GenBI UHO Gelar Envicare 2026, Perkuat Peran Generasi Muda dalam Mendorong Ekonomi Hijau

13 hours ago 6

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Kepedulian terhadap lingkungan hidup menjadi perhatian Generasi Baru Indonesia (GenBI) Komisariat Universitas Halu Oleo (UHO). Melalui Seminar GenBI Envicare 2026 bertema “Eco-Resilience: Mewujudkan Ekonomi Hijau yang Berkelanjutan”, GenBI UHO mengajak mahasiswa memahami pentingnya pembangunan ekonomi yang berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan.

Kegiatan yang digelar pada Kamis, 25 Juni 2026, di Aula Wakatobi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara, itu menghadirkan tiga narasumber, yakni Ricky S.E., M.M., CFP selaku Deputi Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia Sulawesi Tenggara, Deni Miranda selaku Ekonom Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara, serta Hamrillah S.P., M.M. selaku Kepala Tata Usaha UPTD Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tenggara.

Seminar tersebut menjadi salah satu upaya GenBI UHO dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga lingkungan melalui pendekatan ekonomi hijau. Selain memberikan materi dari para ahli, kegiatan ini juga dirancang agar peserta mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh melalui aksi nyata di lapangan.

Keterangan Ketua Panitia Seminar Envicare 2026, Muh. Irvandi, dan Ketua Umum GenBI UHO Periode 2025–2026, Firman Dani Baharuddin, diperoleh SULTRAKINI.COM melalui wawancara yang dilakukan pada Minggu, 28 Juni 2026. Dalam kesempatan itu, keduanya menjelaskan tujuan, konsep, hingga harapan besar di balik penyelenggaraan Seminar GenBI Envicare 2026.

Ketua Panitia Seminar Envicare 2026, Muh. Irvandi, mengatakan tema ekonomi hijau dipilih karena persoalan perubahan iklim, kerusakan lingkungan, hingga pengelolaan sumber daya alam menjadi isu yang semakin nyata. Melalui seminar ini, mahasiswa diharapkan memahami bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.

“Tujuan utama Seminar GenBI Envicare 2026 adalah meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat, khususnya mahasiswa, mengenai pentingnya menjaga lingkungan melalui konsep ekonomi hijau. Kami ingin memberikan wawasan sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang mampu berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan, baik melalui perubahan perilaku maupun aksi nyata,” ujar Muh. Irvandi.

Ia menjelaskan, peserta akan memperoleh berbagai materi mengenai investasi hijau, ketahanan pangan berkelanjutan, hingga pengelolaan sampah dari para narasumber. Tidak hanya itu, rangkaian kegiatan juga akan dilanjutkan dengan Green Action Day berupa aksi penanaman mangrove dan bersih lingkungan sebagai bentuk implementasi dari materi yang diberikan.

Menurutnya, konsep tersebut sengaja dihadirkan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan kebiasaan sederhana yang berdampak positif bagi lingkungan, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, menghemat energi, hingga aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan.

Sementara itu, Ketua Umum GenBI UHO Periode 2025–2026, Firman Dani Baharuddin, mengatakan Seminar Envicare 2026 memiliki fokus yang berbeda dibandingkan program-program GenBI sebelumnya. Jika selama ini kegiatan lebih banyak mengangkat tema literasi keuangan, kepemimpinan, dan pengembangan diri, kini perhatian diarahkan pada isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

“Seminar Envicare 2026 memiliki fokus yang lebih spesifik pada isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Kami ingin mengajak mahasiswa melihat bahwa kepedulian terhadap lingkungan juga merupakan bagian dari tanggung jawab generasi muda. Jadi, seminar ini tidak hanya memberikan wawasan, tetapi juga mendorong peserta mulai menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Firman Dani Baharuddin.

Firman menuturkan, pihaknya sengaja menghadirkan narasumber dari Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tenggara agar peserta memperoleh sudut pandang yang saling melengkapi. Dari sisi ekonomi, peserta dapat memahami bagaimana konsep ekonomi hijau menjadi bagian dari pembangunan nasional, sementara dari sisi lingkungan peserta mendapatkan gambaran mengenai kondisi di Sulawesi Tenggara beserta langkah-langkah nyata yang dapat dilakukan masyarakat.

“Kami percaya perubahan dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Karena itu, peserta tidak hanya mendapatkan materi dari para narasumber, tetapi juga diajak memahami bagaimana mereka bisa berkontribusi melalui tindakan sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, menghemat energi, hingga aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan,” ungkapnya.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti di ruang seminar, melainkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi inspirasi bagi masyarakat di lingkungan masing-masing untuk ikut menjaga kelestarian alam.

Firman menambahkan, GenBI UHO menargetkan lahirnya lebih banyak agen perubahan dari kalangan mahasiswa yang mampu mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Melalui kolaborasi bersama pemerintah, Bank Indonesia, dan berbagai mitra, Envicare diharapkan menjadi program berkelanjutan yang memberi dampak positif bagi Sulawesi Tenggara.

“Kami berharap setelah mengikuti seminar ini peserta tidak hanya memiliki pengetahuan yang lebih baik, tetapi juga termotivasi mengambil aksi nyata dan mengajak lebih banyak orang berpartisipasi menjaga lingkungan. Dalam jangka panjang, kami ingin kegiatan ini menjadi kontribusi GenBI UHO dalam mendukung terciptanya masyarakat Sulawesi Tenggara yang lebih peduli terhadap lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan,” tutup Firman.

Laporan: Andi Mahfud

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|