UHO Kukuhkan Prof. Sudarsono sebagai Guru Besar Rekayasa Material dan Metalurgi

10 hours ago 2

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Universitas Halu Oleo (UHO) secara resmi mengukuhkan Prof. Dr. Eng. Ir. Sudarsono, S.T., M.Eng. sebagai Guru Besar bidang ilmu Rekayasa Material dan Metalurgi pada Fakultas Teknik, Senin (9/2/2026), bertempat di Auditorium Mokodompit UHO.

Pengukuhan dipimpin langsung Rektor UHO Dr. Herman S.H., LL. M, serta dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, jajaran Senat Universitas, Dewan Guru Besar, pimpinan fakultas, akademisi, dan undangan dari berbagai unsur.

Dalam orasi ilmiah pengukuhannya, Prof. Sudarsono menyampaikan pidato berjudul “Peningkatan Sifat Mekanik pada Penyambungan Stainless Steel AISI 304 dan Baja Karbon AISI 1037 Menggunakan Pengelasan SMAW.” Orasi tersebut menyoroti peran strategis rekayasa material dalam menjawab tantangan industri modern, mulai dari sektor migas, pembangkit listrik, otomotif, transportasi, hingga dirgantara.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan industri mendorong penggunaan material logam yang semakin beragam, sehingga penyambungan logam tak sejenis (dissimilar welding) menjadi kebutuhan umum. Menurutnya, pengelasan disimilar dipilih karena tuntutan material yang ringan, kuat, tahan korosi, serta pertimbangan efisiensi biaya. Namun, proses ini juga menghadapi tantangan serius berupa deformasi dan tegangan sisa yang dapat memicu retak, creep, dan fatigue, terutama pada temperatur tinggi.

Prof. Sudarsono memaparkan bahwa baja karbon AISI 1037 dan stainless steel AISI 304 banyak diaplikasikan pada sambungan pipa di plant kimia, boiler, dan heat exchanger. Dalam penelitiannya, ia menggunakan metode pengelasan Shielded Metal Arc Welding (SMAW) dengan elektroda E309-16 dan variasi temperatur pemanasan awal 150, 200, 250, hingga 300 derajat Celsius.

“Hasil pengujian menunjukkan bahwa peningkatan suhu pemanasan awal berbanding lurus dengan peningkatan kekuatan impak dan ketangguhan sambungan las,” jelasnya. Pada suhu 300 derajat Celsius, sambungan las menunjukkan daktilitas tertinggi dengan morfologi patahan yang lebih ulet dibandingkan sampel tanpa pemanasan awal yang cenderung getas.

Dari sisi mikrostruktur, zona stainless steel AISI 304 menunjukkan struktur austenitik, sementara baja karbon AISI 1037 terdiri dari fasa perlit dan ferit. Zona fusi memperlihatkan struktur dendrit kolumnar dengan garis fusi yang jelas. Analisis menggunakan diagram Scheffler menunjukkan bahwa penggunaan elektroda E309-16 menghasilkan struktur mikro austenit yang lebih stabil dan ulet.

Ia menyimpulkan bahwa pemanasan awal pada proses pengelasan disimilar mampu meningkatkan ketangguhan, mengoptimalkan kekerasan, mengubah sifat patahan dari getas menjadi ulet, serta mengurangi potensi kegagalan struktur. “Pengelasan bukan sekadar menyambung, tetapi proses rekayasa material untuk menjamin keselamatan kendaraan, pesawat, kereta, dan berbagai peralatan yang kita gunakan sehari-hari,” tegasnya.

Profil Akademik dan Riset

Prof. Dr. Eng. Ir. Sudarsono lahir di Buton, 21 April 1977, dan saat ini bertugas sebagai dosen pada Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik UHO. Ia juga aktif dalam pengembangan riset dan publikasi ilmiah di bidang material dan metalurgi.

Berdasarkan data kinerja riset, Prof. Sudarsono tercatat memiliki ID SINTA 6030667 dengan Skor SINTA 512, ID Scopus 57216140817 dengan H-indeks Scopus 2, serta H-indeks Google Scholar 5. Ia juga terdaftar pada ORCID: 0000-0003-2832-9505.

Dalam pelaksanaan penelitian, Prof. Sudarsono telah mengelola berbagai hibah riset dari beragam sumber pendanaan, meliputi nasional/kementerian (4 judul), internal UHO (5 judul), pemerintah daerah (3 judul), dan swasta (3 judul).

Pada kesempatan tersebut, Prof. Sudarsono menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, pimpinan Universitas Halu Oleo, Dewan Guru Besar, Senat Universitas, kolega dosen, serta keluarga besar yang telah mendukung perjalanan akademiknya hingga meraih jabatan guru besar.

Usai pengukuhan, Prof. Dr. Eng. Ir. Sudarsono, S.T., M.Eng. menyampaikan bahwa capaian guru besar merupakan tonggak akademik tertinggi, namun harus dibuktikan melalui kontribusi nyata dan berdampak.

“Guru besar adalah pencapaian tertinggi seorang akademisi, tetapi yang paling penting adalah bagaimana karya dan pemikiran kita bermanfaat serta berdampak, baik bagi mahasiswa, kualitas penelitian, maupun peningkatan akreditasi institusi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ke depan peran guru besar harus semakin kuat dalam mendorong penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta peningkatan kualitas lulusan. Menurutnya, penguatan kapasitas mahasiswa menjadi kunci agar mampu bersaing di tingkat global.

“Harapannya, dengan capaian ini kami bisa berkontribusi lebih baik lagi, khususnya dalam penelitian dan pengabdian. Mahasiswa harus diarahkan agar memiliki pengetahuan yang tinggi sekaligus keterampilan yang mumpuni untuk bersaing di masyarakat global,” pungkasnya.

Laporan: Andi Mahfud

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|