ASITA dan Dispar Sultra Dorong Kolaborasi Pentahelix, Bidik Pariwisata Berkelanjutan

4 hours ago 4

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Pelaku industri perjalanan, pemerintah daerah, akademisi, komunitas, hingga media duduk satu meja di Rumah Makan Kampoeng Wisata, Senin, 2 Maret 2026. Forum Silaturahmi Pentahelix Pariwisata Sulawesi Tenggara itu digagas Dewan Pengurus Daerah Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Sultra bersama Dinas Pariwisata Sultra, Serta Sejumlah Asosiasi lain, kegiatan tersebut dirangkaikan dengan buka puasa bersama.

Forum bertema penguatan mitigasi dan kolaborasi kemitraan menuju pariwisata berkelanjutan dan inklusif itu disebut bukan sekadar agenda seremonial. Ketua DPD ASITA Sultra, Rahman Rahim, menyatakan pertemuan tersebut menjadi momentum konsolidasi menghadapi tantangan sektor pariwisata yang semakin kompleks.

“Forum ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi momentum memperkuat sinergi pentahelix. Pariwisata tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kolaborasi nyata agar kita mampu menghadapi tantangan ekonomi, sosial, hingga dinamika global,” ujar Rahman.

Ia menekankan mitigasi risiko harus menjadi bagian dari perencanaan jangka panjang. Menurutnya, potensi Sulawesi Tenggara tidak kalah dibandingkan daerah lain di Indonesia.

“Saya sudah keliling Indonesia bahkan luar negeri. Potensi Sultra luar biasa. Sayang kalau sumber daya alam kita tidak dimanfaatkan untuk kemajuan bersama dan masyarakat setempat,” katanya.

Rahman menyebut pemerintah berperan sebagai regulator dan fasilitator. Namun, pelaku usaha berada di garis depan yang memahami kebutuhan wisatawan, baik mancanegara maupun domestik. Standar operasional prosedur (SOP), kata dia, menjadi syarat mutlak, mulai dari penjemputan hingga pelayanan akhir.

“Kalau tidak siap, kami bahkan tidak berani menjual paket tur. Jangan sampai tamu datang tidak sesuai ekspektasi,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Sultra, Ridwan Badallah, menilai pendekatan pentahelix menjadi kunci memperkuat daya saing destinasi. “Kita akan terus berkolaborasi sehingga terbentuk ekosistem pariwisata yang terpadu. Kemitraan yang inklusif penting agar manfaat ekonomi bisa dirasakan masyarakat secara merata,” kata Ridwan.

Ia menambahkan, Kendari perlu diposisikan sebagai kota penyangga utama pariwisata Sultra. Ke depan, ia berharap penerbangan tidak lagi terpusat melalui Makassar, melainkan langsung menuju Kendari agar perputaran ekonomi terjadi di daerah.

Selain konektivitas, forum juga membahas penguatan komunitas dan ekonomi kreatif, termasuk pemanfaatan kawasan Kendari Water Sport sebagai ruang aktivitas komunitas serta rencana Car Free Night untuk menghidupkan atmosfer destinasi.

Ketua DPD ASTINDO Sultra, Sartika, menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia (SDM). Menurut dia, pembangunan pariwisata tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga kualitas pelaku di dalamnya.

“Kita lihat dulu, Sultra ini sudah siap atau belum menjadi kota wisata. Bukan cuma infrastrukturnya, tapi SDM juga harus siap. Astindo dan ASITA bukan hanya promosi, tapi juga menjadi pengkritik pemerintah dari sisi teknis pariwisata, karena kami yang berjuang mendatangkan wisatawan,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi, pegiat pariwisata Deden menyoroti minimnya kalender event daerah. “Selain Halo Sultra, kita belum punya kalender event yang konsisten. Padahal event rutin penting untuk menarik kunjungan dan menjaga perputaran ekonomi,” katanya.

Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sultra, Mahmud Alhabsyi, mengingatkan pentingnya segmentasi pasar. “Kita perlu memetakan siapa yang bisa datang ke destinasi kita. Yang terpenting, wisatawan merasa nyaman dan aman,” ujarnya. Ia menambahkan, sektor pariwisata memiliki efek berganda. “Kalau pariwisata bergerak baik, hotel, rumah makan, hingga pajak daerah ikut meningkat.”

Sementara itu, Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Sultra, Femiyanti Darma Kamang, menyatakan organisasinya fokus pada peningkatan kapasitas pemandu wisata dan penguatan regulasi kompetensi.

“Kami lebih fokus pada peningkatan kapasitas SDM. Regulasi yang berkaitan dengan pengembangan SDM perlu diperhatikan agar kualitas layanan semakin baik,” katanya.

Dari unsur generasi muda, perwakilan GenPI Sultra, Ade Wijaya, menekankan pentingnya branding dan promosi digital. “Branding itu penting. Tanpa promosi yang konsisten, kita tidak bisa mengembangkan potensi yang ada. Media sosial menjadi salah satu langkah efektif,” ujarnya.

Seluruh narasumber sepakat, pengalaman wisatawan menjadi kunci promosi jangka panjang. Wisatawan yang pulang dengan kesan positif akan menjadi agen promosi alami bagi destinasi.

Laporan: Riswan

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|