SULTRAKINI. COM: KENDARI-Menurut salah satu praktisi pariwisata Sulawesi Tenggara (Sultra), selama 100 hari kerja kepemimpinan ASR–Hugua, belum terlihat secara jelas arah pengembangan kepariwisataan. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar: apakah konsep sakral dalam pariwisata, yakni sustainable tourism, masih menjadi prioritas pemerintahan saat ini, atau justru telah dihilangkan dan diganti dengan goals baru.
Ahmad Nizar, salah satu praktisi pariwisata Sultra yang telah belasan tahun berkecimpung dalam dunia kepariwisataan di daerah ini, serta lama menjadi mitra strategis eksternal Pemerintah Provinsi Sultra, mulai dari pergantian gubernur hingga kepala dinas, mulai menunjukkan respons terhadap perjalanan 100 hari kerja kepemimpinan ASR–Hugua sebagai gubernur dan wakil gubernur Sultra periode 2025–2030.
“Ya, saya melihat justru pariwisata Sultra masih adem ayem sampai saat ini. Apakah adem ayem ini sedang bermain tenang, atau justru memang belum ada pergerakan strategis sama sekali. Padahal, kita menunggu sejumlah gebrakan gemilang agar nama Sultra tetap menjadi perbincangan publik nasional jika berbicara tentang pariwisata,” ujar Nizar.
Di sisi lain, Nizar mempertanyakan kelanjutan sejumlah program yang telah digodok beberapa tahun sebelumnya, seperti Seven Wonder Southeast Sulawesi.
“Seven Wonder South East Sulawesi ini digodok luar biasa dengan pelibatan pentahelix kepariwisataan saat itu. Cukup menguras energi, pikiran, bahkan mungkin biaya. Bagaimana konsep pengembangan kepariwisataan Sulawesi Tenggara yang terintegrasi antar kabupaten untuk mendukung Wakatobi. Entah seperti apa keberlanjutannya,” ungkap Nizar.
Sementara itu, masyarakat dan pelaku usaha pariwisata berharap Pemerintah Provinsi Sultra mampu menjaga konsistensi arah kebijakan. Kejelasan roadmap, target jangka pendek, menengah, hingga panjang, serta indikator keberhasilan dinilai penting agar goals besar pariwisata Sultra tidak memudar.
“Pertanyaannya sekarang, apakah sustainable tourism masih menjadi prioritas utama atau akan bergeser mengikuti dinamika politik dan ekonomi? Publik tentu menanti pembuktian pada fase berikutnya, ketika program pariwisata tidak hanya berhenti pada perencanaan, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Nizar juga memflasback sejumlah momentum ketika pariwisata Sultra bergerak masif pada beberapa periode sebelumnya, yang masuk dalam catatan pribadinya, di antaranya:
Event-event nasional masuk ke Sulawesi Tenggara
Pertumbuhan destinasi dan desa wisata yang meningkat setiap tahun
Sertifikasi SDM kepariwisataan tumbuh dengan tren positif
Kolaborasi asosiasi kepariwisataan dengan Pemerintah Sultra yang sangat aktif
Kolaborasi pentahelix dan pemberdayaan komunitas yang sangat terlihat
Investasi kepariwisataan mengalami tren positif, mulai dari hotel, resort, homestay, vila, objek wisata, kafe, dan lainnya
UMKM pendukung kepariwisataan tumbuh secara positif
Promosi domestik hingga internasional berkesinambungan
Database kepariwisataan dan direktori selalu diperbarui setiap tahun
Penguatan kapasitas SDM pariwisata berjalan berkelanjutan hingga di lapangan
Prestasi nasional, mulai dari ajang ADWI, WIA, BBWI, hingga ajang kementerian berbasis pariwisata, turut mengharumkan nama Sultra di tingkat nasional dan menjadi magnet wisatawan
“Apakah adanya efisiensi negara memengaruhi semua pergerakan kepariwisataan sehingga momentum-momentum positif di tahun-tahun sebelumnya sulit diraih atau dilanjutkan? Tentunya tidak. Seharusnya pemerintah provinsi, khususnya Dinas Pariwisata Sultra, mampu mengkreasikan pergerakan yang lebih kreatif tanpa terlalu membebani sistem penganggaran, jika itu menjadi alasan utama,” jelasnya.
Ia menambahkan, Kepala Dinas Pariwisata Sultra harus berpikir lebih terbuka dan inovatif, serta menghadirkan pola sinergitas pentahelix yang lebih solid guna mendukung pariwisata Sultra ke arah yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Namun kembali lagi, apakah pariwisata menjadi prioritas dalam pemerintahan ASR–Hugua? Ini akan menjadi poin penting dalam menentukan masa depan pariwisata Sulawesi Tenggara,” tutup Nizar.

16 hours ago
4















































