SULTRAKINI.COM: KONAWE SELATAN-Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Halu Oleo (UHO) melaksanakan serangkaian kegiatan pemberdayaan petani melalui program “Inovasi Budidaya Sayuran Berkelanjutan di Desa Lamomea, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan.”
Program ini mengintegrasikan pemanfaatan agens hayati Trichoderma, teknologi pemantauan tanaman berbasis telepon seluler (mobile phone), serta pembuatan pestisida nabati dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah diperoleh di lingkungan petani.
Kegiatan KKN Tematik tersebut diketuai oleh Prof. Dr. Laode Santiaji Bande, S.P., M.Si., dengan anggota Prof. Dr. Ir. Rahayu, M.P., Dr. Asmar Hasan, S.P., M.P., Dr. Asniah, S.P., M.Si., Hadi Sudarmo, S.P., M.Si., dan Sulqifly, S.P., M.P.
Program ini juga melibatkan mahasiswa peserta KKN Tematik yang secara langsung mendampingi masyarakat dalam penerapan berbagai inovasi budidaya sayuran berkelanjutan.
Salah satu kegiatan utama dilaksanakan pada 18 Juli 2026, berupa pelatihan pemanfaatan Trichoderma sebagai agens hayati untuk mendukung budidaya tanaman yang lebih ramah lingkungan.
Pelatihan dilakukan dengan memanfaatkan tanah di bawah rumpun bambu sebagai sumber untuk memancing keberadaan Trichoderma lokal menggunakan media nasi yang mudah diperoleh dari rumah tangga petani di Desa Lamomea.
Pelatihan tidak hanya diberikan dalam bentuk penyampaian materi, tetapi juga melalui praktik langsung. Petani dibimbing mengenai tahapan penyiapan media nasi, pemanfaatan sumber inokulum dari tanah di bawah bambu, hingga proses pemancingan dan pengamatan perkembangan Trichoderma.
Proses pemancingan Trichoderma memerlukan waktu sekitar 7–10 hari hingga media menunjukkan pertumbuhan jamur yang diharapkan. Setelah melalui tahapan tersebut dan diperoleh kultur yang sesuai, hasil perbanyakan kemudian dimanfaatkan pada tanaman di lahan demonstrasi plot (demplot) yang telah disiapkan oleh mahasiswa peserta KKN Tematik.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat. Para petani mengikuti proses pelatihan dengan antusias, termasuk praktik langsung pembuatan dan pemanfaatan Trichoderma. Kepala Desa Lamomea juga turut mengikuti kegiatan sebagai bentuk dukungan pemerintah desa terhadap pengembangan inovasi pertanian yang mudah diterapkan oleh masyarakat.
Tidak berhenti pada pemanfaatan agens hayati, pada 8 Agustus 2026 tim KKN Tematik juga memperkenalkan pemanfaatan teknologi untuk membantu petani dalam mengontrol penyiraman dan memantau kelembapan tanah pada tanaman demplot.
Teknologi tersebut memungkinkan kondisi tanaman dan kelembapan tanah dipantau melalui telepon seluler. Dengan pendekatan ini, petani tidak harus selalu berada di lahan untuk mengetahui kondisi kelembapan tanah dan kebutuhan penyiraman tanaman.
Pemanfaatan teknologi diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan waktu dan tenaga kerja petani. Ketika proses pemantauan dan penyiraman dapat dilakukan secara lebih efisien, petani memiliki kesempatan untuk melakukan kegiatan produktif lainnya tanpa mengabaikan kondisi tanaman yang dibudidayakan.
Pengenalan teknologi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi pertanian konvensional menuju pertanian cerdas (smart farming) yang memanfaatkan teknologi informasi dan perangkat digital dalam pengelolaan usaha tani.
Mahasiswa KKN Tematik juga memberikan pelatihan pembuatan pestisida nabati kepada petani. Bahan yang digunakan antara lain daun sirsak, ubi gadung, dan brotowali yang relatif mudah ditemukan di lingkungan masyarakat.
Petani diperkenalkan pada proses pengolahan bahan-bahan tersebut menjadi ekstrak yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Penggunaan bahan lokal menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia sekaligus menekan pengeluaran untuk pembelian pestisida dalam kegiatan budidaya.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa inovasi pertanian tidak selalu harus menggunakan teknologi yang mahal dan sulit diterapkan. Pemanfaatan Trichoderma lokal dan pestisida nabati dapat dikombinasikan dengan teknologi digital untuk membangun sistem budidaya sayuran yang lebih efisien, ekonomis, dan berkelanjutan.
Ketua pelaksana KKN Tematik, Prof. Dr. Laode Santiaji Bande, S.P., M.Si., berharap berbagai inovasi yang diperkenalkan selama pelaksanaan program tidak berhenti setelah kegiatan KKN Tematik berakhir.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan serta diduplikasi secara mandiri oleh petani di Desa Lamomea. Menurutnya, kemampuan petani untuk memanfaatkan sumber daya lokal, mengadopsi teknologi, dan menghasilkan sendiri beberapa input produksi merupakan bagian penting dari proses pemberdayaan masyarakat pertanian.
Melalui integrasi Trichoderma sebagai agens hayati, pestisida nabati berbahan lokal, teknologi pemantauan kelembapan tanah, dan demplot budidaya sayuran, program KKN Tematik diharapkan mampu memberikan contoh nyata praktik pertanian berkelanjutan yang dapat dikembangkan lebih luas oleh masyarakat.
Pada akhirnya, kegiatan KKN Tematik “Inovasi Budidaya Sayuran Berkelanjutan di Desa Lamomea” diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani, tetapi juga mendorong terciptanya petani yang semakin mandiri, adaptif terhadap teknologi, efisien dalam mengelola usaha tani, dan berdaya dalam meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan keluarganya.

9 hours ago
4

















































