SULTRAKINI.COM: KENDARI – Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara (BI Sultra) menggelar layanan penukaran uang rupiah periode 2 bagi masyarakat dalam program khusus Ramadan yang berlangsung pada 28 Februari –15 Maret 2026. Salah satu titik layanan dilaksanakan di halaman Masjid Al-Madani, Kota Kendari, yang berada di Jl. Pembangunan No.58, Kelurahan Benu-Benua, Kecamatan Kendari Barat, Senin (9/3/2025), mulai pukul 09.00 hingga 12.00 Wita.
Program penukaran ini mengharuskan masyarakat melakukan pendaftaran terlebih dahulu melalui layanan PINTAR di situs pintar.bi.go.id, kemudian membawa bukti pendaftaran serta KTP asli saat datang ke lokasi penukaran.
Pantauan di lokasi, masyarakat terlihat antusias memanfaatkan program penukaran uang tersebut. Sejak pagi hari, warga sudah memadati area penukaran sehingga antrean cukup panjang.
Salah satu warga Kendari yang ikut menukarkan uangnya, Wahda, mengaku harus mengantre cukup lama sebelum akhirnya mendapatkan giliran.
“Perasaan saya senang sih akhirnya sudah dapat giliran, walaupun tadi harus mengantre cukup lama,” ujarnya saat diwawancarai.
Ia menjelaskan bahwa ini merupakan pertama kalinya dirinya mengikuti program penukaran uang yang digelar langsung di lapangan oleh Bank Indonesia.
Menurutnya, proses penukaran tahun ini sedikit berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat diwajibkan terlebih dahulu melakukan pendaftaran melalui tautan atau sistem online sebelum datang ke lokasi penukaran.
“Kalau dulu di bank bisa langsung datang dan menukarkan uang. Sekarang harus isi link dulu dan ada beberapa persyaratan lain,” jelasnya.
Wahda menambahkan, setiap penukar hanya dapat melakukan penukaran satu kali dengan menggunakan satu kartu identitas (KTP). Adapun pecahan uang yang ditukarkan meliputi Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000 hingga Rp20.000.
Ia mengatakan uang pecahan tersebut rencananya akan digunakan untuk kebutuhan Lebaran, terutama untuk diberikan kepada anak-anak sebagai tradisi Tunjangan Hari Raya (THR).
“Saya tukarkan untuk Lebaran nanti, biasanya untuk dibagikan ke anak-anak,” katanya.
Meski demikian, Wahda menilai sistem penukaran tahun ini masih menyulitkan sebagian masyarakat, terutama bagi mereka yang belum terbiasa menggunakan layanan berbasis internet.
“Kalau menurut saya dan keluarga, sistem tahun-tahun lalu lebih mudah karena bisa langsung menukar di bank terdekat. Sekarang harus daftar online dulu,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan proses penukaran uang dapat dibuat lebih sederhana agar masyarakat yang belum terbiasa menggunakan teknologi tetap bisa mengakses layanan tersebut dengan mudah.
“Harapannya kalau bisa dikembalikan seperti tahun lalu supaya lebih simpel. Kasihan juga masyarakat yang masih awam dengan internet,” tutupnya.
Laporan: Andi Mahfud

8 hours ago
3
















































