SULTRAKINI.COM: KENDARI – Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Sulawesi Tenggara mulai menyusun Modul Mepokoaso Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai upaya meningkatkan capaian akademik siswa yang masih berada di bawah rata-rata nasional. Kegiatan tersebut berlangsung di Same Hotel Kendari pada 16-19 Juni 2026.
Kepala BGTK Sultra, Surip Widodo, S.Si., M.M., mengatakan penyusunan modul ini dilatarbelakangi hasil pelaksanaan perdana Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2025 yang menunjukkan capaian Sulawesi Tenggara masih tertinggal dibanding rata-rata nasional.
Menurutnya, TKA kini menjadi salah satu instrumen penting dalam mengukur kualitas pembelajaran di sekolah. Ke depan, hasil TKA juga akan menjadi salah satu pertimbangan untuk studi lanjut maupun jalur prestasi.
“Ukuran kualitas pembelajaran sekarang bukan hanya rapor, tetapi juga nilai Tes Kemampuan Akademik. Nantinya ini bisa menjadi tiket untuk studi lanjut maupun berbagai kebutuhan lainnya,” ujar Surip kepada awak media, Selasa (16/6/2026).
Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil TKA tahun lalu, rata-rata nilai Sulawesi Tenggara masih berada di bawah capaian nasional. Dari 22 mata pelajaran yang diujikan, hanya mata pelajaran Kimia yang berhasil melampaui rata-rata nasional.
“Kalau tidak ada intervensi, tentu akan sulit mengejar ketertinggalan. Selama ini sekolah bergerak sendiri-sendiri dengan berbagai upaya yang belum tentu tepat sasaran,” katanya.
Surip menilai salah satu persoalan yang ditemukan adalah masih banyak guru yang memberikan latihan soal yang belum memenuhi standar Higher Order Thinking Skills (HOTS). Akibatnya, siswa belum terbiasa menghadapi soal yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan analitis.
Melihat kondisi tersebut, BGTK Sultra memilih melakukan intervensi langsung kepada kelompok guru. Langkah itu dinilai lebih efektif dibanding melakukan pembinaan secara individu.
“Kunci keberhasilan siswa ada di guru. Karena itu intervensinya kami lakukan kepada kelompok guru melalui komunitas belajar yang rutin berdiskusi dan memecahkan persoalan pembelajaran di sekolah masing-masing,” jelasnya.
Saat ini terdapat sekitar 79 kelompok guru SMA di Sulawesi Tenggara. Namun pada tahap awal, program difokuskan kepada sekitar 23 kelompok guru yang berada di Kota Kendari dan Kabupaten Bombana.
Surip menjelaskan, kegiatan penyusunan modul yang berlangsung selama empat hari merupakan bagian dari tahapan program yang telah dirancang sebelumnya. Sebelum tahap ini, pihaknya telah melakukan identifikasi kebutuhan guru dan menyusun berbagai bentuk intervensi yang diperlukan.
“Nanti ada bimbingan teknis, workshop di komunitas guru, implementasi di sekolah, sampai pendampingan berkelanjutan. Semua itu membutuhkan panduan, sehingga modul ini menjadi pegangan utama,” ungkapnya.
Modul yang sedang disusun mencakup pembahasan soal HOTS, pembelajaran mendalam atau deep learning, hingga strategi peningkatan kemampuan siswa dalam menghadapi TKA. Seluruh materi tersebut akan menjadi acuan bagi guru saat melakukan pembelajaran di kelas.
Meski pelaksanaan TKA tidak bersifat wajib bagi siswa, Surip menilai keikutsertaan dalam tes tersebut sangat penting. Sebab hasil TKA berpotensi menjadi nilai tambah bagi siswa yang ingin mengikuti jalur prestasi pada jenjang pendidikan berikutnya.
“TKA memang tidak wajib, tetapi akan menjadi semacam golden ticket untuk jalur prestasi. Kalau siswa tidak ikut, tentu mereka kehilangan peluang yang bisa dimanfaatkan di masa depan,” katanya.
Ke depan, BGTK Sultra berharap program ini dapat meningkatkan nilai TKA di Kendari dan Bombana sebagai daerah percontohan. Jika berhasil, model yang sama akan diperluas ke seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara, bahkan berpotensi diadopsi oleh provinsi lain.
Laporan: Andi Mahfud

10 hours ago
6
















































