Oleh: M Djufri Rachim
PEMBACA tidak hilang. Mereka hanya berpindah tempat. Dari halaman depan media ke feed. Dari artikel ke video. Dari mesin pencari ke media sosial, bahkan mulai ke mesin kecerdasan artifisial.
Itulah kenyataan baru industri pers yang saya tangkap dari diskusi bersama 40 pimpinan media dalam kegiatan Local Media Community bersama Google, di Makassar, Rabu (12 Agustus 2026).
Trafik situs berita besar dilaporkan turun 48% pada Juni 2025 hingga Juli 2026. Sebaliknya, konsumsi informasi melalui media sosial terus meningkat. Sebanyak 54% audiens global kini mengakses berita melalui media sosial dan jaringan video, melampaui website dan aplikasi berita yang berada pada 51%.
Perubahan itu bukan sekadar perpindahan kanal. Perilaku pembaca juga berubah.
Suwarjono, Pemimpin Redaksi Suara.com, menyebut pembaca yang masih datang ke website semakin mengarah menjadi “pembaca pengetahuan”. Mereka mencari sesuatu yang lebih dari sekadar mengetahui apa yang terjadi. Mereka membutuhkan penjelasan, data, analisis, konteks, dan kedalaman.
Sementara itu, berita viral, ringan, cepat, dan menghibur semakin menemukan rumahnya di media sosial.
Di situlah media harus membaca perubahan dengan jernih.
Jangan memaksa website bertarung dengan TikTok, Instagram, atau platform sosial lainnya dalam arena yang sepenuhnya sama. Media sosial unggul dalam kecepatan, viralitas, video pendek, dan perebutan perhatian. Website harus menawarkan sesuatu yang tidak mudah digantikan platform: kredibilitas, kedalaman, konteks, data, arsip, dan pengetahuan.
Artinya, turunnya trafik tidak otomatis berarti matinya media.
Yang sedang berakhir boleh jadi ialah paradigma lama bahwa keberhasilan media digital ditentukan terutama oleh sebanyak mungkin pageviews. Masa depan media justru dapat bergerak dari bisnis trafik menuju bisnis pengetahuan.
Media tidak cukup hanya memberitakan bahwa suatu peristiwa terjadi. Media harus menjelaskan mengapa itu terjadi, siapa yang terkena dampaknya, apa datanya, dan apa yang perlu diketahui publik setelah peristiwa tersebut berlalu.
Bagi media lokal, peluang itu bahkan lebih terbuka.
Media nasional dapat memberitakan Sulawesi Tenggara. Platform dapat mendistribusikan informasi tentang Sulawesi Tenggara. AI dapat merangkum informasi mengenai Sulawesi Tenggara. Namun, pengetahuan mendalam tentang daerah, jejaring sumber lokal, data lokal, budaya, persoalan masyarakat, dan konteks sosial tetap menjadi keunggulan media yang hidup bersama komunitasnya.
Karena itu, strategi media lokal bukan melawan platform. Platform justru harus digunakan untuk menemukan dan membawa audiens. Website menjadi rumah bagi pengetahuan dan kredibilitas media.
Pada titik itulah perdebatan mengenai hak cipta karya jurnalistik harus ditempatkan secara hati-hati.
Pemerintah patut didukung ketika hendak memperkuat perlindungan karya jurnalistik dalam UU Hak Cipta. Jurnalisme membutuhkan biaya. Ada wartawan, editor, fotografer, teknologi, verifikasi, peliputan, dan tanggung jawab hukum di belakang sebuah berita.
Maka, ketika karya jurnalistik dieksploitasi untuk menghasilkan keuntungan ekonomi, publisher berhak memperoleh kompensasi.
Namun, perlindungan jangan berubah menjadi tembok distribusi.
Hyperlink tidak sama dengan mengambil karya. Tautan justru dapat menjadi jalan yang membawa pembaca menuju website media. Jika setiap tautan diperlakukan sebagai objek pungutan, platform dapat memilih mengurangi distribusi berita. Media lokal yang sedang berjuang mendapatkan audiens justru berpotensi kehilangan referral traffic.
Ironis jika negara hendak menyelamatkan ekonomi pers, tetapi regulasi yang dibuat justru menutup salah satu pintu masuk pembacanya.
Karena itu harus ada garis yang terang. Fakta tetap milik publik. Tautan tetap bebas. Kutipan secara wajar tetap dimungkinkan. Namun, reproduksi dan eksploitasi komersial atas karya jurnalistik harus memberikan manfaat ekonomi kepada pemilik karya.
Hubungan ekonomi antara publisher dan platform sebaiknya diselesaikan terutama melalui mekanisme business-to-business atau B2B.
Negara tidak perlu terlalu jauh masuk ke pasar. Negara menetapkan hak, menjamin transparansi, mencegah penyalahgunaan posisi dominan, dan menyediakan mekanisme penyelesaian sengketa.
Harga dan kompensasi biarlah dinegosiasikan oleh publisher dan platform.
Tentu B2B tidak boleh dibiarkan sepenuhnya bebas. Posisi tawar media lokal tidak sama dengan perusahaan platform global. Karena itu dibutuhkan regulated B2B: negosiasi berlangsung antarpelaku bisnis, tetapi negara memastikan prosesnya adil.
Negara juga jangan berubah menjadi penerima manfaat ekonomi dari hak cipta jurnalistik. Bila ada lembaga kolektif yang dilibatkan, transparansi biaya, formula distribusi, audit independen, dan hak publisher mengetahui nilai penggunaan kontennya harus dijamin.
Sebab, uang itu lahir dari karya jurnalistik. Manfaat ekonominya semestinya kembali kepada mereka yang membiayai dan menghasilkan jurnalisme.
Media memang sedang menghadapi perubahan besar. Trafik turun. Audiens berpindah. Algoritma menentukan distribusi. Kreator menjadi pesaing baru. AI bahkan mulai memberikan jawaban tanpa mengharuskan pengguna mengunjungi website sumber.
Namun, satu hal tidak berubah: masyarakat tetap membutuhkan informasi yang dapat dipercaya.
Di tengah banjir informasi, justru verifikasi, konteks, data, dan kredibilitas menjadi semakin bernilai.
Karena itu, jangan lagi mengukur masa depan media hanya dari berapa juta klik yang diperoleh hari ini. Ukurlah pula dari seberapa penting informasi yang dihasilkan, seberapa dipercaya medianya, dan seberapa kuat hubungan yang dibangun dengan komunitas pembacanya.
Media sosial boleh menjadi tempat orang menemukan berita. Platform boleh menjadi jalan distribusinya. AI boleh menjadi pintu baru untuk mencari informasi.
Namun, media harus tetap menjadi tempat publik menemukan pengetahuan yang dapat dipercaya.
Di situlah keberlanjutan pers seharusnya dibangun.
Publisher memperoleh hak ekonominya. Platform tetap mempunyai insentif mendistribusikan berita. Media lokal tidak kehilangan referral traffic. Publik tetap memperoleh informasi.
Negara?
Cukup memastikan semua bermain secara adil. ([email protected])

4 hours ago
2

















































