Oleh: Naufa Amelia (Mahasiswi Program Studi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
SULTRAKINI.COM: Perkembangan teknologi dan modernisasi telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Saat ini, dunia kerja mengalami perubahan yang sangat cepat. Berbagai profesi baru mulai bermunculan seiring dengan berkembangnya teknologi digital. Generasi muda memiliki pilihan karier yang jauh lebih beragam dibandingkan generasi sebelumnya. Pekerjaan di bidang teknologi, industri kreatif, bisnis digital, hingga profesi kreator konten semakin diminati karena dianggap lebih modern, fleksibel, dan memiliki peluang yang menjanjikan.
Di sisi lain, sektor pertanian yang selama ini menjadi sumber utama penyedia pangan justru mulai kehilangan daya tarik, terutama di kalangan anak muda. Banyak generasi muda menganggap pertanian sebagai pekerjaan yang berat, kurang menarik, dan memiliki masa depan yang tidak begitu menjanjikan. Sawah sering kali dipandang sebagai simbol kehidupan lama yang tertinggal oleh perkembangan zaman, sedangkan masa depan dianggap berada di kota-kota besar, gedung-gedung tinggi, dan dunia digital yang berkembang sangat cepat.
Pandangan seperti itu secara perlahan membentuk cara masyarakat melihat sektor pertanian. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa keberhasilan identik dengan pekerjaan di kantor, lingkungan kerja modern, atau pekerjaan yang berhubungan dengan teknologi. Sementara itu, pekerjaan di sektor pertanian sering dipandang sebagai pilihan kedua atau bahkan pilihan terakhir. Akibatnya, semakin sedikit generasi muda yang tertarik menjadikan pertanian sebagai bidang yang ingin mereka tekuni.
Padahal, jika dipikirkan lebih jauh, ada sesuatu yang menarik dari kondisi tersebut. Masyarakat sering membayangkan masa depan sebagai sesuatu yang dipenuhi kecanggihan teknologi, kecerdasan buatan, kendaraan otomatis, dan berbagai inovasi modern lainnya. Namun, di tengah perkembangan tersebut, kebutuhan dasar manusia sebenarnya tidak pernah berubah. Setiap manusia tetap membutuhkan makanan untuk bertahan hidup. Tidak peduli seberapa maju teknologi berkembang, manusia tetap memerlukan beras, sayur, buah, dan berbagai bahan pangan lainnya.
Dari sinilah muncul pertanyaan yang menarik untuk dipikirkan: jika pangan selalu menjadi kebutuhan utama manusia, mengapa kita justru semakin menjauhi sektor yang menghasilkan pangan?
Menurut saya, masalah utamanya bukan karena pertanian sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Justru sebaliknya, pertanian akan selalu relevan karena berhubungan langsung dengan kebutuhan dasar manusia. Persoalan yang sebenarnya adalah cara masyarakat memandang pertanian yang masih dipenuhi berbagai pandangan lama.
Hingga saat ini, banyak orang masih menganggap pekerjaan di sektor pertanian identik dengan pekerjaan kasar, penuh lumpur, membutuhkan tenaga besar, dan memiliki pendapatan yang tidak menentu. Tidak sedikit pula orang tua yang lebih mendorong anak-anaknya mencari pekerjaan di kota dibandingkan melanjutkan usaha pertanian keluarga. Akibatnya, generasi muda di daerah perdesaan semakin banyak yang memilih meninggalkan sektor pertanian.
Fenomena tersebut bukan sekadar asumsi. Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah usaha pertanian perorangan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2013. Selain itu, jumlah petani milenial memang mulai mengalami peningkatan, tetapi regenerasi petani masih menjadi tantangan yang cukup besar bagi Indonesia. Data tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian tidak hanya menghadapi persoalan produksi, tetapi juga menghadapi persoalan sumber daya manusia.
Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena kebutuhan pangan masyarakat akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Jumlah penduduk terus bertambah, sementara kebutuhan terhadap bahan pangan juga semakin besar. Jika jumlah petani produktif terus menurun, bukan tidak mungkin sektor pertanian akan menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan pangan pada masa mendatang.
Dalam perspektif agribisnis, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kegiatan menanam dan memanen. Agribisnis merupakan sistem yang terdiri atas berbagai subsistem yang saling berhubungan. Sistem tersebut meliputi penyediaan sarana produksi seperti benih dan pupuk, kegiatan budidaya, pengolahan hasil pertanian, pemasaran produk, hingga distribusi kepada konsumen.
Artinya, jika jumlah petani produktif semakin sedikit, dampaknya tidak hanya dirasakan pada proses budidaya di lahan pertanian. Penurunan jumlah petani juga dapat memengaruhi berbagai sektor lainnya. Misalnya, industri pengolahan hasil pertanian dapat mengalami kesulitan memperoleh bahan baku. Pedagang dan distributor juga dapat mengalami gangguan karena jumlah produk yang tersedia semakin sedikit. Pada akhirnya, masyarakat sebagai konsumen juga dapat merasakan dampaknya melalui kenaikan harga atau berkurangnya ketersediaan pangan.
Dengan kata lain, persoalan regenerasi petani bukan hanya persoalan individu yang memilih jenis pekerjaan tertentu. Persoalan tersebut juga berkaitan dengan ketahanan pangan dan keberlanjutan sistem agribisnis secara keseluruhan.
Namun, menyimpulkan bahwa generasi muda tidak peduli terhadap pertanian juga bukan pandangan yang sepenuhnya benar. Banyak anak muda sebenarnya memiliki ketertarikan terhadap sesuatu yang memberikan ruang untuk berkembang, kesempatan berinovasi, serta peluang ekonomi yang baik. Persoalannya adalah sektor pertanian sering kali diperkenalkan dengan cara yang kurang menarik.
Ketika berbicara mengenai pertanian, yang sering muncul dalam benak masyarakat adalah petani yang bekerja di bawah terik matahari, menggunakan peralatan sederhana, dan menghadapi penghasilan yang tidak menentu. Gambaran seperti itu memang tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak menggambarkan kondisi pertanian secara utuh.
Saat ini, dunia pertanian telah mengalami banyak perubahan. Berbagai teknologi mulai digunakan untuk membantu kegiatan pertanian, seperti drone untuk memantau kondisi lahan, sensor digital untuk mengukur kondisi tanah, sistem irigasi otomatis, hingga aplikasi digital untuk pemasaran hasil pertanian. Kehadiran teknologi tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian juga dapat berkembang mengikuti perubahan zaman.
Selain itu, peluang di bidang agribisnis juga jauh lebih luas dibandingkan dengan yang sering dibayangkan masyarakat. Dunia pertanian tidak hanya berkaitan dengan menanam dan memanen. Di dalamnya terdapat berbagai peluang lain, seperti pengolahan hasil pertanian, pemasaran digital, pengembangan produk pangan, manajemen usaha, hingga kewirausahaan berbasis pertanian.
Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa perkembangan teknologi akan mampu menggantikan peran manusia dalam sektor pertanian. Dengan adanya mesin modern dan sistem otomatis, berkurangnya jumlah petani dianggap bukan masalah yang serius. Namun, menurut saya, pandangan tersebut perlu dikaji kembali.
Teknologi memang dapat membantu meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi teknologi tidak dapat bekerja sendiri. Mesin tetap membutuhkan manusia untuk mengoperasikan, mengelola, dan mengambil keputusan. Teknologi dapat membantu petani bekerja lebih mudah, tetapi tidak dapat menggantikan seluruh kemampuan manusia dalam memahami kondisi lingkungan dan mengelola usaha pertanian.
Oleh karena itu, yang perlu dilakukan bukan sekadar mengajak generasi muda kembali ke sawah, melainkan juga mengubah cara masyarakat memandang pertanian itu sendiri. Pemerintah dapat memperkuat program petani milenial, memperluas akses pembiayaan usaha tani, serta mendukung penggunaan teknologi pertanian modern. Perguruan tinggi juga dapat berperan melalui pelatihan, penelitian, dan pendampingan usaha agribisnis agar generasi muda lebih tertarik melihat peluang yang ada di sektor ini.
Selain itu, masyarakat juga perlu mulai memahami bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari pekerjaan yang terlihat modern atau berada di lingkungan perkotaan. Banyak pekerjaan yang memiliki peran besar bagi kehidupan masyarakat meskipun tidak selalu terlihat menarik di media sosial.
Pada akhirnya, sawah bukan sekadar hamparan tanah tempat menanam padi. Sawah merupakan tempat kehidupan manusia dimulai melalui pangan yang dihasilkannya. Dunia mungkin akan terus berubah, teknologi akan terus berkembang, dan berbagai profesi baru akan terus bermunculan. Namun, selama manusia masih membutuhkan makanan, sektor pertanian akan tetap menjadi bagian penting dari masa depan.
Mungkin masa depan akan dipenuhi kecerdasan buatan, gedung pintar, dan teknologi yang semakin canggih. Namun, sebelum semua itu bekerja, seseorang tetap harus menanam benih di tanah. Sebab, pada akhirnya, peradaban tidak hanya dibangun oleh layar dan teknologi, tetapi juga oleh sawah yang selama ini perlahan mulai kita tinggalkan.***

14 hours ago
8

















































