SULTRAKINI.COM: KOLAKA-Stunting menjadi salah satu masalah sistematis di hampir semua wilayah Indonesia dan menjadi indikator penting yang tengah diupayakan pemerintah untuk ditekan agar tidak meningkat. Masalah tingginya angka stunting yang cenderung meningkat juga terjadi di Kabupaten Kolaka.
Karenanya, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) menggelar rapat koordinasi pelaksanaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), sekaligus aksi konvergensi stunting pada tahap analisis situasi (Ansit) dan penguatan perencanaan Kabupaten Kolaka tahun 2026 di Aula Kantor Bappeda Kolaka. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bupati bersama seluruh stakeholder serta sejumlah perwakilan perusahaan tambang di Kolaka (20/4/2026).
Pada kegiatan ini, Kepala Dinas PPKB Kabupaten Kolaka, Muhammad Aris, menyampaikan bahwa angka stunting di Kolaka masih tinggi dan cenderung meningkat. Berbagai faktor menjadi penyebabnya. Tingginya angka stunting disebabkan oleh kombinasi faktor langsung dan tidak langsung.
Faktor langsung meliputi asupan gizi ibu hamil yang kurang, praktik pemberian makan bayi dan anak yang tidak optimal (seperti inisiasi menyusu dini dan MPASI yang tidak sesuai), serta tingginya penyakit infeksi pada anak. Sementara itu, faktor tidak langsung mencakup kemiskinan, akses terbatas terhadap air bersih dan sanitasi yang buruk, rendahnya pendidikan ibu, terbatasnya akses layanan kesehatan, serta ketimpangan sosial, ekonomi, dan geografis.
Selain itu, praktik budaya tertentu dan kurangnya pengetahuan tentang gizi juga turut berkontribusi. Pemerintah telah berupaya melalui intervensi spesifik (seperti suplemen gizi dan imunisasi) serta intervensi sensitif (sanitasi dan perlindungan sosial). Namun, tantangan implementasi, cakupan layanan yang belum merata, serta dampak pandemi dan krisis ekonomi membuat penurunan angka stunting masih belum optimal.
Bupati Kolaka, Amri Djamaluddin, menegaskan bahwa GENTING merupakan langkah strategis dalam mempercepat penurunan stunting melalui kolaborasi lintas sektor. Program tersebut juga sejalan dengan kebijakan nasional sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.
“GENTING adalah gerakan kolaboratif berbasis kepedulian yang melibatkan berbagai pihak, termasuk dunia usaha dan masyarakat, tanpa hanya bergantung pada pembiayaan pemerintah,” jelasnya.
Ia menambahkan, program tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia yang unggul menuju visi Indonesia Emas 2045.
Lebih lanjut, Amri menjelaskan bahwa intervensi harus difokuskan pada keluarga berisiko melalui pendekatan konsep 4T, yakni tidak terlalu dekat jarak kelahiran, tidak terlalu banyak jumlah anak, tidak terlalu tua saat hamil, serta tidak terlalu muda untuk menikah. Selain itu, aspek sanitasi seperti ketersediaan jamban sehat dan akses air bersih juga menjadi perhatian utama dalam upaya pencegahan stunting.
Pemerintah Kabupaten Kolaka juga memperkenalkan inovasi terbaru bertajuk “Kolaka Keren” (Kolaka Kendalikan Stunting Berbasis Risiko Nyata). Inovasi ini mengedepankan pendekatan berbasis data keluarga berisiko, sehingga intervensi yang dilakukan dapat lebih tepat sasaran, terukur, dan berkelanjutan.
“Pemkab Kolaka optimistis upaya percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih efektif, sekaligus menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing di masa depan,” ujarnya.
Ketua Komisi III DPRD Kolaka, Israfil, mengatakan permasalahan stunting merupakan persoalan kompleks yang membutuhkan perhatian semua pihak karena saling berkaitan dan tidak dapat ditangani oleh satu instansi saja seperti PPKB.
“Kerja sama antarinstansi harus diperkuat,” ujarnya.
Ia menambahkan, melihat angka stunting yang meningkat, perlu adanya evaluasi menyeluruh serta hipotesis terhadap kemungkinan adanya kekeliruan dalam penanganan, termasuk dari sisi kolaborasi.
“Kolaborasi antarinstansi jangan hanya dibahas dalam ruangan atau sekadar wacana, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata. Pemerintah sebagai representatif harus lebih responsif,” katanya lagi.
Lurah Balandete, Kecamatan Kolaka, Irwan, juga mengemukakan bahwa masalah stunting merupakan persoalan yang menyeluruh dan kompleks. Variabel yang dijadikan acuan pelabelan penyandang stunting perlu dikaji ulang, dan implementasi penanganan harus dievaluasi.
“Angka stunting yang cenderung meningkat tidak akan selesai jika tidak ditangani secara menyeluruh dan dimulai dari akarnya,” jelasnya.
Laporan: Anti

5 hours ago
8

















































