Mengajar di Sekolah 3T Konawe Selatan, Surip Widodo Temukan Kisah yang Mengharukan

13 hours ago 7

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Hamparan perairan yang mengelilingi kampung terapung di Desa Bungi Permai, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, menjadi saksi semangat belajar para siswa di wilayah 3T. Di tengah keterbatasan fasilitas dan akses, anak-anak tetap datang ke sekolah dengan antusias untuk menimba ilmu.

Pemandangan itulah yang ditemui Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Sulawesi Tenggara, Surip Widodo, S.Si., M.M., saat menjalankan program Kepala UPT Mengajar dalam rangka Bulan Pendidikan 2026 di SD Negeri Satu Atap 19 Konawe Selatan pada Sabtu, 6 Juni 2026.

Program tersebut merupakan inisiatif yang berbeda dari kegiatan BGTK Sultra sebelumnya. Jika selama ini fokus pada peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan dan pendampingan, kali ini para kepala UPT turun langsung ke sekolah untuk mengajar peserta didik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Surip mengatakan kunjungan itu memberinya pengalaman berharga sebagai seorang pendidik. Ia dapat melihat langsung kondisi sekolah, karakter peserta didik, hingga tantangan yang dihadapi guru di daerah yang berada di kawasan kampung terapung.

Menurutnya, fasilitas pendidikan di lokasi tersebut masih tergolong terbatas. Sebagian bangunan dan sarana penunjang berdiri di atas konstruksi papan yang menyesuaikan kondisi lingkungan perairan setempat.

Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak mengurangi semangat para siswa untuk belajar dan beraktivitas. Bahkan, ada hal unik yang menarik perhatian Surip selama berada di sekolah tersebut.

“Yang menarik itu kemarin pas ke sana mereka sedang main bola. Ternyata di situ main bola itu kalau air surut. Kalau air pasang, lapangannya kembali jadi laut,” ujar Surip saat diwawancarai usai salah satu kegiatan BGTK Sultra.

Dalam kegiatan mengajar, Surip sengaja menerapkan metode pembelajaran yang berbeda dari biasanya. Ia tidak hanya mengajar di dalam kelas, tetapi mengajak siswa belajar langsung dari lingkungan sekitar.

Para siswa diajak mengamati kondisi dermaga dan lingkungan tempat tinggal mereka. Dari kegiatan tersebut, mereka belajar mengenali dampak sampah terhadap ekosistem perairan serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

“Saya buat bukan pembelajaran dalam kelas. Kami keliling di dermaga, melihat sampah dan kondisi lingkungan sekitar. Mereka senang karena baru pertama kali diajak belajar seperti itu,” katanya.

Ia menilai kemampuan dan daya tangkap siswa di wilayah kepulauan tidak berbeda dengan anak-anak di daerah lain. Menurutnya, keberhasilan pembelajaran lebih banyak ditentukan oleh kreativitas guru dalam menyampaikan materi.

“Kalau dari daya tangkap anak-anak sebenarnya sama saja. Semua tergantung gurunya. Kemarin saat mengajar mereka sangat antusias,” ungkapnya.

Selain pendidikan, Surip juga menyoroti perkembangan akses teknologi di sekolah tersebut. Meski berada di wilayah yang relatif terpencil, siswa sudah dapat memanfaatkan internet yang difasilitasi melalui inisiatif pihak sekolah dengan menggunakan layanan provider yang tersedia.

Ke depan, BGTK Sultra berencana mendorong lebih banyak widyaprada dan tenaga kependidikan untuk turun langsung mengajar siswa. Menurut Surip, pengalaman berada di ruang kelas akan membantu para pemangku kebijakan memahami kondisi riil pendidikan di lapangan sehingga program yang disusun lebih tepat sasaran.

“Selama ini kami mengajar guru. Sekarang kami ingin merasakan langsung menjadi guru di kelas. Kalau sudah merasakan sendiri, kita bisa lebih memahami tantangan yang dihadapi guru dan siswa,” tutupnya.

Laporan: Andi Mahfud

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|