SULTRAKINI.COM: KENDARI — Salah satu stan yang mencuri perhatian pada Festival Produk Mahasiswa Wirausaha (PMW) 2025 adalah stan P2WK – Nentu Kone, yang menampilkan berbagai kerajinan tangan khas berbahan dasar serat nentu. Dengan konsep kreatif dan tampilan produk yang estetik, stan ini menjadi salah satu pusat keramaian sejak hari pertama pameran.
Asni, mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik UHO sekaligus perwakilan stan P2WK, menjelaskan bahwa nama “Nentu Kone” memiliki makna dari bahan dasar dan kreativitas yang mereka kembangkan.
“Produk kami namanya Nentu Kone. Nentu itu rajinan tangan dari serat unas, sedangkan Kone-nya kami maknai sebagai kreativitas dan eksplorasi dari olahan nentu,” ujar Asni.
Stan Nentu Kone menampilkan beragam produk, mulai dari bosara, tempat tisu, rak serbaguna, vas bunga, hingga gantungan kunci yang telah dihias dengan ornamen lokal. Semua karya dirancang manual dengan memperhatikan kerapian dan estetika.
Untuk rentang harga, produk mereka dipasarkan cukup terjangkau oleh pengunjung.
“Kisaran harganya mulai dari Rp30.000 sampai Rp350.000,” jelas Asni.
Berbeda dari banyak stan lain yang menampilkan makanan, Nentu Kone lebih fokus pada karya kerajinan tradisional.
“Kami memang fokus di kerajinan nentu. Jadi makanan hanya satu jenis saja, selebihnya kerajinan semua,” tambahnya.
Asni berharap hasil karya timnya turut berperan menjaga kelestarian budaya lokal, terutama di kalangan generasi muda.
“Harapan kami, kerajinan nentu ini tidak hanya dikenal orang-orang tua, tapi juga anak-anak muda. Sekarang tradisi seperti ini mulai luntur. Sebagai anak muda, kami ingin mengangkat lagi supaya lebih dikenal, salah satunya lewat festival seperti ini,” tuturnya.
Melalui partisipasi di Festival PWK 2025, tim Nentu Kone berharap produk kerajinan nentu bisa semakin dikenal dan memiliki nilai ekonomi yang lebih luas.
Selain memamerkan produk, tim Nentu Kone juga aktif memberikan edukasi kepada pengunjung mengenai proses pembuatan kerajinan nentu. Mereka menjelaskan tahapan mulai dari pemilihan bahan, proses pengeringan, teknik anyaman, hingga finishing produk. Upaya ini mendapat respons positif karena banyak pengunjung yang baru mengetahui bahwa serat nentu memiliki nilai seni dan ekonomi yang tinggi jika diolah dengan teknik yang tepat.
Partisipasi Nentu Kone di Festival PMW 2025 juga menjadi momentum bagi tim untuk memperluas jejaring dan peluang kolaborasi. Beberapa pengunjung, termasuk dosen dan mahasiswa sendiri sangat antusias datang melihat produk” yang ada di PWK dalam kewirausahaan ini.
Tim berharap kesempatan ini dapat membuka jalan bagi Nentu Kone untuk berkembang menjadi usaha berkelanjutan yang tidak hanya bernilai jual, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.
Laporan: Andi Mahfud

2 weeks ago
22















































