BMKG Tegaskan Istilah “El Nino Godzilla” Tidak Resmi, Kesiapsiagaan Hadapi Kemarau 2026 Disorot

3 hours ago 5

SULTRAKINI.COM: KENDARI — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara menegaskan bahwa istilah “El Nino Godzilla” maupun “Super El Nino” bukan merupakan istilah resmi yang dikeluarkan oleh BMKG.

Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara, Kusairi, S.Si., MM, menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan press release Prediksi Musim Kemarau 2026 yang digelar secara virtual melalui Zoom, Selasa (14/4/2026).

“Jika muncul narasi-narasi yang menyatakan ada El Nino Godzilla, bahkan ada yang menyebut Super El Nino, itu bukan berasal dari BMKG,” tegasnya.

Ia mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menerima informasi, terutama yang berpotensi menimbulkan kekhawatiran. Menurutnya, istilah tersebut tidak pernah digunakan dalam rilis resmi BMKG.

“Masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak jelas sumbernya,” tambah Kusairi.

Isu terkait kemunculan istilah “El Nino Godzilla” dan “Super El Nino” belakangan ramai beredar di tengah masyarakat. Namun, BMKG memastikan bahwa informasi tersebut tidak memiliki dasar resmi dari lembaga tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Forum Kendari Tanggap Bencana (KARTANA) menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, khususnya pada musim kemarau 2026.

Komandan KARTANA, Muhammad Matin Adhiddia, yang hadir sebagai peserta, menekankan bahwa prediksi musim kemarau perlu menjadi perhatian serius, terutama terkait meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kebakaran di kawasan permukiman.

“Musim kemarau identik dengan meningkatnya potensi kebakaran, baik di lahan maupun di lingkungan permukiman. Ini bukan hanya soal api, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan, keselamatan, dan potensi korban luka, termasuk luka bakar,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, KARTANA sebelumnya telah melaksanakan pelatihan penanganan awal luka bakar pada 2 April 2026. Kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, relawan, organisasi kemanusiaan, lembaga teknis, mitra pemerintah, hingga insan media dalam memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat.

“Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya preventif dan peningkatan kesiapsiagaan berbasis komunitas. Kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya mampu mencegah, tetapi juga memiliki pengetahuan dasar dalam menangani korban sebelum mendapatkan penanganan medis lanjutan,” jelasnya.

KARTANA juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat edukasi kebencanaan, memperluas pelatihan masyarakat, serta meningkatkan koordinasi lintas sektor sebagai respons terhadap informasi iklim yang telah disampaikan.

“Kami siap bersinergi dengan pemerintah daerah, BMKG, dan seluruh pemangku kepentingan untuk meminimalisir risiko bencana selama musim kemarau. Kesiapsiagaan adalah kunci utama dalam mengurangi dampak,” tutupnya.

KARTANA turut mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, serta memahami langkah-langkah pertolongan pertama dalam situasi darurat.

Laporan: Andi Mahfud

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|