. Care, artinya mampu memberi perhatian pada siswa dari latar belakang (fisik, intelektual, sosio-emosional) yang berbeda, guru harus bisa merangkul, memberi semangat, dan memotivasi siswa di kelas. Share, artinya guru harus mampu membagi ilmu yang dimiliki dengan menciptakan suasana pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan menantang bagi siswa. Guru harus mampu merancang strategi pembelajaran,  metode, media yang menarik bagi siswa. Trust, artinya guru harus bisa menjadi sosok yang dapat dipercaya, dan bisa memberi teladan, serta  menanamkan karakter yang baik bagi siswa di sekolah.

Apabila semua guru mampu memiliki mindset demikian, mampu memegang prinsip care, share, and trust dan mempunyai kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual. Maka, peserta didik akan merasa nyaman berada di kelas, tidak ada anak yang membolos, bahkan kehadiran guru inspiratif tersebut akan selalu dinanti di kelas. Pada akhirnya guru inspiratif akan bisa mencetak generasi penerus yang berkarakter dan bisa menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan (Dholina Inang Pambudi dalam Usman, 2024).

Menjadi guru yang inspiratif adalah sebuah tuntutan yang tidak bisa dielakan. Masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kader-kader muda. Sedangkan penanggung jawab utama masa depan kader-kader muda tersebut berada dipundak guru, karena gurulah yang langsung berinteraksi dengan meraka dalam pembentukan kepribadian, memberi pemahaman, menerbangkan imajinasi dan cita-cita, membangkitkan semangat dan mengerakkan kekuatan mereka.

Disinilah guru dituntut menjadi busur yang kuat, dinamis, dan powerful sehingga mampu melesatkan potensi dan cita-cita tinggi jauh ke angkasa, menjadi orang yang mampu memberikan kemanfaatan penuh bagi kemajuan dunia.

Menginspirasi Siswa Melalui “Hypnoteaching

Guru inspiratif adalah guru yang ketika mengajar mampu menghipnotik anak didiknya.

Atas kekampuan  hipnotik inilah dan guru harus mampu menghipnotik, maka munculllah ide tentang hypnoteaching. Hypnoteaching adalah salah satu pendekatan ‘baru’ dalam dunia pendidikan.

Hypnoteaching merupakan suatu teknik mengajar yang sangat inovatif dan inspiratif. Terdapat dua kata dari istilah hypnoteaching yaitu hypno dan teaching. Hypno adalah ilmu hypnosis atau hipnotis dan teaching adalah mengajar.

Hypnoteaching adalah mengajar dengan menggunakan metode hypnosis untuk menyampaikan ilmu pengetahuan langsung ke alam bawah sadar peserta didik. Inilah makna sederhana tentang hypnoteaching.

Hypnoteaching merupakan improvisasi dari sebuah metode pembelajaran dan pendidikan. Hypnoteaching mencoba hadir dengan menyuguhkan sebuah pendekatan konseptual baru dalam bidang pendidikan, pembinaan dan sekaligus “pencerahan dan pengobatan” pada para siswa yang bermasalah. Hypnoteaching merupakan perpaduan antara kedahsyatan ilmu hipnosis dengan kemuliaan ilmu pendidikan.

Hypnoteaching adalah metode pembelajaran yang menyajikan materi pelajaran dengan menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar karena alam bawah sadar lebih besar dominasinya terhadap cara kerja otak. Hypnoteaching merupakan gabungan dari lima metode belajar mengajar seperti quantum learning, accelerate learning, power teaching, Neuro-Linguistic Programming (NLP) dan hypnosis.

Hypnosis teaching ialahteknik dahsyat hipnosis guna menciptakan magnetisme bagi orang tua, guru, dan dosen, serta orang-orang yang peduli pendidikan, dalam proses belajar-mengajar; membantu para pendidik dalam mengatasi permasalahan belajar-mengajar, sekaligus mampu memberikan semangat, motivasi, dan inspirasi kepada peserta didik; dan menjadi inspirasi dunia pendidikan dalam meningkatkan kualitas jati diri bangsa yang dimulai dari dunia keluarga dan bangku sekolah (Hakim, 2010). Hypnosis in teaching merupakan cara dahsyat mendidik dan mengajar.

Hypnotherapy adalah suatu metode di mana pasien dibimbing untuk melakukan relaksasi, di mana setelah kondisi relaksasi dalam ini tercapai, maka secara alamiah gerbang pikiran bawah sadar sesesorang akan terbuka lebar, sehingga yang bersangkutan cenderung lebih mudah untuk menerima sugesti penyembuhan yang diberikan (Prastyoko, 2014).

Hypnoteaching (hipnoterapi dalam pendidikan) merupakan hal yang bagus untuk diterapkan dalam dunia pendidikan karena dapat membuat proses belajar mengajar menjadi lebih baik. Hypnoteaching menekankan pada komunikasi alam bawah sadar sang murid, baik yang dilakukan dalam kelas maupun luar kelas. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya sugesti dan imajinasi.

Hipnoterapi untuk pendidikan yang lebih baik, sugesti memiliki kekuatan yang luar biasa. Kemampuan sugesti yang terus terngiang di otak mampu mengantarkan seseorang pada apa yang dipikirkan. Imajinasi merupakan proses membayangkan sesuatu terlebih dulu baru melakukannya. Seorang guru atau dosen harus mampu membiarkan siswa atau mahasiswa berekspresi dan membiarkan mereka mengimajinasi. Itulah yang diharapkan dari hipnoterapi dalam pendidikan bahwa guru, dosen, siswa, dan mahasiswa dapat melakukan proses belajar mengajar dengan baik untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik. Biarkan guru tersugesti untuk mengajar lebih baik, dan biarkan murid mengimajinasi (Prastyoko, 2014).

Hipnoterapi bisa membantu guru untuk berbagai hal, di antaranya: (1) mengembangkan kreatifitas dan inovasi; (2) kemampuan mengendalikan diri; (3) menjadi pemberani dalam berbagai bidang; (4) percaya diri bicara di depan umum; (5) percaya diri dalam mencari pasangan dan menyatakan cinta; (6) mengatasi rasa minder; (7) stress management; (8) menjadi si pengaruh dalam lingkungan; (9) self-esteem; (10) meningkatkan produktivitas kerja; (11) menghilangkan kebiasaan menunda; (12) meningkatkan prestasi olahraga; (13) meningkatkan semangat belajar; (14) menjadi hobi membaca; (15) meningkatkan konsentrasi dan memperkuat ingatan; (16) mengatasi kecemasan, grogi atau gugup ketika tes/ujian; dan (17) menggali memori yang terlupakan (Juharuddin, 2023).

Sederhananya, hypnoteaching itu suatu upaya menurunkan frekuensi gelombang otak sehingga peserta didik menjadi relaks dan lebih sugestif dalam menangkap nilai-nilai positif dari sebuah proses pengajaran. Pendeknya bagaimana seorang guru menggunakan bahasa-bahasa yang dapat membuat rilaks dan nyaman si peserta didik. Berarti ini menyakut keterampilan berbicara. Intonasinya diatur, maknanya persuasif penuh bujukan, kualitas vokalnya, pilihan katanya dan lain-lain. Ketika si peserta didik berada pada gelombang otak alpha, saat itu si guru memasukkan affirmasi positif atau sugesti positif kepada pikiran bawah sadar si peserta didik.

Tujuan hypnoteaching yakni membantu guru atau pemateri dengan lebih mudah untuk memberikan pelajaran atau materi dan siswa juga lebih mudah mengingat materi yang diajarkan karena siswa berada di dalam kondisi alam bawah sadarnya ketika mendengarkan penjelasan dari guru.

Manfaat hypnoteaching, di antaranya: (1) proses pembelajaran terasa lebih mengasyikan dan menyenangkan; (2) menghadirkan pendekatan hati sanubari dalam proses KBM dan di luar kelas (menjalin hubungan harmonis antara guru dan siswa); (3) menarik perhatian siswa dengan berbagai permainan kreasi; (4)  mengatasi anak-anak yang malas belajar dengan komunikasi diri; (5) membantu persoalan psikologis mentalitas siswa dengan the power of mind (kekuatan pikiran manusia); (6) menyembuhkan kecanduan rokok, minuman keras dalam 20 menit; (7) mengobati sakit hati dan problem pikiran siswa dan guru, dalam waktu 15 menit; (8) mengungkit semangat belajar siswa dengan permainan hipnosis; (9) menyembuhkan penyakit spikosomatik siswa dan guru melalui program subcuoncius mind; dan (10) mematahkan kekuatan “ego” siswa yang sok kuat, sok berkuasa, sok jago dan sok hebat melalui trik-trik ringan hipnosis dan lain-lain (Oktifa, 2022).

Ada beberapa tips melakukan pembelajaran dengan metode hypnoteaching, di antaranya: (1) kuasai materi secara komprehensif; (2) libatkan peserta secara aktif; (3) upayakan untuk melakukan interaksi informal dengan peserta; (4) beri kesempatan peserta kewenangan dan tanggung jawab atas belajarnya; (5) yakini bahwa manusi belajar dengan cara yang berbeda satu sama lain; (6) yakinkan peserta bahwa mereka mampu; (7) beri kesempatan kepada peserta untuk melakukan sesuatu secara kolaboratif atau kooperatif; (8) upayakan materi yang disampaikan kontekstual; (9) berikan umpan balik segera dan bersifat deskriptif; dan (10) tingkatkan jam terbang (Rowin, 2015).

Sebuah Harapan

Karena menjadi guru merupakan panggilan jiwa, maka selayaknya guru memberikan kata-kata inspiratif yang menyentuh kepada anak didiknya meskipun dengan keterbatasan yang ada. Dengan kata inspiratif tersebut, tak hanya mencetak generasi menjadi intelek, tetapi juga siswa inspiratif karena kecerdasan spiritual dan etikanya terolah. 

Guru inspiratif adalah guru yang mampu menggerakkan roda peradaban bangsa. Guru inspiratif akan membawa bangsa ke arah kemajuan.

Menjadi guru yang inspiratif adalah sebuah tuntutan yang tidak bisa dielakan. Masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kader-kader muda. Sedangkan penanggungjawab utama masa depan kader-kader muda tersebut berada dipundak guru, karena gurulah yang langsung berinteraksi dengan mereka dalam pembentukan kepribadian, memberi pemahaman, menerbangkan imajinasi dan cita-cita, membangkitkan semangat dan menggerakkan kekuatan mereka.

Di sinilah guru dituntut menjadi busur yang kuat, dinamis, dan powerful sehingga mampu melesatkan potensi dan cita-cita tinggi jauh ke angkasa, menjadi orang yang mampu memberikan kemanfaatan penuh bagi kemajuan dunia.

Guru inspiratif bukanlah sekadar berkompeten sesuai dengan akademiknya, mampu mengajar di depan kelas, membuat soal-soal, dan menentukan kelulusan siswa. Guru inspiratif harus memiliki kepribadian yang menarik sehingga dapat menstimulasi siswa untuk mengembangkan potensi diri, menumbuhkan kesadaran siswa dalam meraih masa depannya, dan menjalin kehangatan interaksi antara guru dan siswa sehingga guru tidak lagi dianggap sebagai sosok angker yang menakutkan, tetapi dapat menjadi mitra belajar yang menyenangkan.

Guru yang inspiratif harus mampu memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik dengan berbagai latar belakang yang berbeda (fisik, intelektual, sosial-emosional). Setiap individu adalah unik, ketika kita memperhatikan peserta didik di kelas dengan latar belakang usia hampir sama, akan memperlihatkan penampilan, kemampuan, temperamen, minat yang beragam terhadap suatu pelajaran. Belum tentu anak yang duduk manis, diam itu memperhatikan dan mampu menyerap materi pelajaran dengan baik. Belum tentu juga anak yang ramai, tidak bisa diam di kelas itu identik dengan anak yang nakal dan bodoh. Agar kita bisa menjadi guru yang inspiratif seharusnya kita mampu memahami kondisi psikologis siswa yang beragam, dan selalu kita tanamkan bahwa “tidak ada anak yang bodoh” . Belum tentu anak yang dicap bodoh oleh gurunya itu tidak punya kelebihan, pasti di sisi lain anak tersebut mempunyai kelebihan di bidang lain mungkin bisa menonjol di musik, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, matematic logic, spatial, maupun perpaduan dari 8 multiple intelegency tersebut (Pambudi dalam Usman, 2024).

Guru inspiratif merupakan kunci sukses yang selalu mengedepankan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Diharapkan, dengan kehadiran guru inspiratif, dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis dan kreatif, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan yang begitu besar.

Bekal apakah yang harus dimiliki agar menjadi guru yang penuh inspiratif dan disenangi oleh siswa? Peningkatan kemampuan akademik dan skill mengajar merupakan modal dasar yang harus dimiliki. Akan tetapi tidak boleh dikesampingkan pula bekal-bekal berikut ini: berpandangan positif; menjalin ikatan emosional; membuat aturan main bersama; membuat kegembiraan; memberi pujian; berani mengambil resiko; dan menjadi teladan.

Yang jelas dan pasti, guru ibarat lampu (the light of the darkness), menerangi masyarakat, dan menginspirasi mereka pada kemuliaan dan keadaban. 

Semoga bermanfaat !

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|