SULTRAKINI.COM: KENDARI – Fasilitas olahraga di Kota Kendari kembali bertambah dengan hadirnya lintasan lari (running track) di Stadion Mini Universitas Halu Oleo. Sarana ini kini telah dibuka dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Lintasan tersebut beroperasi setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WITA. Untuk mengaksesnya, pengunjung dikenakan tarif sebesar Rp10 ribu per orang, dengan sistem pembayaran non-tunai melalui transfer ke rekening Bank Sultra.
Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UHO, Dr. Herman, menjelaskan bahwa kebijakan berbayar diterapkan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan aset kampus.
“Fasilitas ini dibangun dengan anggaran yang cukup besar dan biaya pemeliharaannya juga tinggi. Jadi, minimal dari pengelolaan ini kalo memang kita belum bisa mendapatkan income setidaknya dapat menutupi biaya perawatannya sendiri, sehingga aset tidak menjadi ‘beban anggaran untuk kami’,” ujarnya.
Ia menegaskan, kampus tetap menyediakan alternatif fasilitas olahraga gratis bagi masyarakat. Jalur jalan kaki yang mengelilingi kawasan kampus, mulai dari Fakultas Kedokteran hingga kembali ke lapangan mini, dapat dimanfaatkan tanpa biaya.
“Silakan masyarakat yang ingin berolahraga secara gratis. Tidak ada larangan. Tapi untuk fasilitas yang memang didesain khusus seperti running track, tentu ada aturan dan biaya pemeliharaan,” jelasnya.
Selain itu, pihak kampus juga menetapkan sejumlah ketentuan bagi pengguna lintasan, di antaranya larangan merokok serta kewajiban menggunakan sepatu khusus lari, bukan sepatu sepak bola atau sejenis lainnya, guna menjaga kualitas lintasan.
Menurutnya, kehadiran fasilitas ini tidak hanya mendukung aktivitas olahraga, tetapi juga membuka akses lebih luas bagi masyarakat umum untuk memanfaatkan sarana kampus.
“Sekarang kampus tidak hanya dikunjungi mahasiswa untuk kuliah, tetapi juga masyarakat yang datang berolahraga. Ini menjadi salah satu bentuk kontribusi kampus kepada publik,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa pengelolaan aset kampus merupakan bagian dari strategi peningkatan pendapatan non-Uang Kuliah Tunggal (UKT). Sebagai perguruan tinggi berstatus Badan Layanan Umum (BLU), UHO didorong untuk mengoptimalkan sumber pendapatan lain.
“Perguruan tinggi bisa dikatakan sehat jika pendapatan non-UKT mencapai minimal 20 persen. Sebelum saya menjabat, angkanya sekitar 6–7 persen, dan saat ini sudah berada di kisaran 10 persen,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti adanya ketimpangan persepsi di masyarakat terkait pemanfaatan aset kampus.
“Ketika aset dimanfaatkan secara pribadi oleh segelintir orang, tidak disoroti. Tapi ketika kita kelola secara resmi untuk kepentingan bersama dan keberlanjutan, justru dipersoalkan. Ini menjadi dilema yang perlu dipahami bersama,” pungkasnya.
Laporan: Andi Mahfud

16 hours ago
7
















































