SULTRAKINI.COM: KENDARI – Komunitas Literasi Kota Kendari kembali menggelar kegiatan literasi bertajuk “Ulik Tilik Buku: Di Tanah Lada, Semesta Muram Ziggy & Anak-anak yang Tinggal di Dalamnya”, yang berlangsung di Perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, Sabtu (31/1/2026).
Ketua Komunitas Literasi Kota Kendari, Amaya Kim, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendekatkan buku kepada masyarakat melalui ruang-ruang publik, sekaligus mengubah cara pandang bahwa membaca bukan aktivitas eksklusif yang hanya dilakukan di perpustakaan.
“Sejak awal, kami ingin mengajak masyarakat Kendari sebanyak mungkin untuk membaca di ruang-ruang terbuka publik. Supaya membaca itu dianggap kegiatan yang lazim, sama seperti nongkrong atau aktivitas lain yang biasa dilakukan anak muda,” ujar Amaya.
Ia menjelaskan, selain membaca bersama, komunitasnya juga aktif mengembangkan kegiatan menulis melalui program writing session, yang mempertemukan para penulis pemula untuk belajar dan berkembang bersama. Kegiatan ini menjadi wadah bertukar gagasan dan melatih keberanian menulis.
Dalam kegiatan “Ulik Tilik Buku”, Komunitas Literasi Kota Kendari juga mengajak peserta untuk membaca karya sastra secara lebih mendalam dan kritis. Tidak sekadar memahami alur cerita, tetapi juga mengamati lapisan-lapisan makna di balik teks.
“Karya sastra itu kuat sekali elemennya. Di dalamnya ada fenomena psikologis, sosial, bahkan isu-isu sensitif seperti kesehatan mental dan bunuh diri anak. Itu yang ingin kami diskusikan bersama,” jelasnya.
Untuk memperkaya perspektif, panitia menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, termasuk psikolog dan pegiat sastra. Kegiatan ini juga melibatkan berbagai komunitas literasi, pelajar SMA, mahasiswa S1 dan S2, hingga masyarakat umum.
Amaya menyebutkan, komunitas literasi yang dipimpinnya telah aktif sejak tahun 2021 dan kini memiliki sekitar 50 anggota aktif dalam grup komunikasi. Antusiasme anak muda terhadap literasi di Kendari terus meningkat, terutama sejak masa pandemi.
“Sejak pandemi, minat membaca anak muda naik cukup signifikan. Selain itu, pengaruh media sosial juga besar. Anak-anak Gen Z melihat membaca itu seru, lalu ikut bergabung. Itu yang membuat literasi di Kendari makin hidup,” katanya.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya membangun daya kritis pembaca. Menurutnya, membaca tidak cukup hanya untuk menikmati cerita, tetapi juga memahami konteks dan pesan yang terkandung di dalamnya.
Saat ini, Komunitas Literasi Kota Kendari rutin menggelar kegiatan membaca dan diskusi di berbagai ruang publik, seperti kafe, kawasan eks MTQ, Taman Budaya, hingga ruang terbuka lainnya. Langkah ini dilakukan agar masyarakat melihat membaca sebagai aktivitas sehari-hari yang menyenangkan.
“Harapannya, anak-anak muda tidak hanya sibuk dengan media sosial, tetapi juga tertarik membaca buku. Bahkan anak-anak kecil bisa meneladani orang dewasa yang gemar membaca,” ujarnya.
Ke depan, Amaya berharap semakin banyak generasi muda yang bergabung dalam komunitas-komunitas literasi untuk memperluas jejaring, bertukar wawasan, dan melahirkan karya-karya baru dari proses diskusi bersama.
“Semoga komunitas ini bisa menjangkau lebih banyak orang dan terus mengajak masyarakat untuk membaca dan berpikir kritis,” pungkasnya.
Laporan: Andi Mahfud

3 days ago
12

















































