SULTRAKINI.COM: KENDARI – Suasana Posyandu Tutwuri Handayani, wilayah kerja Puskesmas Benu-benua, tampak lebih semarak dari biasanya pada Senin (22/6/2026). Puluhan ibu yang membawa balitanya mengikuti penyuluhan kesehatan yang digelar mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XV dengan antusias.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut mengusung tema “Penguatan Peran Keluarga dalam Pencegahan Stunting pada Anak melalui Pendekatan Promotif dan Preventif”. Penyuluhan menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stunting sejak dini.
Penyuluhan dipimpin oleh tim yang terdiri dari Fatimardiyach Rahmi, S.Farm., Waode Shima Indisia, S.Farm., Anisa Fauzia Asri, S.Farm., Selvi, S.Farm., dan Molifa Dalis, S.Farm. Kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antara mahasiswa profesi apoteker dengan tenaga kesehatan Puskesmas Benu-benua dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
Fatimardiyach Rahmi yang juga bertindak sebagai pemateri menjelaskan, keterlibatan apoteker dalam pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan obat-obatan, tetapi juga edukasi kepada masyarakat.
“Apoteker memiliki peran dalam penyediaan dan distribusi obat, pelayanan informasi obat, pemantauan terapi obat, konseling dan edukasi pola asuh serta edukasi keamanan pangan sehingga dapat membantu mencegah stunting pada anak,” ujar Fatimardiyach Rahmi saat diwawancarai, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, edukasi kepada keluarga menjadi langkah penting karena orang tua merupakan pihak yang paling berperan dalam memastikan tumbuh kembang anak berlangsung secara optimal sejak usia dini.
Dalam penyuluhan tersebut, mahasiswa menyampaikan berbagai materi penting terkait stunting. Mulai dari pengertian stunting, gejala dan tanda-tandanya, berbagai faktor penyebab, hingga langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan oleh keluarga.
“Materi yang kami sampaikan meliputi apa itu stunting, gejala dan tanda-tandanya, penyebab yang dapat menyebabkan stunting, serta berbagai upaya pencegahan agar anak terhindar dari stunting,” jelasnya.
Suasana penyuluhan berlangsung interaktif. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan dan berdiskusi mengenai pemenuhan gizi serta pola asuh anak.
“Peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini, terutama saat sesi tanya jawab berlangsung,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berharap edukasi yang diberikan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stunting sejak dini melalui pendekatan promotif dan preventif.
“Harapan kami, para orang tua semakin memahami informasi tentang pencegahan stunting sehingga angka stunting di Indonesia dapat terus menurun dan mampu melahirkan generasi yang berkualitas serta terhindar dari stunting,” tutup Fatimardiyach Rahmi.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, unggul, dan bebas stunting.
Laporan: Andi Mahfud

5 hours ago
4

















































