Oleh: Dr. La Ode Mahmud, M.Si
(Pengajar Administrasi Bisnis FISIP UHO)
SULTRAKINI.COM: Menarik mencermati pemaparan visi, misi, dan program kerja sepuluh calon Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari periode 2026–2030. Di tengah keragaman strategi kelembagaan masing-masing kandidat, terdapat satu benang merah yang hampir sama yaitu keinginan membawa UHO menjadi perguruan tinggi berkelas dunia atau world class university. Gagasan itu hadir melalui agenda penguatan riset, inovasi, smart campus, digitalisasi tata kelola, internasionalisasi, hilirisasi riset, transformasi menuju PTN-BH, pusat unggulan berbasis potensi lokal, ekonomi biru, ketahanan pangan, serta kontribusi terhadap Indonesia Emas 2045.
Kesamaan orientasi tersebut patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan bahwa para calon rektor menyadari UHO tidak dapat berjalan dengan logika biasa-biasa saja. Sebagai perguruan tinggi negeri terbesar di Sulawesi Tenggara, UHO memikul tanggung jawab akademik, sosial, ekonomi, kebudayaan, dan peradaban bagi kawasan pesisir, kepulauan, serta wilayah timur Indonesia. Karena itu, gagasan menjadikan UHO sebagai universitas kelas dunia merupakan aspirasi penting dan relevan.
Namun, justru karena istilah world class university begitu sering digunakan, istilah ini perlu dibaca lebih kritis. Apakah universitas kelas dunia cukup dimaknai sebagai kampus yang naik peringkat global, memperbanyak publikasi internasional, memperluas kerja sama luar negeri, memperkuat akreditasi, membangun sistem digital, dan memperbaiki tata kelola administratif? Ataukah universitas kelas dunia harus dipahami lebih mendasar sebagai pusat pembentukan manusia, produksi ilmu, penguatan adab, keberpihakan sosial, dan pembangunan peradaban?
Pertanyaan ini penting karena world class university sering direduksi menjadi urusan indikator. Kampus dianggap maju ketika publikasi meningkat, sitasi bertambah, jejaring internasional meluas, dan administrasi terdigitalisasi. Semua itu tentu penting. Akan tetapi, indikator tersebut tidak boleh menjadi tujuan akhir yang menenggelamkan hakikat pendidikan tinggi. Universitas yang hanya mengejar angka berisiko menjadi institusi administratif-teknokratis yang sibuk memproduksi dokumen, memperbanyak MoU, dan mempercantik laporan kinerja, tetapi belum tentu membentuk manusia berilmu dan beradab. Kampus bisa tampak modern secara teknologi, tetapi miskin keberanian moral; terlihat global dalam jejaring, tetapi tercerabut dari problem masyarakat lokal.
Di sinilah perspektif sejarah keemasan pendidikan Islam menjadi penting. Prof. Fahmi Amhar, dalam tulisannya “Pendidikan Kelas Dunia”, mengajukan pertanyaan reflektif: bagaimana jika pemeringkatan perguruan tinggi dilakukan seribu tahun yang lalu? Dalam pembacaan historis itu, pusat-pusat ilmu dunia justru berada di kota-kota besar peradaban Islam seperti Baghdad, Cordoba, Cairo, Damaskus, al-Karaouiyinne, dan al-Azhar. Refleksi ini membuka kesadaran bahwa standar universitas kelas dunia tidak selalu lahir dari Barat modern. Jauh sebelum universitas Eropa menjadi rujukan global, dunia Islam pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan, penerjemahan, riset, perdebatan intelektual, dan pembentukan manusia-manusia besar.
Keunggulan pendidikan Islam terletak pada ekosistem ilmu. Di dalamnya terdapat ulama, ilmuwan, dokter, matematikawan, astronom, fuqaha, saudagar dermawan, pemimpin politik, dan masyarakat yang menghormati ilmu. Ilmu tidak dipandang sekadar alat mobilitas sosial atau instrumen ekonomi, tetapi sebagai amanah untuk memahami ciptaan Allah, mengelola kehidupan, menegakkan keadilan, dan menghadirkan maslahat.
Dalam tradisi tersebut, universitas bukan hanya tempat memperoleh ijazah, melainkan ruang pembentukan adab. Pembelajar tidak hanya dituntut cerdas, tetapi juga jujur, rendah hati, disiplin, bertanggung jawab, dan berkomitmen terhadap kebenaran. Ilmuwan tidak hanya dinilai dari kepakarannya, tetapi juga dari kebermanfaatan ilmunya. Riset tidak diletakkan semata-mata dalam logika reputasi akademik, tetapi dalam orientasi maslahat. Inilah dimensi yang sering hilang ketika world class university terlalu dikendalikan oleh ranking dan metrik global.
Perspektif Islam tentu tidak menolak sains, teknologi, riset, internasionalisasi, akreditasi, maupun tata kelola modern. Persoalannya bukan apakah UHO perlu menjadi kampus modern dan kompetitif secara global, melainkan arah nilai dari modernisasi itu. Digitalisasi harus memperkuat pelayanan dan keadilan, bukan sekadar mempercepat birokrasi. Riset harus menjawab problem masyarakat, bukan sekadar mengejar sitasi. Internasionalisasi harus membawa kontribusi ilmu, bukan berhenti pada MoU semata. Tata kelola harus amanah, bukan semata-mata efisien administratif.
Dengan demikian, visi world class university bagi UHO sebaiknya tidak berhenti pada keinginan “diakui dunia”. UHO perlu bergerak menuju universitas peradaban, yakni universitas yang tidak hanya memenuhi standar global, tetapi juga memiliki akar nilai, arah moral, basis epistemologis, dan keberpihakan sosial yang jelas. Universitas peradaban bukan sekadar kampus yang masuk peringkat dunia, melainkan kampus yang memberi sumbangan bagi dunia dari akar lokalitas dan kekuatan peradabannya sendiri.
Dalam konteks UHO, gagasan ini sangat relevan. Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan pesisir, kelautan, pertanian, pangan, energi, sumber daya alam, perdesaan, serta masyarakat kepulauan yang kompleks. Semua itu bukan sekadar objek penelitian, melainkan basis keunggulan akademik yang dapat dibawa ke percakapan global. UHO tidak perlu tercerabut dari lokalitas untuk menjadi global. Justru dari lokalitas itulah UHO dapat memberi kontribusi unik bagi dunia.
Di sinilah nilai-nilai pendidikan Islam dapat menjadi fondasi konseptual. Tauhid perlu diletakkan sebagai dasar epistemologi ilmu agar sains dan teknologi tidak bergerak sebagai pengetahuan yang netral nilai. Adab harus menjadi tujuan pendidikan agar UHO tidak hanya menghasilkan lulusan kompeten, tetapi juga manusia berintegritas. Maslahat harus menjadi orientasi riset agar ukuran keberhasilan tidak berhenti pada publikasi dan paten, tetapi pada manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Wakaf, filantropi, dan kemandirian institusi juga penting agar pendapatan kampus tidak berubah menjadi komersialisasi pendidikan.
Pilar lain yang tidak kalah penting adalah keberanian intelektual. Kampus harus berani menyuarakan kebenaran, mengoreksi ketidakadilan, menolak korupsi, melawan perusakan lingkungan, serta membela masyarakat lemah melalui argumentasi ilmiah dan kerja kelembagaan. Universitas berkelas dunia tidak hanya pandai menulis jurnal, tetapi juga berani menjadi hati nurani publik.
Karena itu, Rektor UHO periode 2026–2030 tidak cukup hanya menjadi manajer ranking. Rektor ke depan harus menjadi pemimpin peradaban kampus. Pada akhirnya, UHO memang perlu menjadi world class university. Namun, kelas dunia itu tidak boleh hanya menjadi pantulan standar global yang ditentukan pusat-pusat akademik luar. UHO harus membangun kelas dunianya sendiri yang berakar pada sejarah keemasan pendidikan Islam, berpijak pada nilai adab dan amanah, menjawab kebutuhan masyarakat Sulawesi Tenggara, serta memberi kontribusi bagi Indonesia dan dunia. Universitas yang benar-benar kelas dunia bukan hanya universitas yang dikenal dunia, melainkan universitas yang ilmunya menerangi dunia.***

19 hours ago
6

















































