SULTRAKINI.COM: KENDARI – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Sulawesi Tenggara, Prof. Dr. Aris Badara, S.Pd., M.Hum., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan Penyusunan Modul Mepokoaso Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang digelar Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Sultra di Same Hotel Kendari, Selasa (16/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, 16 hingga 19 Juni 2026 tersebut dibuka secara daring oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (Ditjen GTKPG) Kemendikdasmen, Temu Ismail, S.Pd., M.Si.
Dalam sambutannya, Aris Badara menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta dan pemangku kepentingan yang hadir. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki makna penting dalam upaya meningkatkan capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa di Sulawesi Tenggara.
Ia menegaskan peningkatan skor TKA tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, organisasi profesi, akademisi, komunitas guru, hingga satuan pendidikan.
“Pada era sekarang ini kita tidak bisa bekerja sendiri. Untuk meningkatkan skor TKA dibutuhkan kolaborasi semua pihak, baik organisasi profesi, akademisi maupun para pendidik di lapangan,” ujar Aris Badara.
Menurutnya, keterlibatan berbagai stakeholder dalam penyusunan modul menjadi salah satu kekuatan utama kegiatan tersebut. Mulai dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), perguruan tinggi, hingga guru-guru berprestasi turut dilibatkan dalam proses penyusunan.
Aris juga mengapresiasi BGTK Sultra yang selama ini aktif mendukung berbagai program pendidikan di daerah. Ia menilai sinergi antara BGTK dan Dikbud Sultra telah menghasilkan banyak program positif bagi peningkatan mutu pendidikan.
Dalam kesempatan itu, Aris menyoroti penggunaan istilah “Mepokoaso” sebagai identitas modul yang sedang disusun. Menurutnya, istilah tersebut memiliki makna yang kuat karena berasal dari kearifan lokal masyarakat Tolaki yang mengandung nilai kebersamaan dan gotong royong.
“Saya kira pemilihan nama Mepokoaso sangat tepat. Nilai yang terkandung di dalamnya adalah semangat bekerja bersama, saling mendukung, dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan yang sama,” katanya.
Ia mencontohkan keberhasilan pendekatan kolaboratif yang pernah diterapkan pada program Sekolah Garuda. Awalnya, jumlah peserta dari Sulawesi Tenggara relatif sedikit, namun setelah dilakukan gerakan bersama berbagai pihak, jumlah pendaftar meningkat signifikan dan menjadi salah satu yang terbanyak secara nasional.
Aris berharap semangat Mepokoaso tidak hanya diterapkan dalam kegiatan penyusunan modul TKA, tetapi juga menjadi budaya kerja dalam seluruh program pendidikan di Sulawesi Tenggara. Bahkan, nilai-nilai kearifan lokal dari berbagai daerah lain di Sultra juga diharapkan dapat diangkat dalam program pendidikan ke depan.
Ia menegaskan bahwa seluruh pihak yang terlibat memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan adanya peningkatan skor TKA pada tahun 2026 dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Menurutnya, keberhasilan program harus dapat diukur melalui hasil yang nyata.
“Kita berharap ada peningkatan skor TKA. Jangan sampai kegiatan yang sudah dilaksanakan dengan baik ini tidak memberikan dampak terhadap hasil belajar siswa. Itu menjadi tanggung jawab moral kita bersama,” tegasnya.
Usai pembukaan kegiatan, Aris Badara kembali menegaskan optimisme terhadap program tersebut. Ia berharap kolaborasi antara organisasi profesi, akademisi, MGMP, guru berprestasi, guru unggul, serta seluruh stakeholder pendidikan dapat menjadi kekuatan besar dalam mendorong peningkatan skor TKA Sulawesi Tenggara pada tahun 2026.
Laporan: Andi Mahfud

8 hours ago
5
















































