Kepedulian Sosial, Mestinya Tidak Temporer

2 days ago 6

Oleh : Ahmad Usman

Dosen Universitas Mbojo Bima

INIPASTI.COM, Rela atau tidak rela, ikhlas atau tidak ikhlas, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, Bulan Ramadhan beberapa saat lagi, pasti akan berlalu dan pamit meninggalkan kita, dan Bulan Ramadhan tahun ini tak akan pernah kembali dan akan pergi untuk selama-lamanya dengan membawa segala seluk-beluk catatan amal ibadah, termasuk khilaf dan dosa-dosa kita. Lepas dari itu, spirit Bulan Ramadhan telah menaburkan sikap peduli, altruistik, pro-sosial, empati, rasa sosial, kesetiakawanan, solidaritas dan kepekaan sosial. Kepekaan sosial dan sikap-sikap sosial positif lainnya, mestinya tidak temporer. Tidak hanya tumbuh subur di Bulan Ramadhan, tapi hampa dan kering kerontang di sebelas bulan lainnya. Mestinya tidak temporer, tapi terus ditaburkan di bulan-bulan lain. Faedah Bulan Ramadhan, bukan hanya berfaedah ruhiyyah atau manfaat spiritual kejiwaan, faedah shihhiyyah (manfaat kesehatan), pun berfaedah ijtimaiyyah atau manfaat sosial kemasyarakatan. Ramadhan, bulan transformasi spiritual dan penguat kepekaan sosial.

Puasa menjadi sarana untuk membangun ketaqwaan sosial dan menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera dan harmonis. Puasa melatih kita untuk lebih peka terhadap kebutuhan orang lain. Rasa lapar dan dahaga yang kita rasakan selama berpuasa dapat membangkitkan empati terhadap mereka yang kekurangan. Hal ini mendorong kita untuk lebih dermawan dan membantu mereka yang membutuhkan, baik secara materi maupun non-materi.

Manusia secara alamiah saling membutuhkan satu sama lain. Kepekaan sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari interaksi sosial dalam tatanan masyarakat. Menurut Bender, dkk (2012), kepekaan sosial adalah kemampuan personal untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain.

Masalah sosial kontemporer yang ditimbulkan oleh arus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kurangnya kepekaan sosial (social sensitivity). Kebanyakan manusia pada era ini cenderung lebih mementingkan diri sendiri atau individualis. Padahal secara prinsip, manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan manusia yang lain (Shodiq, 2021).

Kepekaan sosial meliputi perilaku seperti membagikan apa yang dimiliki pada orang lain, menolong, kerjasama, jujur, dermawan, serta memerhatikan hak dan kesejahteraan orang lain dapat menjadikan hubungan antar individu menjadi semakin akrab dan menimbulkan rasa saling menghargai, saling percaya, dan menghormati antar sesama. Menurut Scott  (Sukardi, 2015), kepekaan sosial mampu meningkatkan kemampuan seseorang untuk melakukan moral judgement, moral decision making, dan moral action yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kepekaan sosial dalam pergaulan sangatlah penting karena setiap individu tidak selamanya hidup sendirian. Tondok (2012) mengungkapkan bentuk kepekaan sosial dalam pergaulan di antaranya adalah berbagi dengan orang lain yang membutuhkan, bersedia membantu orang yang membutuhkan, berani meminta maaf lebih dulu apabila melakukan kesalahan, tidak menjelekkan atau mengumpat dengan kata-kata kasar melalui media sosial serta menghargai orang lain yang memiliki kondisi yang berbeda.

Fenomena sosial yang terjadi pada akhir-akhir ini memberikan persepsi yang beragam dalam menyikapi gambaran masyarakat umum dalam melakukan aktivitas sosial terutama dengan kebutuhan dan perasaan inidvidu. Perkembangan teknologi yang modern dan kekinian menjadikan masyarakat untuk bersikap yang timbul dari rasa-rasa dalam dirinya sendiri termsauk rasa sosial, empati, simpati, maupun rasa sugesti yang muncul terhadap keadaan yang dirasakan dan dilihat secara langsung maupun tidak. Beberapa individu masih terlihat kurang dalam menyikapi keadaan sosial dengan kepedulian sosial serta rasa sosial, sehingga mempengaruhi sikap peka terhadap aktivitas yang terkait dengan lingkungan sosial dalam kehidupan sehari-hari (Setiawatiningsih dan Ari Khusumadewi, 2024).

Rasa kepekaan sosial pada individu sangat penting guna untuk membentuk pribadi yang memahami problem sosial ke depannya kelak sehingga mampu memberikan bentuk kepekaan sosial yang tinggi terhadap situasi dan kondisi telah dialaminya.

Makna Kepekaan sosial

Kepekaan sosial atau social sensitivity dapat diartikan sebagai tindakan seseorang untuk bereaksi secara cepat dan tepat terhadap objek atau situasi sosial yang ada di lingkungan sekitar.

Kepekaan sosial (social sensitivity) secara sederhana dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk bereaksi secara cepat dan tepat terhadap objek atau situasi sosial tertentu yang ada di sekitarnya (Tondok, 2012). Kepekaan sosial (social sensitivity) merupakan kemampuan seseorang untuk bereaksi secara cepat dan tepat terhadap objek atau situasi sosial tertentu yang ada disekitarnya (Rohima, 2018). Kepedulian sosial atau kepekaan sosial juga berhubungan dengan kemauan diri dan karakter yang telah ada didalam diri seseorang untuk berempati atau membaca emosi orang lain (Utami, 2019). Sehingga dapat dikatakan bahwa kepekaan sosial merupakan suatu bentuk perhatian serta kepedulian seorang individu terhadap keadaan di lingkungan sekitar yang dilakukan atas keinginan sendiri tanpa adanya paksaan.

Secara teorotis, kepekaan sosial merupakan tingkat kepedulian individu terhadap orang lain (Shin, Kim, Im, & Chong, 2017). Sedangkan menurut konsepsi K. P Scott erat kaitannya dengan empati, prososial dan moralitas. Ketiga hal tersebut dapat diamati melalui tiga unsur kompetensi yaitu komunikatif, kognitif dan afektif. Pengamatan kapasitas afektif dari tiap orang dapat dilihat dengan caranya saling merasakan dan berbagi pengalaman. Sementara, pada bagian kognitif dapat dirujuk melalui kapasitas tiap orang dalam membedakan cara pandang orang lain untuk mengambil keputusan. Selanjutnya, kemampuan komunikatif terlihat melalui cara mengkomunikasikan perasaan seseorang kepada orang lain (Scott dalam Shodiq, 2021).

Kepekaan sosial dapat didefinisikan sebagai proses memahami lingkungan secara akurat (Pulakos, et al., 2002) yang meliputi perasaan, analisa, dan mengevaluasi sistem sosial (Mueller-hanson, et al., 2007).

Sikap kepekaan sosial dapat diklasifikasikan, seperti berbagai dengan orang lain, bersedia membantu orang lain yang membutuhkan, keberanian meminta maaf bila melakukan kesalahan, dan menghargai orang lain yang memiliki kondisi yang berbeda.

Bentuk dan Aspek Kepekaan Sosial

Terdapat dua macam atau sebutan lain dari kepekaan sosial menurut Rohima (2018). Pertama, empati merupakan reaksi dari sikap, tindakan, atau perkataan yang mungkin sangat mirip dengan apa yang diharapkan oleh orang lain. Karakter empati ini seringkali merupakan awal dari reaksi emosi lainnya, misalnya empati bisa menghasilkan simpati. Kedua, kepedulian sosial ialah suatu keadaan di mana seseorang mudah merasakan perubahan terhadap hal-hal kecil yang terjadi di sekelilingnya, seperti bertindak dengan sungguh-sungguh, loyal, berani, berbudi, dan adil tanpa banyak tergoda oleh hal-hal sebaliknya. Mereka melakukan hal yang benar karena kebiasaan. Seseorang yang memiliki kepekaan sosial tinggi, akan mudah memiliki rasa peduli kepada sesama yang tinggi pula.

Kepekaan sosial dapat berupa : empati, kepeduliaan sosial, kesadaran diri, dan menghargai orang lain.

Davis (Satriawan, 2012) mengemukakan beberapa aspek kepekaan sosial. Pertama, perspective-taking, kecenderungan individu untuk secara sukarela mengadopsi perspektif orang lain. Mengambil sudut pandang lebih menekankan pada perilaku yang mengutamakan kepentingan orang lain daripada berorientasi pada kepentingan diri sendiri. Kedua, fantasy. Ini adalah kemampuan untuk membayangkan tindakan dan emosi karakter fiksi dalam buku, layar, film, dan permainan. Menurut Scotland et al. Aspek ini mempengaruhi reaksi emosional kita terhadap orang lain. Ketiga, emphatic concern, yaitu orientasi pribadi terhadap masalah yang dihadapi orang lain, antara lain rasa iba dan empati. Kasih sayang sangat erat hubungannya dengan kepekaan sosial terhadap orang lain.

Penting dan Manfaat Kepekaan Sosial

Kepekaan sosial adalah salah satu sikap penting yang harus dimiliki oleh setiap individu dalam masyarakat. Sikap ini tidak hanya mencerminkan kepedulian terhadap orang lain, tetapi juga menunjukkan kemampuan untuk memahami dan merespons kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh lingkungan sekitar. Dalam konteks sosial yang semakin kompleks, menumbuhkan kepekaan sosial menjadi semakin penting untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan saling mendukung (Ajeng 2024).

Kepekaan bukanlah sekadar kualitas abstrak, melainkan memiliki berbagai manfaat konkret dalam kehidupan sehari-hari (Prabandari, 2025). Pertama, meningkatkan kualitas hubungan. Orang yang peka cenderung lebih mudah membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat. Mereka mampu menangkap kebutuhan emosional pasangan, teman, atau keluarga, sehingga dapat memberikan dukungan yang tepat. Dalam konteks hubungan romantis, kepekaan membantu pasangan untuk saling memahami dan menghargai, mengurangi potensi konflik akibat kesalahpahaman. Kedua, mengembangkan empati. Kepekaan erat kaitannya dengan empati, kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dengan menjadi lebih peka, seseorang dapat lebih mudah menempatkan diri pada posisi orang lain, memahami sudut pandang mereka, dan memberikan respon yang sesuai. Hal ini sangat bermanfaat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan personal hingga profesional.

Ketiga, meningkatkan keterampilan komunikasi. Orang yang peka umumnya menjadi pendengar yang lebih baik. Mereka tidak hanya mendengar kata-kata yang diucapkan, tetapi juga memperhatikan nada suara, bahasa tubuh, dan konteks pembicaraan. Hal ini memungkinkan mereka untuk berkomunikasi dengan lebih efektif, menghindari kesalahpahaman, dan merespon dengan cara yang konstruktif.

Keempat, membantu dalam pengambilan keputusan. Kepekaan terhadap lingkungan dan situasi sekitar dapat membantu seseorang membuat keputusan yang lebih bijaksana. Mereka lebih mampu mempertimbangkan berbagai faktor dan dampak potensial dari tindakan mereka, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Kelima, meningkatkan kesadaran diri. Selain peka terhadap orang lain, individu yang memiliki kepekaan tinggi juga cenderung lebih sadar akan perasaan dan kebutuhan diri sendiri. Hal ini membantu dalam mengelola emosi, mengenali batasan pribadi, dan menjaga kesehatan mental.

Kepekaan sosial memegang peranan penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis dan inklusif. Tanpa sikap ini, individu cenderung menjadi egois dan tidak peduli terhadap kondisi orang lain. Sebaliknya, dengan menumbuhkan kepekaan sosial, masyarakat dapat : pertama, menciptakan solidaritas. Kepekaan sosial membantu dalam membangun solidaritas antaranggota masyarakat, yang pada gilirannya meningkatkan rasa kebersamaan dan kesatuan. Kedua, mencegah konflik sosial. Dengan memahami dan menghargai perbedaan, kepekaan sosial dapat mencegah terjadinya konflik dan menciptakan lingkungan yang damai. Ketiga, memperkuat tali persaudaraan. Sikap saling peduli dan mendukung antarindividu memperkuat tali persaudaraan dan mempererat hubungan sosial (Ajeng 2024).

Menumbuhkan sikap kepekaan sosial memberikan berbagai manfaat, baik bagi individu maupun masyarakat secara keseluruhan, antara lain : pertama, meningkatkan kualitas hidup. Dengan adanya kepekaan sosial, kehidupan bermasyarakat menjadi lebih nyaman, damai, dan harmonis. Kedua, membangun rasa kebersamaan. Sikap saling peduli dan empati memperkuat rasa kebersamaan dan mengurangi kesenjangan sosial. Ketiga, mendorong tindakan positif. Kepekaan sosial mendorong individu untuk bertindak lebih positif dan proaktif dalam membantu orang lain serta berkontribusi pada kemajuan masyarakat. Keempat, mengurangi ketimpangan sosial. Dengan sikap yang peka, individu dan kelompok dapat bekerja sama untuk mengatasi masalah ketimpangan sosial dan ekonomi di lingkungan mereka (Ajeng 2024).

Prinsip Kepekaan Sosial

Ada sejumlah prinsip kepekaan sosial menurut Tondok (2012). Pertama, latihan di rumah Bagi anak, orang tua merupakan role model, anak banyak belajar melalui sesuatu yang dilakukan oleh orang tua, anak akan mencontoh tindakan-tindakan dari orang tuanya. Kedua, latihan melalui sosialisasi. Anak memerlukan pengalaman secara langsung untuk melatih diri dari lingkungan sosialnya. Melalui sosialisasi bersama teman sebaya sehingga mampu  mempraktekkannya langsung pelajaran yang diberikan oleh orang tuanya.

Alma (Tabi’in, 2017) juga membagi prinsip kepekaan sosial, yaitu : pertama, lingkungan keluarga. Lingkungan ini adalah lingkungan yang kecil bagi anak, anak mulai belajar berinteraksi dari keluarga akan membawa perkembangan perasaan sosial anak yang pertama, seperti perasaan simpati kepada orang lain. Kedua, lingkungan masyarakat. Lingkungan ini mencangkup lingkungan yang lebih luas, di sini akan timbul yang namanya saling tolong menolong dan bekerjasama antar keluarga. Ketiga,  lingkungan sekolah. Di sekolah anak diajarkan untuk mengembangkan kemampuan intelektual, emosi, budaya dan sosialnya. Di sekolah anak mulai mengenal teman sebaya untuk memperluas hubungan sosialnya.

Dukungan Kepekaan Sosial

Kepekaan sosial tidak muncul dengan sendirinya, melainkan butuh dorongan dari orang-orang terdekat anak karena dukungan sosial itu untuk mendukung perkembangan kepekaan sosial anak dengan lingkungan sekitarnya.

Ada sejumlah jenis dukungan sosial menurut Wahyuni (2016). Pertama, dukungan emosional: memberikan dukungan seperti kasih sayang, perhatian, dan memberi kepercayaan. Kedua, dukungan penghargaan: mengenai memberi penghargaan berupa penilaian baik, ucapan, hadiah dan memberikan dorongan kepada orang lain agar kedepannya dapat lebih baik. Ketiga, dukungan instrumental: memberikan dukungan langsung terhadap orang lain misal memberi pertolongan, meminjamkan uang untuk orang yang membutuhkan. Keempat, dukungan informasi: memberikan dukungan berupa saran, nasehat kepada orang lain mana yang seharusnya baik untuk dilakukan. Kelima, dukungan jaringan sosial: sering disebut dengan dukungan persahabatan untuk melakukan interaksi sosial yang positif guna menjalin pertemanan.

Dukungan kepekaan sosial untuk anak ada tiga yaitu : pertama, emotional support seperti anak diperhatikan dan memiliki rasa nyaman; kedua, cognitive support seperti pengetahuan yang dimiliki dan nasihat yang diberikan untuk anak; dan ketiga, materials support seperti bantuan yang dibutuhkan anak untuk mengatasi masalah yang terjadi (Wahyuni, 2016).

Ditanamkan Sejak Dini

Kepekaan sosial menjadi penting untuk ditanamkan sejak dini karena dapat mengembangkan sikap peduli sosial dan membentuk pribadi yang mempunyai jiwa kepedulian sosial yang tinggi. Kepekaan sosial dimulai dari pribadi yang matang, dan mampu mengarahkan sesuai dengan nilai-nilai moral yang ada dalam masyarakat. Kematangan pribadi seseorang akan mampu meningkatkan kualitas hidup yang dimilikinya baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Oleh karena itu seseorang yang  mampu memahami nilai moral yang ada di masyarakat akan memiliki tingkat kepedulian sosial yang tinggi terhadap penderitaan yang dimiliki orang lain dan cenderung memiliki tingkat kepekaan sosial yang tinggi.

Kepekaan sosial sebagai salah satu dari unsur nilai-nilai karakter dianggap perlu ditanamkan sejak usia dini. Rentang usia ideal bagi pembentukan karakter anak berkisar mulai dari 4-5 tahun. Pada usia tersebut, anak pada posisi yang mudah dibina sebelum masuk ke usia berikutnya. Masa pertumbuhan anak-anak menjadi remaja merupakan masa peningkatan yang signifikan dalam menumbuhkan kepekaan terhadap informasi-informasi sosial (McCormick dan Telzer, 2018). Hal ini dikarenakan pada masa remaja, anak-anak lebih banyak berinteraksi, berorganisasi, berdiskusi atau bahkan membentuk kelompok-kelompok sosial dengan teman sebayanya. Sehingga remaja akan belajar bagaimana menghadapi masalah baik dalam dirinya maupun dalam kelompok, kemudian belajar memecahkannya. Dibandingkan masa anak-anak dan masa dewasa, remaja mempunyai tingkat responsivitas yang tinggi dalam sosio-emosionalnya (McCormick, et al., 2018). Oleh karenanya, kepekaan sosial dapat terbentuk dan terasah pada masa remaja.

Kepekaan sosial yang sering dilatih dan diterapkan, dapat menumbuhkan sikap sosial yang lain seperti empati, kepedulian sosial, kesadaran diri, dan menghargai orang lain. Hal ini berarti bahwa setiap orang dapat ikutserta merasakan apa yang sedang terjadi dengan keadaan orang lain. Hal ini senada dengan makna empati dari Elfindri (2012), yaitu keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Keberadaan sikap sosial empati jika diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat memiliki makna yang sama dengan sikap kepedulian. Selain itu, sikap saling menghargai juga merupakan bagian dari indikator kepekaan sosial. Sehingga, penanaman sikap saling menghargai sangat penting.

Kepekaan sosial perlu dikembangkan lebih lanjut untuk mengurangi sifat egosentrisme dan mengembangkan rasa empati terhadap orang lain yang ada di sekitar. Kepekaan sosial harus dikembangkan terutama dalam menyikapi masalah-masalah sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat.

Memang tidak gampang cara menumbuhkan jiwa sosial yang tinggi. Tapi percayalah, kepekaan sosial bisa ditumbuhkan apabila kita berusaha melakukannya. Salah satu cara mujarab untuk menumbuhkan kepekaan sosial ialah dengan menyadari bahwa kita merupakan makhluk sosial. Dengan kesadaran ini, kita akan selalu merasa butuh kepada orang lain. Dan yang terpenting, kita akan mudah untuk bersosialisasi dan berempati kepada orang lain (Mas;ud, 2018).  Kepekaan sosial ini dimiliki oleh semua personal terlebih terhadap anak yang masih butuh taraf  perkembangan.

Sebenarnya kepekaan sosial ini bisa kita tumbuhkan kepada anak-anak di rumah (Faliyandra, 2019). Pertama, pujilah perbuatan baik anak. Banyak pakar psikologi menjelaskan bahwa salah satu cara termudah dan paling efektif meningkatkan perilaku personal anak adalah dengan memberi stimulus (dorongan) ketika perilaku itu muncul sebagai wujud tindakan. Kedua, tunjukkan sikap kepekaan orang lain terhadap anak. Tiga, bertanya tentang kepekaan sosial. Salah satu yang terpenting dalam membiasakan kepekaan sosial adalah dengan menunjukkan, menanyakan, dan membayangkan perasaan orang lain kepada anak kita.

Menumbuhkan sikap kepekaan sosial bukanlah hal yang instan, melainkan memerlukan proses dan upaya yang konsisten. Berikut beberapa cara untuk menumbuhkan sikap kepekaan sosial (Ajeng, 2024). Pertama, pendidikan moral dan sosial. Pendidikan yang menekankan pada nilai-nilai moral dan sosial sejak dini sangat penting untuk membentuk individu yang peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Kedua, praktik empati. Berlatih untuk selalu menempatkan diri di posisi orang lain dan merasakan apa yang mereka rasakan adalah cara efektif untuk mengembangkan kepekaan sosial. Ketiga, terlibat dalam kegiatan sosial. Partisipasi dalam kegiatan sosial, seperti bakti sosial, donasi, dan kerja sukarela, dapat meningkatkan kepedulian terhadap masalah yang dihadapi masyarakat. Dan keempat, membangun komunikasi yang efektif. Komunikasi yang baik dengan orang lain membantu dalam memahami situasi dan kondisi mereka, yang pada akhirnya meningkatkan rasa kepedulian.

Selain sejumlah upaya, kiat, cara di atas, sejumlah tips untuk melatih kepekaan sosial anak, misalnya : berikan anak penjelasan dampak sikap peka; ajak anak bersosialisasi dengan lingkungan luar; ungkapkan perasaan dan jelaskan mengapa merasa demikian; bacakan cerita atau dongeng; dan beri anak sanjungan atau pujian.

Seuntai Harapan

Kepekaan sosial harus dimiliki oleh anak untuk membentuk dirinya menjadi manusia yang mudah beraksi terhadap masalah sosial di lingkungan sekitarnya. Kepekaan sosial secara sederhana dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk bereaksi secara cepat dan tepat terhadap situasi sosial tertentu yang ada di sekitarnya (Tondok, 2012). Kepekaan sosial merupakan kondisi seseorang mudah bereaksi terhadap masalah sosial (Anggraini, 2015).

Kepekaan sosial dapat menghindarkan manusia dari konflik, pun meredakan konflik yang sudah kadung terjadi. Ia dapat menumbuhkan rasa empati, tenggang rasa, dan rasa percaya antarumat manusia. Seseorang yang tinggi tingkat kepekaan sosialnya akan lebih sensitif dengan perasaan orang lain. Butuh berpikir seribu kali untuk menyakiti orang lain, karena ikut membayangkan dan merasakan betapa tersiksanya orang yang tersakiti.

Semoga !!!

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|