SULTRAKINI.COM: KENDARI – Digitalisasi tak lagi sebatas cara baru menerima pembayaran. Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), teknologi mulai menjadi bagian dari cara mengelola usaha, mencari pasar, hingga membuka peluang pembiayaan.
Pesan itu mengemuka saat Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara menutup rangkaian Sultra Maimo 2026 di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Kendari, Minggu (9/8/2026).
Kepala Perwakilan BI Sulawesi Tenggara Edwin Permadi mengatakan penyelenggaraan Sultra Maimo tahun ini dibagi dalam dua rangkaian dengan fokus berbeda. Rangkaian pertama diarahkan pada pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, sedangkan rangkaian kedua lebih menitikberatkan pada digitalisasi.
Menurut Edwin, digitalisasi dibutuhkan UMKM bukan hanya untuk menerima pembayaran, tetapi juga mendukung operasional dan pengembangan usaha.
“Untuk Maimo kedua ini kita lebih banyak mengedepankan digitalisasi. Ini sangat penting bagi pelaku UMKM untuk mendukung penjualan, operasional, dan pengembangan usaha,” ujar Edwin.
Upaya mendorong penggunaan teknologi itu terlihat dalam sejumlah kegiatan Sultra Maimo. Salah satunya melalui pemanfaatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dalam transaksi kuliner.
Penggunaan QRIS juga diperkenalkan melalui berbagai perlombaan dan kegiatan edukasi untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap transaksi pembayaran digital.
Edwin mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan BI Sultra terhadap agenda nasional, termasuk Pekan QRIS Nasional dan program QRIS Jelajah Indonesia.
Namun, menurut dia, digitalisasi pembayaran saja belum cukup untuk membuat UMKM berkembang. Pelaku usaha juga membutuhkan akses terhadap pembiayaan dan pasar yang lebih luas.
Karena itu, BI Sultra membuka peluang business matching antara UMKM dengan perbankan dan lembaga pembiayaan. Skema tersebut diharapkan dapat mempertemukan pelaku usaha dengan sumber permodalan sekaligus membuka jaringan bisnis baru.
Target akhirnya, kata Edwin, bukan sekadar membuat UMKM bertahan di pasar lokal, melainkan mendorong mereka naik kelas hingga mampu menembus pasar nasional dan internasional.
“Kita ingin UMKM naik kelas. Kalau sudah berhasil di tingkat nasional, tentu peluang untuk dibawa ke tingkat internasional juga semakin terbuka,” katanya.
Edwin mengatakan pengembangan UMKM tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah. Sektor kuliner, wastra, dan pariwisata perlu dibangun dalam satu ekosistem karena saling berkaitan dan dapat menciptakan efek berantai terhadap perekonomian daerah.
Kuliner, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai aktivitas perdagangan. Produk makanan khas daerah juga dapat menjadi alasan wisatawan datang ke suatu daerah.
“Orang datang ke suatu tempat kadang karena ingin menikmati makanan tertentu. Jadi kuliner juga bisa mendukung pariwisata,” ujar Edwin.
Karena itu, BI Sultra terus mendorong kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sultra, pemerintah kabupaten dan kota, serta organisasi perangkat daerah yang berkaitan dengan perdagangan dan pariwisata.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas akses UMKM terhadap pembiayaan, pasar, promosi, hingga peluang ekspor.
Menurut Edwin, penguatan UMKM juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah membuka gerbang ekspor Sulawesi Tenggara. Produk lokal, kata dia, perlu dipersiapkan agar mampu bersaing tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di pasar global.
BI Sultra menyatakan siap mendukung program pemerintah daerah yang berkaitan dengan pemberdayaan UMKM, perdagangan, inklusi, serta pengembangan ekonomi kreatif.
Salah satu agenda yang disiapkan adalah membawa UMKM Sultra yang telah melalui proses kurasi untuk berkompetisi di tingkat nasional melalui program Area Kreatif Indonesia.
Edwin mengatakan perubahan teknologi akan terus membawa tantangan baru bagi dunia usaha. Karena itu, pelaku UMKM dan pemangku kepentingan harus memiliki kemampuan beradaptasi.
“Dulu belum digitalisasi, sekarang digitalisasi. Ke depan seperti apa, nanti kita lihat lagi. Yang penting kita harus selalu up to date dengan kondisi perekonomian dunia dan perkembangan teknologi,” ujarnya.
Menurut dia, penguatan ekosistem UMKM membutuhkan kerja bersama antara BI, pemerintah daerah, dunia usaha, pelaku UMKM, dan media.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi melahirkan inovasi yang dapat memberikan dampak langsung terhadap perkembangan ekonomi Sulawesi Tenggara.
Edwin juga membuka ruang bagi pemerintah daerah dan insan pers untuk memberikan gagasan maupun masukan terkait pengembangan program ekonomi di Sulawesi Tenggara.
“Kami selalu terbuka. Kalau ada ide dan masukan dari teman-teman pemerintah daerah maupun pers, silakan disampaikan,” pungkasnya.
Laporan: Riswan

22 hours ago
7

















































