SULTRAKINI.COM: KENDARI – Memasuki 10 hari Ramadan, suasana sore hari di Kendari semakin semarak. Warga tumpah ruah di berbagai sudut kota untuk berburu takjil jelang waktu berbuka puasa. Deretan pedagang UMKM tampak memenuhi pinggir jalan, menawarkan aneka makanan dan minuman khas Ramadan yang menggugah selera.
Salah satu pedagang takjil yang konsisten berjualan setiap tahun adalah Tante Lestari. Ia membuka lapaknya di kawasan Jembatan Kuning, tepatnya di area jejeran Pasar Sentral Kendari, Jalan Imam Bonjol, Kota Kendari. Saat ditemui pada Sabtu, 28 Februari 2026, Tante Lestari mengaku telah berjualan takjil di lokasi tersebut lebih dari lima tahun.
“Setiap bulan Ramadan saya memang selalu berjualan takjil dan gorengan di sini. Biasanya mulai buka sekitar jam tiga lewat dan bertahan sampai malam,” ujarnya.
Beragam menu ditawarkan di lapaknya, mulai dari es buah, pisang ijo, hingga aneka kue dan gorengan. Untuk gorengan, tersedia tahu isi, risol, dan berbagai jenis gorengan lainnya. Sementara kue-kue yang dijajakan antara lain donat, bakpao, serta kue tradisional lainnya.
Tante Lestari menyebutkan, harga es buah dan pisang ijo tahun ini mengalami kenaikan. “Kalau tahun lalu satu gelas lima ribu rupiah, sekarang jadi enam ribu rupiah per gelas. Untuk kue rata-rata lima ribu rupiah dapat empat biji,” jelasnya.
Dalam sehari, ia bisa meraup pendapatan antara Rp700 ribu hingga Rp900 ribu. Bahkan, pada hari-hari tertentu, omzetnya pernah menembus lebih dari Rp1 juta per hari.
Meski demikian, ia tak menampik adanya suka dan duka selama berjualan. Faktor cuaca menjadi tantangan terbesar. “Kalau lagi sepi atau hujan deras, banyak jualan yang tersisa, mulai dari es buah, kue, sampai gorengan. Cuaca memang paling berpengaruh,” tuturnya.
Kendati begitu, Tante Lestari tetap bersemangat menjalani usahanya bersama sang anak. Ia meyakini bahwa dalam berjualan ada masa ramai dan ada masa sepi. “Tidak mungkin selalu ramai, tidak mungkin juga selalu sepi. Yang penting jangan putus asa, harus tetap semangat. Alhamdulillah selama ini masih dapat untung,” katanya.
Untuk kenyamanan pembeli, ia juga menyediakan tempat duduk sederhana di belakang gerobaknya bagi pelanggan yang ingin langsung menikmati hidangan berbuka di lokasi.
Keberadaan pedagang seperti Tante Lestari menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Ramadan di Kota Kendari. Selain membantu memenuhi kebutuhan masyarakat saat berbuka, mereka juga menjadi penggerak ekonomi kecil yang terus bertahan di tengah berbagai tantangan.
Laporan: Andi Mahfud

19 hours ago
7
















































