SULTRAKINI.COM: KENDARI – Perpustakaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tenggara terus mendorong tumbuhnya budaya literasi di kalangan generasi muda. Salah satunya melalui kegiatan Bedah Buku: Design Thinking & Journaling yang digelar bersama komunitas Kendari Book Party, Ramu Club, dan Sewa Buku Kendari.
Kegiatan yang berlangsung di salah satu kafe di Kota Kendari, Sabtu (20/6/2026), diikuti sekitar 50 peserta yang didominasi mahasiswa dan anak muda. Mereka diajak mendalami buku Design Thinking for Business Growth karya Michael Lewrick sebagai bekal membangun pola pikir inovatif dalam menghadapi tantangan era digital.
Narasumber kegiatan, Fauzan Karim, alumni Young Impact Generator, menjelaskan bahwa buku tersebut mengupas bagaimana pendekatan design thinking dapat menjadi fondasi dalam mendorong pertumbuhan organisasi maupun bisnis melalui transformasi pola pikir.
Menurut Fauzan, transformasi yang dibahas dalam buku itu tidak sekadar menyentuh aspek teknologi, tetapi juga perubahan cara berpikir, kemampuan, hingga penggunaan berbagai metode yang mendukung inovasi.
“Konsep yang ditawarkan sangat komprehensif karena mendorong transformasi mulai dari mindset, skillset, hingga toolset. Buku ini juga membahas berbagai alat yang dapat digunakan dalam proses pengembangan organisasi maupun bisnis,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu perubahan penting yang kini dibutuhkan organisasi adalah bergesernya model kepemimpinan dari sistem komando menuju organisasi yang lebih lincah (agile) dan adaptif terhadap perubahan.
Di tengah persaingan yang semakin terbuka akibat hadirnya berbagai pemain baru, kata Fauzan, seorang pemimpin dituntut tidak hanya mampu memimpin, tetapi juga menjadi penghubung yang membangun kolaborasi lintas pihak.
“Di era sekarang, pemimpin bukan lagi sekadar leader, tetapi menjadi orkestrator yang mampu menghubungkan berbagai simpul kolaborasi. Kemampuan berkolaborasi menjadi salah satu kunci memenangkan persaingan,” katanya.
Fauzan menilai, konsep design thinking tidak hanya relevan diterapkan di dunia bisnis, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh pegiat sosial, mahasiswa, hingga generasi muda dalam menyelesaikan berbagai persoalan sehari-hari.
Ia menekankan bahwa inti dari design thinking adalah memahami akar persoalan melalui proses empati sebelum menawarkan solusi.
“Jangan terburu-buru memberikan solusi. Kita harus lebih dulu mendengarkan, memahami, dan melihat persoalan secara mendalam agar solusi yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan,” tuturnya.
Tak hanya berdiskusi, peserta juga mengikuti sesi praktik menggunakan metode persona canvas. Melalui pendekatan tersebut, mereka diajak mengenali kondisi, tujuan, serta tantangan yang dihadapi sebagai langkah awal dalam merancang solusi yang lebih tepat.
Menurut Fauzan, metode tersebut menjadi contoh bahwa design thinking dapat diterapkan tidak hanya untuk pengembangan bisnis, tetapi juga dalam kehidupan pribadi.
“Peserta diajak memahami diri mereka sendiri sehingga dapat menentukan tujuan sekaligus solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, Bank Indonesia Sulawesi Tenggara bersama komunitas literasi berharap dapat memperkuat budaya membaca sekaligus membangun generasi muda yang kritis, adaptif, dan mampu melahirkan inovasi untuk menjawab berbagai tantangan di masa depan.
Laporan: Riswan

13 hours ago
6

















































