SULTRAKINI.COM: KENDARI – Di balik prosesi wisuda Universitas Terbuka (UT) Kendari, tersimpan kisah inspiratif dari salah satu wisudawan terbaik dari 242 Mahasiswa, Aprianti Sahas. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,68.
Perempuan asal Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara itu menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada UT, khususnya UT Kendari, atas bimbingan dan pelayanan selama menempuh pendidikan.
“Saya berdiri di sini bukan untuk menunjukkan siapa yang paling hebat, tetapi sebagai cerminan perjuangan kita bersama hingga bisa lulus hari ini,” ujarnya usai wisuda.
Aprianti mengungkapkan, pilihannya melanjutkan pendidikan di UT Kendari didasari keinginan untuk tetap kuliah tanpa meninggalkan pekerjaan. Sehari-hari, ia bekerja sebagai penjahit sambil menyisihkan waktu untuk belajar.
“Di sela waktu istirahat atau Sepulang kerja, meski lelah, saya tetap membuka modul saya untuk belajar. Bahkan menjelang ujian, saya harus bangun lebih pagi untuk belajar. Kuncinya ada pada kemampuan mengatur waktu,” katanya.
Ia juga mengakui bahwa sistem pembelajaran daring memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait jaringan internet dan keterbatasan interaksi langsung dengan dosen.
“Terkadang kendala jaringan menjadi hambatan. Tapi semua tergantung bagaimana kita mencari solusi, seperti mencari lokasi dengan sinyal yang lebih baik,” jelasnya.
Meski demikian, menurutnya fleksibilitas yang ditawarkan UT justru menjadi keunggulan, terutama bagi mahasiswa yang bekerja. Ia menilai keberhasilan menyelesaikan studi bukan semata karena sistem, melainkan kemauan dan komitmen pribadi.
“Fleksibilitas memang memudahkan, tapi kemauan kitalah yang membawa kita sampai di titik ini,” tegasnya.
Ia pun berpesan kepada mahasiswa lain, khususnya yang juga menjalani kuliah sambil bekerja, agar mampu membagi waktu dengan baik antara pekerjaan dan pendidikan.
“Yang penting jangan pernah berhenti belajar. Gelar ini bukan sekadar pajangan, tetapi tanggung jawab untuk membuktikan kualitas kita di masyarakat,” pesannya.
Ke depan, Aprianti berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai upaya meningkatkan kompetensi di bidang pendidikan.
Kisahnya menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi, selama ada tekad, disiplin, dan kerja keras.
Laporan: Andi Mahfud

4 hours ago
4

















































